Tarique Rahman dilantik sebagai perdana menteri baru Bangladesh setelah partainya memenangkan pemilihan parlemen dengan hasil meyakinkan. Pria berusia 60 tahun itu merupakan putra dari mantan Perdana Menteri Khaleda Zia dan presiden yang terbunuh, Ziaur Rahman. Ia akan menjabat selama lima tahun.
Presiden Mohammed Shahabuddin memimpin pengambilan sumpah jabatan. Puluhan anggota kabinet dan pejabat pemerintahan baru juga turut dilantik.
"Saya akan dengan setia menjalankan tugas sebagai Perdana Menteri pemerintahan sesuai dengan hukum," ujarnya dalam upacara yang digelar di luar gedung parlemen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan pelantikannya, PM Rahman menggantikan pemerintahan sementara yang dipimpin Muhammad Yunus. Peraih Nobel Perdamaian bertugas mengawasi jalannya pemilu yang berlangsung relatif damai dan diterima luas oleh pemantau internasional.
Sebelumnya, para anggota parlemen yang berjanji setia kepada Bangladesh telah dilantik oleh Ketua Komisi Pemilihan Umum AMM Nasir Uddin. Anggota BNP kemudian memilih Rahman sebagai pemimpin mereka.
Tantangan besar bagi pemerintahan baru
Tantangan awal terbesar pemerintahan Rahman meliputi pemulihan stabilitas politik, membangun kembali kepercayaan investor, serta menghidupkan kembali industri-industri utama seperti sektor garmen setelah gejolak berkepanjangan akibat pemberontakan yang dipimpin Generasi Z yang menggulingkan pemerintahan Sheikh Hasina pada tahun 2024.
Aliansi yang dipimpin BNP memenangkan 212 kursi dari total 350 kursi parlemen. Sementara itu, koalisi 11 partai yang dipimpin oleh partai Islam terbesar di negara itu, Jamaat-e-Islami, meraih 77 kursi dan akan menjadi oposisi.
"Kemenangan ini milik Bangladesh, milik demokrasi," ujar Rahman dalam pidato kemenangannya pada hari Sabtu (14/02). "Kemenangan ini milik rakyat yang bercita-cita dan telah berkorban demi demokrasi."
Ia juga menyerukan agar semua pihak tetap bersatu di tengah polarisasi politik yang tajam selama bertahun-tahun.
"Kita akan memulai perjalanan dalam situasi ekonomi yang rapuh akibat rezim otoriter sebelumnya, lembaga konstitusional dan hukum yang melemah, serta kondisi keamanan dan ketertiban yang memburuk," ujarnya.
Pemimpin Jamaat, Shafiqur Rahman, 67 tahun, mengatakan partainya akan menjadi "oposisi yang waspada, berprinsip, dan damai."
Saingan utama Rahman, Bangladesh Awami League, yang dipimpin oleh Hasina, dilarang mengikuti pemilu. Dari pengasingannya di India, Hasina menyatakan pemilu tersebut tidak adil bagi partainya. Pengadilan di Bangladesh menjatuhkan hukuman mati kepadanya atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait ratusan kematian dalam pemberontakan Generasi Z.
Pemilihan Umum di Bangladesh secara langsung memilih 300 anggota parlemen, sementara 50 kursi lainnya diperuntukkan bagi perempuan dan dibagikan secara proporsional.
Siapa Tarique Rahman?
Rahman adalah putra sulung mantan Perdana Menteri Khaleda Zia dan mantan Presiden Ziaur Rahman, pendiri BNP.
Ziaur Rahman dibunuh selama kudeta militer pada tahun 1981. Khaleda Zia memasuki dunia politik setelah kematian suaminya dan pertama kali memegang kekuasaan pada tahun 1991.
Rahman telah menjabat sebagai ketua sementara partai sejak ibunya dipenjara pada tahun 2018.
Rahman kembali ke Bangladesh pada bulan Desember setelah lebih dari 17 tahun dalam pengasingan sukarela menyusul protes massal pada tahun 2024 yang menggulingkan Hasina.
Rahman pindah ke London pada tahun 2008 untuk perawatan medis dan tetap tinggal di sana sambil menghadapi beberapa kasus kriminal di negaranya.
Ia dihukum secara in absentia atas tuduhan yang termasuk kasus yang terkait dengan dugaan rencana pembunuhan Hasina.
Putusan tersebut dibatalkan setelah Hasina digulingkan dari kekuasaan pada tahun 2024, sehingga menghilangkan hambatan hukum untuk kepulangannya.
"Membuat banyak pihak gelisah"
Rahman tumbuh di orbit politik sang ibu, Khaleda Zia, yang kemudian menjadi perdana menteri perempuan pertama di Bangladesh. Ia bergantian berkuasa dengan Hasina dalam duel panjang dan getir.
"Di daerah pemilihannya, saya sering datang dan berkampanye," ujar Rahman. "Dari situlah, perlahan-lahan, saya mulai terlibat dalam politik."
Namun kariernya tak pernah sepi bayang-bayang. Tuduhan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan membuntutinya. Kabel diplomatik Kedutaan Besar AS pada 2006 menyebut ia "mengilhami sedikit orang, tetapi membuat banyak pihak gelisah". Kabel lain melabelinya sebagai "simbol pemerintahan kleptokratis dan politik kekerasan", bahkan menudingnya "luar biasa korup".
Ditangkap atas tuduhan korupsi pada 2007, Rahman mengaku mengalami penyiksaan dalam tahanan. Setahun kemudian ia hengkang ke London, menghadapi sejumlah perkara secara in absentia. Semua dakwaan ia bantah, menyebutnya bermotif politik.
Kepada AFP, ia juga menyampaikan permintaan maaf. "Jika ada kesalahan yang tidak diinginkan, kami meminta maaf," katanya.
Ia mengakui tugas di depan mata "sangat besar": membangun kembali negeri yang, menurutnya, telah "dihancurkan" pemerintahan sebelumnya.
Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Rizki Nugraha
Lihat juga Video PBB soal Vonis Mati Eks PM Hasina: Kami Menyesalkan











































