Kebangkrutan Kapitalisme

Kebangkrutan Kapitalisme

- detikNews
Jumat, 07 Nov 2008 09:51 WIB
Kebangkrutan Kapitalisme
Jakarta - Indonesia dan negara-negara lain di belahan dunia ini sudah merasakan betapa kejamnya ekonomi Kapitalis dan sudah saatnya semua negara di dunia beralih ke Ekonomi Syariah. Pergerakan harga-harga Efek di pasar keuangan global, baik bersifat ekuitas, surat hutang, maupun istrumen derivatifnya banyak dipengaruhi oleh gejolak di pasar keuangan yang dipicu oleh krisis subprime mortgage dalam dua tahun terakhir.

Subprime mortgage merupakan kredit pemilikan rumah (KPR) yang berisiko tinggi karena tidak disertai dengan rasio kolateral yang cukup dan kelayakan kredibilitas debiturnya --yang diberikan oleh bank dengan jaminan dokumen kepemilikan atas rumah tersebut atau dihipotikkan.

Berkaitan dengan proses hal di atas ada satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa masyarakat AS memang dikenal gemar berhutang. Mulai dari pembiayaan untuk pemilikan rumah, pengeluaran rumah tangga, maupun pengeluaran konsumtif lainnya seperti pembelanjaan menggunakan kartu kredit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belanja konsumen merupakan bagian terbesar yang menopang perekonomian AS dengan PDB sekitar US$ 14 triliun. Setali tiga uang dengan pemerintah AS yang juga gemar belanja untuk membiayai perangnya melawan terorisme dan anggaran belanja rutin lainnya yang juga maha besar.

Sementara setiap tahun neraca transaksi berjalannya selalu defisit ratusan miliar US$ dan dengan kecenderungan peningkatan defisit pada tahun-tahun berikutnya. Berdasarkan data dari Reuters yang dikutip oleh Kompas (20/10), untuk tahun 2007, neraca transaksi berjalan AS defisit sekitar US$ 731,8 miliar.

Ketika terjadi perlambatan kegiatan ekonomi yang mengarah ke jurang resesi banyak warga AS yang kehilangan pekerjaan. Atau setidaknya terjadi penurunan atas pendapatan bulanannya sehingga tidak mampu membayar cicilan kredit perumahan yang diambilnya. Karena memang sebagian besar debitur dari kredit subprime tersebut tidak memiliki kelayakan bayar.

Maka terjadilah kemacetan massal kredit di sektor perumahan AS sejak pertengahan tahun lalu, yang menyebabkan kolapsnya perusahaan-perusahaan keuangan pemberi KPR. Di antaranya yang terbesar adalah Fennie Mae dan Freddie Mac. Kedua perusahaan tersebut berdasarkan data dari Bloomberg mengelola hampir setengah dari pinjaman perumahan di AS senilai US$ 12 triliun diambil alih oleh Departemen Keuangan AS.

Subprime mortgage yang terjadi menjadi aset perusahaan pemberi KPR macam Fannie Mae dan Freddie Mac berupa hak tagih dan jaminan atas kredit yang diberikan kepada debitur. Kemudian digadaikan lagi kepada perbankan investasi ternama seperti Lehman Brothers dan perbankan investasi lainnya yang kemudian mengemasnya dalam bentuk CODs (Collaterized Debt Obligations), yaitu efek hutang derivatif yang merupakan hasil sekuritisasi berbasis agunan kredit subprime tersebut.

Semakin tingginya kredit macet di sektor perumahan menyebabkan jatuhnya nilai pasar CODs tersebut. Akibatnya, harga pasar saham, obligasi, dan surat hutang lainnya yang diterbitkan oleh bank-bank investasi ternama AS tersebut ikut terjungkal dan diperdagangkan dengan harga super diskon.

Emisi sekuritas kredit yang baru pun menjadi tidak laku sehingga bank-bank investasi tersebut kesulitan likuiditas sehingga mengalami kebangkrutan. Salah satunya Lehman Brothers, bank investasi yang sudah berumur satu setengah abad (150 tahun) dan salah satu pendiri bursa Wall Street. Bank-bank investasi terkemuka lainnya yang memiliki exposure besar di Efek derivatif tersebut ikutan goyah, seperti JP Morgan Chase&Co, Merrill Lynch, dan Citigroup Inc.

Kondisi ini kemudian menimbulkan kepanikan para pemodal saham, pemegang obligasi, pembeli sekuritas CDOs, dan efek derivatif lainnya. Bahkan merembet ke para deposan-deposan bank-bank komersial di AS. Maka terjadilah kekacauan (turmoil) di pasar keuangan di AS.

Bursa Wall Street jatuh ke dalam level terendahnya dalam 5 tahun terakhir. Penurunan tajam nilai pasar surat hutang dan efek derivatif lain, serta terjadinya rush terhadap perbankan AS. Setidaknya 15 bank mengalami kebangkrutan sepanjang tahun 2008 dan yang terbesar adalah Washington Mutual Bank dengan nilai aset sekitar US$ 307 miliar.

Anehnya, negara ketiga, seperti kita, meskipun jauh dari pusat krisis tetapi ikut terkena dampaknya. Indeks harga saham gabungan (IHSG) turun hingga 10%. Dua kali lipat penurunan di Amerika dan Eropa.

