Ini tentu jauh dari perolehan tahun 2004, di mana PAN meraih 7% suara dan masih mengungguli PKS dengan kursi DPR yang lebih banyak. Mengapa ini terjadi? Bukankah PAN ikut di pemerintahan sekarang dan seharusnya dapat mengklaim keberhasilan pemerintah sebagai keberhasilan partainya juga?
Menilik sejarah lahirnya PAN, sesungguhnya partai ini dapat menjadi partai alternatif yang memuaskan dahaga kaum intelek muda akan partai yang cerdas, kritis, sportif, dan bersemangat untuk perubahan Indonesia yang lebih baik. PAN merupakan partai yang kelahirannya dibidani oleh tokoh-tokoh intelektual, kaum muda, tokoh LSM dan kelas menengah yang cukup disegani pada awal reformasi. Apalagi ketika dipimpin oleh Amien Rais, image partai sebagai partai 'intelek' dan kritis sangat kuat melekat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi, walaupun SB sudah menghabiskan dana hingga ratusan miliar untuk mengiklankan dirinya sendiri baik di media cetak, elektronik dan banner hingga di pelosok desa seantero nusantara, tidak akan mampu mendongkrak image dirinya maupun PAN sendiri. Malah semakin menjerumuskan PAN, karena iklan tersebut tidak cukup cerdas dalam mengkomunikasikan pesan kepada masyarakat. Bandingkan dengan iklan Prabowo dengan Gerindra-nya yang cukup cerdas, sehingga riset terakhir juga menunjukan bahwa Gerindra sudah menyalip PAN dengan perolehan suara yang terus naik.
Sementara dengan partai papan tengah lainnya, seperti PKS, PAN juga sudah jauh ketinggalan, karena PKS merupakan partai kader yang kalkulasi suaranya berdasarkan kerja keras kader militan PKS yang cukup kuat di lapangan. PKS juga partai yang berusaha untuk tetap bersih dan peduli, sehingga image itu masih kuat melekat pada PKS. Paling yang bisa diimbangkan dengan PAN adalah PPP, yang juga diprediksikan akan mengalami penurunan suara yang cukup signifikan, karena kasus korupsi kader PPP yang sedang ditangani oleh KPK.
Selain itu, kegemaran SB pada artis sebagai caleg juga telah menjadikan PAN diplesetkan menjadi Partai Artis Nasional. Sehingga sekali lagi, kesan intelek dan kritis semakin pupus dari PAN. Pemimpin parpol mencerminkan watak parpol. Dan PAN semakin terpinggirkan, ketika basis massa PAN yang loyal, yaitu sebagian anggota Muhammadyah juga mendirikan partai sendiri, yaitu Partai Matahari Bangsa, yang didukung oleh tokoh Muhammadiyah, Din Syamsudin. Sayang, memang sebuah partai harapan yang berlambangkan matahari terang ini semakin tenggelam.
(asy/asy)











































