Meski hasil tersebut bukan hasil resmi pemilu presiden-wakil presiden 2009, sembari menunggu hasil resmi dari penyelenggara pemilu, dengan margin yang demikian jauh bolehlah kita mengatakan bahwa pasangan SBY-Boediono adalah presiden-wakil presiden Republik Indonesia 2009-2014 versi lembaga survei.
Fenomena pemilu Presiden 2009-2014 dalam beberapa hal mungkin kurang atraktif bila dibandingkan pemilu sebelumnya. Ini tentu tidak terlepas dari kontestan yang bertarung lebih sedikit dan konfigurasi politik yang cenderung lebih terfragmen jauh sebelum kontestasi pemilu legislatif dimulai. Namun, tetap segala fenomena yang terjadi tetap menarik untuk dikulik secara lebih mendalam.
Dukungan Umat
Fragmentasi tersebut terlihat dari mengerucutnya calon-calon yang akan bersaing pada tidak lebih dari 2-3 pasang calon saja. Parpol-parpol pun dapat dengan cepat menentukan mitra koalisinya masing-masing. Dan, ketika hasil pemilu legislatif telah dikeluarkan semakin terang pula variasi koalisi yang dapat dijalin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Parpol-parpol yang memiliki visi-misi dekat dengan umat Muslim termasuk dalam kloter pertama menyatakan dukungan dan koalisinya dengan Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono. PKB, PAN, PKS, PPP merupakan partai tersebut. Keempat partai itu bersama koalisi 20 partai lainnya mengusung SBY sebagai capres 2009-2014.
Program Pro-Rakyat
Dukungan empat partai yang dekat dengan visi-misi umat tersebut kepada SBY tentu membawa angin segar atas agenda perbaikan kondisi umat yang akhir-akhir ini masih berkutat dengan permasalahan sosial dan ekonomi. Ini tentu tidak terlepas dari agenda pemerintahan di masa beliau yang sedikit banyak melakukan berbagai kebijakan yang pro-rakyat.
Seperti sektor pendidikan dengan program Bantuan Operasional Sekolah; sektor ekonomi masyarakat dengan program PNPM Mandiri, BLT, perundang-undangan ekonomi syariah, dan bantuan benih unggul dan subsidi pupuk untuk mendukung sektor pertanian; hingga sektor kesehatan melalui program Jamkesmas dan Askeskin.
Program-program tersebut pun terlihat bukti keberhasilannya dan beberapa diakui dunia internasional. Seperti program pemberian benih unggul dan subsidi pupuk yang terarah kepada kelompok-kelompok petani telah berhasil mengembalikan jati diri dan kemandirian bangsa dengan mewujudkan swasembada pangan pada 3 sektor yaitu, beras, jagung, dan gula konsumsi.
Kemudian program pemberdayaan ekonomi melalui program BLT dan PNPM Mandiri yang dikombinasi dengan program pada sektor pendidikan dan kesehatan seperti BOS, Jamkesmas, dan Askeskin telah berhasil menekan angka kemiskinan 9,9% pada 2004 menjadi 8,5% di tahun 2008.
Di sektor hukum, meski banyak yang harus dikritisi atas kasus-kasus yang masih menggantung seperti pelanggaran HAM, penuntasan kasus Soeharto, hingga BLBI dan dana non-budgeter Departemen Kelautan dan Perikanan, hingga masih terkatungnya RUU Pengadilan Tipikor. Namun, proses penegakan hukum atas kasus-kasus korupsi tetap menjadi agenda utama pemerintahan. Hal ini terlihat dari terdapat 500 pejabat publik pada setiap tingkatan pusat hingga daerah yang diperiksa dan dibawa ke muka pengadilan untuk diproses secara hukum yang berlaku.
Keberhasilan pemerintah dalam merealisasikan janji program pada awal pemerintahan membuat masyarakat memutuskan untuk memilih kembali Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden untuk masa periode 2009-2014. Masyarakat pun tampaknya belum terlena dengan terminologi "Perubahan" yang diusung capres-cawapres lain. Tapi, lebih tertarik dengan "Lanjutkan (perubahan)".
Ekspektasi Umat
Keberhasilan ini pun pada akhirnya akan membuahkan sebuah tuntutan timbal-balik atas kontribusi umat Indonesia dengan keberhasilan membawa duet SBY-Boediono pada tampuk tertinggi pemerintahan di Indonesia. Jika parpol pengusung mendapatkan iming-iming porsi kabinet dan BUMN. Maka apa yang dapat diberikan kedua pemimpin tersebut atas kontribusi umat Muslim secara khusus dan masyarakat umum secara luas?
Jawabannya cukup sederhana yaitu memformulasikan kebijakan yang mendukung kemajuan umat pada setiap bidang kehidupan. Baik hukum, ekonomi, sosial, politik, hingga budaya. Dukungan penuh umat baik melalui partai politik hingga organisasi keagamaan dan simpul-simpul massa kepada pasangan ini adalah sebuah harapan akan datangnya kondisi di mana keadilan hukum ditegakkan, kemandirian ekonomi disemaikan, serta kesejahteraan sosial masyarakat yang tumbuh berkembang tak kenal musim.
Dan, jika SBY bersama Boediono mampu merealisasikannya tentu mimpi bersama Indonesia mampu menjadi negara dan bangsa yang besar bukan hanya mimpi di siang bolong. Tapi, sebuah harapan yang tak lama lagi dapat kita petik hasilnya. Semoga.
HM Aksa Sanjaya
Jl Gadog I No 131 Cipanas Cianjur
hammas969@yahoo.co.id
081399000033
(msh/msh)











































