Berharap Teror Terakhir di Negeri 1001 Masalah

Berharap Teror Terakhir di Negeri 1001 Masalah

- detikNews
Senin, 20 Jul 2009 14:09 WIB
Berharap Teror Terakhir di Negeri 1001 Masalah
Jakarta - Kubangan  Sama  Sulit Dihindari Namun Tak Bosan untuk Dikunjungi (baca: Berharap Teror Terakhir di Negeri 1001 Masalah).

Berat rasanya telinga dan mata kita menjadi saksi atas tragedi bangsa yang sepertinya sudah menjadi rutinitas tak terelakan. Bahasan kita adalah sekup nasional yang sudah tentu tidak membicarakan internasional.

Lelah rasanya dengan duka nasional yang terus mendera tiada akhir. Bagaimana jika kita harus dipaksa berpikir masalah tambahan di luar masalah internal bangsa ini. Seperti negeri adidaya Amerika Serikat yang justru menginginkan permasalahan internasional terjadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di negeri nun jauh sana semua founding father negeri ini menangis melihat kejadian terakhir yang menimpa. Tiada pelajaran yang diambil dari masalah mereka untuk generasi pemimpin berikutnya.

Tidak banyak harapan penghuni negeri ini. Di antaranya biarkan kami hidup bernegara dengan tenang tanpa manuver tak jelas yang mematahkan bagian jari-jari roda kehidupan berbangsa bernegara.

Seiring perkembangan politik yang bagi mayoritas rakyat tak mau tahu selain kemakmuran dan kesejahteraan --dipaksa mengikuti konspirasi (kejahatan) politik. Catatan jejak rekam bom di Indonesia tercatat dimulai tahun 2000. Dengan tepat kita katakan 1 Agustus 2000.

Tamparan keras bagi intelijen negeri ini khususnya, penghuni negeri 1001 masalah pada umumnya. Tak dinyana itu bukanlah bom terakhir. Pusat perdagangan bursa yang menjadi kebanggaan bangsa adalah target berikut.

Tanggal 13 September 2000 yang notabene selang satu bulan dari peristiwa sebelumnya. Semua mulai terhentak dengan agenda bom berjalan. Lebih dahsyatnya lagi rentetan berikut adalah menghilangkan norma dan budaya yang menjadi identitas negeri. Bom menghujani rumah ibadah di malam yang ditunggu pengikutnya. Tak ada agama yang membenarkan prinsip ini.

Rentang waktu berjalan dentuman tiada berhenti diiringi renggutan nyawa dan rintihan korban yang terus menggema sekencang riuh  bom yang berhasil dengan "misinya". Berkabung adalah hal yang lazim rasanya tanpa diperintahkan untuk negeri ini tanpa perlu komando karena kondisional.

Atas nama segenap yang mendiami negeri  tercinta kami perlu tahu. Apa agenda kemanusiaan berikutnya wahai yang punya kepentingan. Hentikan saat ini juga. Jangan sampai anak kita, orang tua kita, saudara kita, rekan kita menjadi bagian dari drama tanpa babak yang jelas menjadi korban selanjutnya.

Segenap penghuni negeri ramah yang tak ramah lagi. Pada tanggal 17 Juli 2009 menundukkan kepala pertanda duka berkabung sedalam-dalamnya atas tragedi tiada henti untuk JW Marriot Jakarta dan Ritz Carlton Jakarta.

Bukanlah tuntutan jika memang harus dilakukan pembentukan Tim Indenpenden untuk investigasi mencari fakta. Sebagai pengobat dan menjadi aspirin iklim politik yang seperti benang kusut. Untuk semua korban semoga mendapatkan kekuatan yang mendalam dan menjadikan ini adalah bagian untuk perenungan yang lebih baik lagi ke depan.

M Amirudin Opix
Penulis adalah Pelaksana Aliansi Hentikan Kekerasan Bernegara.



(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads