Abu Vulkanik Anak Krakatau dan Jakarta Incident
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Abu Vulkanik Anak Krakatau dan Jakarta Incident

Senin, 07 Sep 2026 09:39 WIB
Sudrajat
Wartawan detikcom.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Ilustrasi gunung anak Krakatau (Dok Istimewa)
Ilustrasi gunung anak Krakatau (Dok Istimewa)
Jakarta -

Reuters melaporkan lebih dari 1.500 penerbangan terdampak dan sekitar 170 ribu penumpang harus menghadapi gangguan perjalanan udara setelah erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu, 6 September 2026. Delapan bandara menghentikan sementara operasi penerbangan akibat sebaran abu vulkanik. Di Bandara Soekarno-Hatta saja, 964 penerbangan terdampak.

Bagi sebagian orang, pembatalan penerbangan mungkin terasa seperti gangguan perjalanan yang menjengkelkan. Tetapi bagi dunia penerbangan, abu vulkanik bukan sekadar debu yang mengotori kaca pesawat. Ia bisa menjadi ancaman serius bagi mesin jet. Itulah sebabnya, ketika abu vulkanik terdeteksi di jalur penerbangan, keputusan untuk membatalkan, mengalihkan, atau menunda penerbangan bukanlah keputusan berlebihan. Keselamatan penerbangan memang menuntut kehati-hatian seperti itu.

Ada sebuah kisah yang menjelaskan mengapa dunia penerbangan begitu waspada terhadap abu vulkanik. Kisah itu terjadi pada 24 Juni 1982. Kala itu, dikutip dari BBC (24/6/2026), British Airways Flight 9 menjalani penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Perth, Australia. Pesawat Boeing 747-200 tersebut dikendalikan Kapten Eric Moody dengan membawa 263 orang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penerbangan berlangsung normal sampai pesawat memasuki wilayah sekitar Jawa. Tidak ada awan badai besar. Tidak ada peringatan bahwa pesawat sedang menuju sesuatu yang berbahaya. Lalu, satu demi satu, empat mesin pesawat mati. Penyebabnya awan abu vulkanik dari Gunung Galunggung yang sedang meletus di Tasik, Jawa Barat.

Di dalam kokpit, pada ketinggian sekitar 37 ribu kaki, Kapten Moody dan awak pesawat harus mengambil keputusan dalam hitungan menit. Mereka menurunkan ketinggian untuk keluar dari lapisan abu. Seiring dengan itu, Kapten Moody menyampaikan pengumuman setenang mungkin. "Ladies and gentlemen, this is the captain speaking. We have a small problem."

Ia menyebutnya 'small problem'. Padahal selama sekitar 13 menit, British Airways Flight 9 melayang di udara dengan keempat mesinnya mati.

Pesawat kemudian berhasil keluar dari awan abu. Beberapa mesin dapat dihidupkan kembali. Namun perjuangan belum selesai. Pesawat harus mencari bandara untuk mendarat. Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, menjadi pilihan. Pesawat mendarat mulus, semua penumpang selamat.

Bagi 263 penumpang British Airways Flight 9, Eric Moody adalah orang yang membawa mereka kembali ke daratan. Bagi dunia penerbangan, ia kemudian dikenang sebagai pilot yang menghadapi salah satu keadaan darurat paling luar biasa dalam sejarah penerbangan.

Tetapi bagi keluarganya, kisah itu terasa jauh lebih sederhana. "Bagi saya, dia hanyalah ayah. Tetapi bagi mereka, dia adalah seorang pahlawan...," kata Sarah Myers, putri Eric.

Kapten Eric Moody meninggal dunia pada 18 Maret 2024 dalam usia 82 tahun. Ia lahir 7 Juni 1941 dan pensiun dari British Airways pada 1996 setelah lebih dari 17 ribu jam terbang.

Dunia penerbangan kemudian mengenal peristiwa tersebut sebagai 'Jakarta Incident'. Pengalaman itu mengubah cara dunia penerbangan memahami bahaya abu vulkanik.

Dalam kondisi tertentu, abu vulkanik bukan hitam pekat. Ia dapat menyerupai awan biasa atau bahkan tidak terlihat oleh mata awak pesawat.

Namun, di dalam mesin jet, partikel abu yang sangat halus dapat meleleh karena suhu tinggi di ruang pembakaran. Material tersebut kemudian dapat menempel pada komponen mesin dan mengganggu aliran udara, sehingga mesin kehilangan daya. Itulah pelajaran yang ditinggalkan Galunggung pada dunia penerbangan.

Empat puluh empat tahun kemudian, ketika abu Anak Krakatau membuat lebih dari 1.500 penerbangan terdampak dan sekitar 170 ribu penumpang terganggu perjalanannya, keputusan untuk menghentikan sementara operasi penerbangan bukan semata-mata soal keterlambatan. Ada sejarah panjang di balik kewaspadaan tersebut.

Sudrajat. Wartawan detikcom.

Lihat juga Video: Jakarta PJJ Akibat Abu Gunung Anak Krakatau, Jalanan Lengang!

(rdp/imk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini