"Ini survei yang dilakukan 1 sampai 3 Juli kemarin untuk mengetahui elektabilitas capres," kata Senior Partner Strategic Indonesia, Soenaryo, di Initiland Tower, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (6/7/2009).
Survei tersebut dilakukan di 15 provinsi, 51 daerah pemilihan (dapil) danĀ 135 kab/kota. Jumlah responden mencapai 18.439 orang. Sementara metode yang dipilih adalah accidental cluster sampling.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Naik-turunnya ini banyak dipengaruhi oleh program yang ditampilkan dan diajukan capres-cawapres. Debat capres-cawapres, kampanye terbuka tidak terlampau signifikan mempengaruhi pilihan, termasuk black campaign," imbuh Soenaryo.
"Apapun yang dikatakan Andi Mallarangeng maupun Ruhut, pemilih bisa memilah. Itu kan Andi, itu kan Ruhut bukan SBY," imbuh Soenaryo.
Ketika ditanya mengapa survei hanya dilakukan di 15 provinsi dan bukan di seluruh provinsi, Soenaryo mengatakan 15 provinsi itu dipilih sudah sesuai dengan tingkat pertarungan dan keterwakilan. "Tingkat pertarungan sudah terwakili di 15 provinsi itu," kata dia.
Saat ditanya apakah survei didanai oleh capres tertentu, Soenaryo membantah. "Survei ini kami biayai sendiri," ujar Soenaryo.
(Ari/asy)











































