Dari Petani untuk Capres dan Cawapres

Dari Petani untuk Capres dan Cawapres

- detikNews
Rabu, 24 Jun 2009 09:55 WIB
Dari Petani untuk Capres dan Cawapres
Jakarta - Beberapa bulan lagi tepatnya tanggal 8 Juli bangsa Indonesia akan mencari jatidirinya yakni jatidiri bangsa yang "sebenarnya" melalui pemilihan presiden dan wakil presiden. Pemilihan presiden kali ini adalah pemilihan rakyat secara langsung untuk yang keduakalinya dilakukan dengan harapan terciptanya keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Pembelaan rakyat kecil yang identik dengan kemiskinan menjadi sasaran empuk untuk membentuk citra positif dan mendongkrak kepopularitasan mereka. Ini terjadi pada ketiga calon presiden yang maju tahun 2009 ini.

Petani adalah salah satu representasi masyarakat miskin yang terpinggirkan dan jauh dari sentuhan-sentuhan "pembangunan" untuk mengarah ke kemajuan yang berarti dan positif. Hal ini terlihat dari kebijakan-kebijakan pemerintah tentang petani dan pertanian yang hanya menguntungkan segelinter orang saja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oleh karena itu siapa pun menjadi presiden RI ke depan paling tidak ada beberapa hal yang sangat penting untuk dilakukan dengan segera demi kemajuan petani dan pertanian Indonesia. Paling tidak ada lima (5) pekerjaan rumah (PR) yang harus segera di laksanakan. Di antaranya:

1. Peningkatan Subsidi Pupuk dan Obat Pertanian 

Pupuk dan obat pertanian adalah salah satu faktor utama dalam usaha budi daya pertanian karena dengan pupuk dan obat pertanian ini salah satu penentu keberhasilan usaha budi daya pertanian.

Namun, dalam perjalanannya pupuk dan obat pertanian ini kadangkala dipolitisasi oleh orang-orang tertentu sehingga banyak kendala dalam pengadaan pupuk dan obat-obat pertanian. Salah satu contoh adalah tingginya harga pupuk dari harga eceran pemerintah, ketersediaan pupuk saat mulai menanam kosong, dan
harga obat-obat pertanian sangat tinggi. Pengusaha obat-obat pertanian dalam penentuan harga semau-maunya.

Akses untuk mendapatkan pupuk dan obat-obat pertanian dengan harga yang sangat rendah sangat jauh dari harapan. Hal ini terjadi karena kontrol dan ketegasan pemerintah sangat rendah terhadap pengusaha obat-obatan dan pengecer pupuk.

2. Pembangunan Akses Jalan Raya Antar Desa

Banyak kita lihat di daerah pedesaan untuk akses jalan antar desa tidak pernah digubris oleh pemerintah sehingga bagi petani untuk menjual hasil pertanian ke kota sangat tidak memungkinkan. Banyak jalan di desa harus diterjang dengan dengan sulit sekali karena bebatuan. Hal ini menngakibatkan susahnya transportasi untuk mengakses jalan tersebut sehingga penyaluran hasil pertanian terhambat.

Lain halnya dengan di kota di mana jalan-jalan sempit tidak ada jalan tanah. Semuanya sudah diaspal. Ini adanya ketimpangan dan ketidakadilan dalam pembangunan di desa

3. Saluran Irigasi

Saluran irigasi di berbagai daerah tidak tertata dengan sempurna sehingga banyak daerah dan persawahan menunggu dari turunnya hujan. Padahal air sangat melimpah.

Kemudian sistem pengaturan air belum tepat sehingga tidak sedikit dari masyarakat sampai saling membunuh untuk mendapatkan air untuk mengairi sawahnya.

4. Pengurangan Impor Hasil Pertanian

Impor adalah musuh petani yang sangat berat karena petani belum siap untung bersaing dengan produk luar. Baik dari segi kualitas maupun dari segi harga. Oleh karena itu harus dibuat undang-undang yang mewajibkan masyarakat Indonesia harus membeli produk petani.

5. Jaminan Pasar dan Jaminan Harga Hasil Petani

Pasar adalah hasil akhir dari usaha pertanian dan sebagai penentu utama kesejahteraan petani dalam mengelola hasil pertanian. Tetapi, selama ini pemerintah tutup mata terhadap harga hasil pertanian. Hal ini terlihat masih dihargai rendahnya hasil pertanian di pasar.

Hasbullah
jalan Pengadegan Utara I No 29 RT 11/06
Pancoran Jakarta Selatan
hasbule@gmail.com
02191320260

Penulis adalah Mantan Aktifis Senat Mahasiswa Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Anggota IASA (Indonesian Agricultural Sciences Association).


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads