Presiden Prabowo telah mengangkat Jenderal Suyudi Ario Seto, menjadi Kapolri, menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. DPR telah menindaklanjuti dengan memberikan persetujuannya. Menariknya, pergantian kepemimpinan kepolisian negara dilangsungkan sepaket, yakni Kapolri dan Wakapolri.
Wakapolri dijabat oleh Komjen Wahyu Hadiningrat. Komjen Wahyu, akpol angkatan 1992, dua tingkat di atas Jenderal Suyudi. Kombinasi yang saling melengkapi. Mungkin Presiden Prabowo ingin mengangkat Kapolri dengan kepemimpinan muda, yang menyegarkan budaya baru di kepolisian, tetapi juga masih didampingi sosok wakil yang secara angkatan di atasnya, sehingga dibutuhkan peran kepenasehatan, dan dukungan solid dari kalangan senior.
Harapan presiden sebagai kepala negara untuk menyegarkan organisasi kepolisian dijawab cepat oleh Jenderal Suyudi. Prosesnya bahkan kurang dari 24 jam sejak pengangkatan beliau menjadi Kapolri. Jenderal Suyudi merotasi 88 perwira tinggi, di antaranya 19 kapolda. Sebagian di antaranya para perwira muda seangkatan atau setingkat di atasnya. Artinya, rising star-nya Jenderal Suyudi juga ikut mengorbitkan bintang bintang muda lainnya di jajaran kepolisian.
Satu tahapan telah dilalui Jenderal Suyudi, merotasi jajaran strategis untuk mendapatkan tim kerja yang solid. Namun ini baru tahap awal, sebab masih setumpuk agenda menanti, mulai pembenahan tata kelola, struktural, dan kultural, yang kalau diterjemahkan menjadi program aksi mungkin akan berjilid jilid naskah.
Membaca Isu Strategi
Mencermati penyertaan Jenderal Suyudi saat fit and proper di Komisi III DPR, ada dua pernyataan beliau yang sangat menarik bagi saya, pertama soal pernyataan beliau "...penyelidikan atau penyidikan, pelayanan, kepastian perkara, integritas dan penggunaan kewenangan menjadi titik yang harus terus dibenahi. Bagi korban, laporan polisi adalah harapan negara hadir, pelapor berhak mengetahui perkembangan yang dapat dibuka tanpa harus mencari tahu melalui akses informal kepada penyidik".
Pernyataan ini menegaskan keinginan kuat untuk melakukan pembenahan tata kelola pelayanan, dan menghadirkan pelayanan kepolisian sebagai perlindungan rakyat melalui penegakan hukum. Tugas ini tidak semudah membalik tangan. Sudah menjadi rahasia umum, pelayanan penegakan hukum dari kepolisian adalah sebuah kemewahan bagi rakyat kebanyakan. Karena itu, timbullah pernyataan no viral no justice.
Tidak ada kemewahan waktu bagi Jenderal Suyudi, target membangun budaya baru di kepolisian amat mendesak. Meskipun ini tidak bisa dikerjakan dalam jangka pendek, namun perlu ada program quick win. Jenderal Suyudi perlu mengeskalasi perluasan kelembagaan pengawas kepolisian. Secara internal perlu revitalisasi irwasum dan propam, dan secara eksternal perlu melibatkan Kompolnas untuk fokus pada pengawasan perwira tinggi, serta masyarakat luas, termasuk komunitas kepolisian di daerah terhadap satuan satuan kepolisian kewilayahan terkecil seperti polsek dan polres.
Program pengawasan ini untuk menegakkan disiplin, untuk memberi efek deteran diinternal kepolisian, sekaligus memaksa kepala kepala satuan wilayah meningkatkan kualitas dan kapasitas pelayanan. Penegakan disiplin polisi menjadi titik kuncinya.
Kedua, pernyataan Jenderal Suyudi soal "..polisi tidak kehilangan wibawa karena ramah, tetapi kewibawaan modern lahir dari kompetisi, pengendalian diri, integritas dan ketegasan yang proporsional. Polisi bersama masyarakat bukan sekedar jargon, yang bukan menggantikan grand strategi, renstra, promoter, presisi, dan polmas, ia adalah doktrin kepemimpinan yang menyatukan".
Penegasan ini menyiratkan harapan akan polisi semakin profesional, sekaligus menyatukan polisi dengan rakyat. Kita tahu rasio polisi terhadap rakyat sangat kecil, sementara tanggungjawab polisi sangat besar. Pilihan untuk menyatukan polisi dengan rakyat akan terbangun apabila kepercayaan rakyat tumbuh kuat. Kepercayaan tumbuh jika polisi berhasil membuktikan dirinya berubah lebih baik, baik dari sisi pelayanan, integritas, dan pengendalian diri.
Agenda ini bisa dimulai dari keteladanan sikap dari para pemimpin polisi, termasuk dari Jenderal Suyudi sendiri, dapat membangun role model kepemimpinan, bersama para pejabat utama mabes polri.
Jenderal Suyudi adalah harapan baru, momentum ada di tangannya. Saatnya menggunakan momentum ini dengan sebaik baiknya. Seperti kata beliau di DPR, menjadi kepala kepolisian bukanlah puncak karir, tetapi puncak tanggungjawab. Selamat bertugas Jenderal Suyudi.
Said Abdullah, Ketua DPP PDI Perjuangan
Lihat juga Video 'Momen Jenderal Sigit Serahkan Panji Tribrata Polri ke Jenderal Suyudi':
(prf/ega)