Penurunan IHSG memicu kepanikan di pasar uang sehingga banyak dana yang dilarikan ke luar negeri. Kebutuhan dolar yang memang relatif tinggi akibat meningkatnya impor ditengarai membuat rupiah semakin tertekan sebagaimana dikutip dari Jakarta Post (29/10) berada di Rp10,900 bahkan sehari sebelumnya di posisi Rp 11,743.

Fakta di Balik US$700 Miliar
Apa pun pandangan anda inilah gambaran seberapa besarkah $700 miliar --suatu angka yang merujuk pada usaha penyelamatan (bail out) Amerika pada Wall Street --jika dibandingkan dengan jumlah untuk pengeluaran untuk keperluan lainnya.

Pada tahun fiskal 2009, NASA akan meluncurkan beberapa misinya ke luar angkasa dan membayar ratusan orang yang mengoperasikan sebuah teleskop luar angkasa dan dan bahkan ratusan robot ke Mars dan melakukan aktivitas kehumasan dan departemen media yang membuat iri banyak perusahaan-perusahaan besar lain. Anggaran untuk badan itu adalah $17.6 miliar, atau 2.5 persen dari jumlah yang dibutuhkan untuk usaha penyelamatan (bail out) itu.

Yayasan Ilmu Pengetahuan Nasional - The National Science Foundation (NSF) --memiliki anggaran tahunan sebesar $6.06 miliar dolar untuk mendukung riset dan pendidikan dalam bidang astronomi, kimia, sains material, komputer, teknik, pengetahuan tentang bumi, nanoscience, dan fisika (di antaranya) pada lebih dari 1,900 universitas dan institusi pendidikan di seluruh Amerika.

Anda harus memiliki inisiatif yang lebih besar lagi. Seperti perang dan pertahanan. Untuk mendapatkan sesuatu yang melebihi dan mendekati angka bail out tersebut. Sejak tahun 2003 hingga akhir tahun fiskal 2009 Konggres telah menyetujui $ 606 miliar untuk operasi-operasi militer dan aktivitas-aktivitas lainnya yang berkaitan dengan perang di Irak. Itu menurut Kantor Anggaran Konggres - Congressional Budget Office (CBO). Anggaran militer keseluruhan untuk tahun fiskal 2008 adalah $481.4 miliar.

Program keamanan sosial tahunan membutuhkan $608 miliar. Karena itu banyak analis yang khawatir akan bail out itu karena biayanya tentu saja harus dibayar oleh para pembayar pajak. Berdasarkan Biro Sensus Amerika diperkirakan bahwa penduduk Amerika saat ini adalah sekitar 305 juta jiwa. Tiap orang harus membayar $2,300 untuk bisa mendanani $700,000,000,00.

Jika tiap orang Amerika (termasuk anak-anak) membayar satu dolar per hari akan dibutuhkan lebih dari enam tahun untuk membayar uang sejumlah itu dengan penuh. Namun, seseorang mungkin bisa berargumen bahwa $700 miliar hanya merupakan percikan kecil dari seember air hutang nasional, yang sudah mencapai lebih dari $9 triliun (yang berarti bahwa anda sudah berutang sebesar $31,642 tiap orangnya).

Bahkan seorang pemain baseball Amerika dari New York, Alex Rodriguez tidak memiliki angka nol sebanyak itu. Saat ini, sebagai pemain papan atas liga baseball dengan bayaran paling tinggi, Rodriguez mendapat $28 juta setahun, yang berarti dibutuhkan 25,000 kali lipat pendapatannya untuk memperoleh $700 miliar

Tidak ada seorang pun yang cukup kaya untuk membayar $700 miliar oleh dirinya sendiri. Sebenarnya 400 daftar orang terkaya di dunia versi majalah Forbes baru saja keluar. Akan dibutuhkan semua yang dimiliki oleh 400 orang itu jika digabungkan --yang akan mencapai angka $ 1.57 triliun, untuk bisa memperoleh angka ini (sumber LiveScience.com).

Di akhir tulisan ini saya akan mencoba menanyakan kepada hati nurani seluruh manusia yang merasa dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Apakah kebangkrutan sistem keuangan Kapitalis sekarang ini dan berbagai krisis masa lalu belum bisa menjadi pelajaran? Krisis kali ini diduga akan lebih dahsyat dari depresi ekonomi 1930-an. Sistem kapitalisme dikenal dengan pengalaman krisis demi krisis dan terbukti menimbulkan kerugian rakyat.

Apakah hal ini belum cukup menjadi momentum pemicu bagi pemerintah kita yang katanya demokrasi (memerhatikan kepentingan mayoritas) mengubah sistem ekonomi dari yang volatile, zalim, dan merugikan itu ke sistem yang lebih sustainable. Seperti yang terbukti dimiliki oleh sistem keuangan syariah.

Hendriyadi
Desa Salemba Kecamatan Ujung Loe
Bulukumba  Sulawesi Selatan
pelukislangit@gmail.com
085255904934

Kelas Unggulan Akuntansi 2007 FE Universitas Trisakti.


(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads