Pertanyaan nakal adalah mengapa Menkes lama harus diganti? Bukankah beliau --di mata publik, sangat garang menyanyikan semangat nasionalisme dengan melantangkan anti penindasan Barat dengan membawa isu kesetaraan sharing "virus" antara negara berkembang vs negara maju? Apa saja "dosa-dosa" Siti Fadilah Supari sehingga SBY tidak mempercayakan lagi posisi itu kepadanya? Apakah ia dianggap terlalu "vokal" sehingga menyulitkan posisi presiden SBY di mata internasional, terutama USA?
SBY dikenal santun, "andhap ashor", "njawani", tidak mau menyakiti orang lain. Dengan karakter seperti itu, tentu sulit untuk mengetahui alasan pasti mengapa sejumlah menteri tidak dipakai lagi. Termasuk Siti Fadilah Supari. Hanya dengan memakai kaca mata parameter keberhasilan (key succsess parameters) saja kita dapat beradu argumentasi mengapa menteri ini itu diganti. Tentunya Presiden SBY telah memetakan kinerja Menkes lama selama 5 tahun lalu di buku rapotnya, naik kelas, atau tidak.Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jabatan Menteri di Indonesia masih dianggap "rahmat dan anugrah" dari Tuhan. Malah bagi kebanyakan orang kita jabatan menteri selalu diimpikan, diburu, dicari, diusahakan dengan berbagai cara untuk diduduki, dijabati, dan "didekepi" dan
"digondheli" oleh kita semua. Karakter asli seorang menteri akan muncul bila ia tidak ikhlas menerima kenyataan bahwa ia diganti (apalagi oleh mantan bawahannya) dengan mengomentari yang jelek-jelek tentang penggantinya. Seolah-olah ia sebagai manusia "suci" tanpa kesalahan dan kekurangannya. Seolah hanya dia yang hebat, berhasil, tanpa cacat, ingin memaksakan kehendak bahwa ia layak dipertahankan. Kalau perlu bermanuver bak pesilat agar dapat "jatah" jabatan lain di luar kabinet.
Alangkah elegan dan harum namanya bila ia legowo, ikhlas, membantu penggantinya dengan serah terima yang mulus tanpa embel-embel, tanpa "bernyanyi" di depan wartawan. Ia akan dikenang oleh masyarakat, bangsa, dan negara dengan baik. Tapi, mengapa Menkes diganti?
Indonesia termasuk negara "rawan" kesehatannya. Problematik dunia kesehatan Indonesia mencakup bagaimana agar negara dapat memelihara dan menjaga kesehatan masyarakat dari berbagai macam penyakit endemis dan non endemis, bagaimana masyarakat dapat menikmati pelayanan kesehatan secara adil dan merata dan bagaimanaΒ negara dapat mengoptimalkan kerja sama dengan dunia luar tentang masalah kesehatan yang disepakati secara adil, kesetaraan, dan saling menguntungkan di bidang implementasi program, penelitian kesehatan, pengembangan kesehatan dalam platform Milenium Development Goals (MDG).
Indonesia butuh menkes seorang yang "mengerti" hakekat penelitian, ilmuwan sejati, mengerti persoalan kesehatan, tidak mempolitisir "dunia kesehatan" ke ranah politik, tidak "asbun" yang menyakitkan pihak lain.Β
Pilihan pertama SBY menemukan sosok Prof Nita Djuwita Moeloek sebagai peneliti yang dapat mengembangkan penelitian kesehatan di UI. Namun sayang tes kesehatannya tidak meyakinkan SBY untuk memilih beliau. Pilihan kedua adalah Dr Endang Sedyaningsih. Peneliti tulen yang lahir dan besar di Litbang Depkes RI. Endang dinilai layak dari segi integritas, moral, kepakaran, wawasan keilmiahannya, dan diyakini mampu menjalankan program MDG mendatang. Seharusnya di kalangan Depkes bersyukur bahwa anak kandungnya sendiri yang memimpin Depkes di lima tahun ke depan.Β
Namun, disayangkan oleh kita semua bahwa ada hubungan yang kurang harmonis antara Siti Fadilah dengan Endang Sedyaningsih. Rumor mengatakan bahwa Endang termasuk "orang yang disingkirkan" Siti Fadila sebagai pejabat eselon 2 di Litbang Depkes.Β Β Β Β Β Β Β Β
Siti Fadila menebar "black campaign" lewat media dengan menebar isu Endang "menjual virus" ke pihak asing. Cara-cara ini mencerminkan kurang legowonya Siti Fadilah Supari lengser dari kursi Menkes. Pembunuhan "karakter" Menkes baru ini akan berdampak "kontra produktif" masyarakat yang ikut-ikutan berkomentar negatif menjelang pelantikannya. Black campaign ini diperparah oleh omongan "para pengamat" yang sebenarnya mereka "tidak tahu wilayah yang dikomentarinya" dengan memperparah black campaig yang ada "seolah-olah" apa yang diomongkan Siti Fadilah adalah suatu kebenaran.Β
Mengapa kita tidak bersikap dewasa dengan meyakini bahwa pilihan SBY mengangkat Endang Sedyaningsih adalah pilihan tepat untuk mewujudkan platform presiden membangun kesehatan lima tahun mendatang? Atau bagi kita yang mengaku beragama meyakini bahwa suatu jabatan yang diraih merupakan campur tangan Tuhan yang tidak dapat dihindari?
Sebagai seorang Muslim, tentunya Ibu Siti Fadilah Supari ingat akan hadist Rosulollah yang diriwayatkan Sahabat Muslim: "Yang bernama pendekar bukanlah orang yang banyak menjatuhkan lawan. Tetapi pendekar sejati ialah orang yang sanggup menguasai dirinya ketika sedang marah".Β Β Β
Β
Basuki Dwi Harjanto
Pemerhati masalah kesehatan.Β
Β
(msh/msh)











































