adalah seolah-olah. Bukan sebenarnya. Yang nampak tidak sama dengan yang
sesungguhnya terjadi.
Negeri ini seolah-olah sangat kaya. Hasil buminya luar biasa. Gemah ripah loh
jinawi. Tata tentrem kerta raharja.
Tapi, ingat. Itu cuma seolah-olah. Rakyat tetap sengsara. Sekolah gratis cuma
SPP-nya. Berobat gratis banyak syaratnya. Antri apa-apa di mana-mana. Angkutan
rakyat bukan main tak layaknya. Kriminalitas betapa kreatifnya. Hukum dibuat tak
berdaya. Rakyat menangis pejabat tamasya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
sangat seolah-olah. Seolah-olah berkarya. Seolah-olah demokratis. Seolah-olah
peduli. Seolah-olah nasionalis. Seolah-olah reformis.
Seolah-olah amanah. Seolah-olah adil. Seolah-olah agamis. Seolah-olah sejahtera.
Dan, berbagai seolah-olah lainnya.
Namun, sesungguhnya itu hanya seolah-olah. Partai-partai itu didirikan hanya
untuk kepentingan segelintir orang. Keluarga dan komunitas tertentu saja.
Tengoklah nama-nama partai itu. Partai Golongan Kaya Raya, Partai Daulat Ibu
Pendiam, Partai Kiai Berantem, Partai Artis Nampang, Partai Pengikut Pemerintah,
Partai Hati Nurani Jenderal, Partai Kayaknya Peduli Bangsa, Partai Gerakan Ikut
Jenderal, dan banyak partai-partai sejenis lainnya.
(Aneh kan? Ya, namanya juga negeri seolah-olah).
Suatu ketika negeri seolah-olah geger. Seorang jaksa tertangkap basah menerima
suap dari seorang pengusaha. Semua jari telunjuk mengarah ke jidat mereka
berdua. Penuh amarah dan caci maki.
Seolah-olah para pemilik telunjuk itu bersih. Bebas dari korupsi. Seolah-olah
hanya mereka berdua yang bermental bobrok. Padahal sesungguhnya, diam-diam, dua
orang itu adalah representasi dari komunitasnya masing-masing.
Sang jaksa dengan sempurna menggambarkan komunitas birokrat korup di negeri
seolah-olah. Para pejabat pemerintah pusat dan daerah, anggota DPR/D, penegak
hukum, petugas pajak, pegawai negeri. Mereka yang seharusnya melayani masyarakat
tapi lebih sering bikin susah.
Komunitas birokrat dengan kekuasaan yang besar dan gaji yang tak pernah cukup.
Satu-satunya perbedaan antara sang jaksa dengan komunitas yang diwakilinya
hanyalah nasib. Nasib sial berarti ditangkap. Nasib mujur berarti aman (dari
jerat hukum manusia, bukan hukum Tuhan).
Sang pengusaha yang menyuap jaksa hanyalah representasi dari kalangan swasta.
Kalangan yang menginginkan untung besar tak peduli merugikan siapa pun, tak
peduli dengan cara apa pun atau menyuap siapa pun.
(Ah, jangan-jangan memang hanya ada dua model manusia di republik seolah-olah.
Jenis sang jaksa dan jenis sang pengusaha itu).
Begitulah negeri seolah-olah. Selamat datang di negeri ini kawan. Cerita ini
juga seolah-olah nyata. Padahal mungkin hanya fiksi belaka. Jika seolah-olah ada
kesamaan, nama, karakter, tempat, kondisi dan sebagainya, janganlah marah. Itu
seolah-olah hanya kebetulan saja.
Hisyam Haikal
Jl dr Wahidin 1 Jakarta
hisyam_haikal@yahoo.com
0817103407
(msh/msh)











































