Tiga anak muda yang lahir karena pembaruan Departemen Luar Negeri dan menjadi bagian kecil dari legacy reformasi yang ditinggalkan Menlu ke-16 Hassan Wirajuda. Tiga nama itu bersinar di antara sederetan figur-figur muda berprestasi lainnya yang tersebar di antara angkatan 12 dan 13 Sekolah Dinas Luar Negeri Indonesia.
Posisi Marty Natalegawa sebagai Menlu RI, Havas Oegroseno sebagai Dirjen HPI dan chief negotiator sejumlah perundingan perbatasan RI dengan negara-negara tetangga, serta Dino Patti Djalal sebagai Juru Bicara Presiden RI merupakan kredensial tersendiri yang menambah khazanah figur kepemimpinan di Pejambon. Mereka ini muncul di antara figur-figur senior yang tetap dipercaya negara mengawal ranah diplomasi Indonesia seperti Dubes Triyono Wibowo (Wakil Menlu RI), Dubes Reslan Izhar Jenie, Dubes Hamzah Thayeb, Dubes Djauhari Oratmangun, Dubes Artauli Tobing, maupun Sekjen Dubes Imron Cotan.
Lalu apa arti ketiganya bagi dunia diplomasi Indonesia untuk kurun waktu relatif panjang ke depan. Satu hal yang penting dijernihkan dahulu adalah kemunculan figur-figur muda dalam dunia diplomasi bukanlah rekayasa pembaruan yang pernah diluncurkan Menlu Hasan.
Reformasi yang dilakukan Menlu Hassan dibantu oleh tiga top operator kunci seperti Dubes Sudjadnan Parnohadiningrat, Dubes Triyono Wibowo, dan Dubes Muhammad Ibnu Said tidak pernah dimaksudkan secara khusus untuk mendongkrak kaum muda di Pejambon. Karena fondasi utama reformasi Departemen Luar Negeri sejatinya bertumpu pada kebutuhan untuk membuat mesin diplomasi Indonesia berjalan lebih efisien dengan sumber daya manusia yang kapabel.
Reformasi Departemen Luar Negeri adalah jawaban langsung terhadap tantangan dunia diplomasi yang semakin berat. Diplomasi bukan lagi instrumen negara yang harus dikelola dengan model lama seperti biasa.
Perubahan yang berlangsung cepat menuntut mesin diplomasi yang tentunya juga mobile dalam akselerasinya. Bukan hanya dalam mempertahankan kepentingan nasional. Tetapi, juga dalam menyesuaikan diri dengan setting global terkini. Pendek kata itulah kebutuhan adaptasi dengan mempertahankan orisinalitas organisasi.
Pidato kebijakan luar negeri Presiden SBY pada tanggal 18 Mei 2005 menjadi gambaran utuh tentang realitas diplomasi saat ini yang sarat dengan tantangan berat. Presiden SBY dalam pidato itu mengilustrasikan diplomasi ibarat berlayar di tengah samudera (navigating the turbulence ocean).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Falsafah kinerja itu idealnya harus mampu diterjemahkan di lapangan dengan baik. Di situlah realisme dan pragmatisme berkecambah. Membawa dan memperjuangkan kepentingan nasional yang kerap kali harus berbenturan dengan kepentingan negara lain. Letak kelihaian dalam konteks ini sangat ditentukan oleh kemampuan menjembatani kepentingan nasional tanpa mencederai komitmen internasional kita.
Dalam terminologi yang sering digunakan Wakil Menlu RI Dubes Triyono Wibowo diplomasi harus mampu mencari dan mengupayakan prescription yang sesuai dengan kepentingan nasional Indonesia. Sehingga, instrumen diplomasi tidak keliru memberikan resep. Entah dengan distinksi policy response atau policy interest.
Meski esensi keduanya tetap sama yakni memperjuangkan kepentingan nasional. Tetapi, aksentuasi dan penekanan resepinya sama sekali berbeda. Konsekuensinya, task and priority organisasi sudah barang tentu juga tidak sama.
Karena itu, kecermatan, kecerdasan, dan kematangan adalah tiga kombinasi krusial yang sangat diperlukan instrumen diplomasi kita untuk memenuhi tuntutan tersebut. Kombinasi kunci itu tidak diperoleh di sekolah, di tempat kursus, atau sentuhan akademis lainnya. Melainkan merupakan inventory tersendiri yang diperoleh selama menekuni karir di medan juang diplomasi. Mungkin itulah bentuk pay-check paling nyata dari kecemerlangan karir lingkaran pemimpin generasi selanjutnya.
Figur diplomat muda seperti Menlu Marty Natalegawa, Havas Oegroseno, maupun Dino Patti Djalal adalah operator-operator yang kemungkinan masih akan bertahan lebih lama dalam dunia diplomasi Indonesia. Melangkah bersama dengan figur-figur lebih senior dan berpengalaman lainnya seperti Dubes Triyono Wibowo, Dubes Edy Pratomo, Dubes Wardhana, Dubes Imron Cotan, dan lain-lain. Pikiran-pikiran mereka tentu akan memberi warna segar pada determinasi dunia diplomasi Indonesia sesuai dengan kedudukan dan kontribusi yang dapat mereka sumbangkan.
Kita berharap diplomasi Indonesia tidak kaku hitam putih dalam melihat dan memetakan persoalan. Indonesia mesti pandai-pandai menempatkan diri sehingga mampu mengambil keuntungan dari setiap perubahan yang terjadi. Figur-figur muda itu harus mampu mempertahankan peculiar features Departemen Luar Negeri sebagai front office hubungan luar negeri dan masalah global Departemen Luar Negeri.
Saya ingat sebuah anekdot tentang diplomat. Katanya, diplomat always knows what he talks about but doesn't always want to talk what he knows while settle the problem created by other diplomats. Itulah mungkin seni menjadi seorang diplomat. Selamat bagi mereka yang menikmatinya.
Muhammad Takdir
Penulis adalah pengamat politik dan pengelola blog www.emteandtheassociates.blogspot.com serta www.polsucks.blogspot.com. Tinggal di Wina Austria.
(msh/msh)











































