Pada 22 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia (URI) di Istana Negara. Pemerintah menempatkan URI dalam agenda penguatan sumber daya manusia dan penyiapan pemimpin Indonesia masa depan. Nama itu menarik bukan hanya karena sebuah universitas baru lahir, melainkan juga karena kata "Republik" kembali ditempatkan di belakang kata "universitas". Apakah gagasan Universitas Republik memang baru hadir pada 2026?
Secara kelembagaan, URI memang baru. Namun, gagasan yang mempertautkan universitas dengan Republik mempunyai lintasan sejarah yang jauh lebih panjang. Perjalanan itu bergerak dari tradisi pengetahuan Nusantara, pendidikan tinggi kolonial, universitas kebangsaan, universitas pembangunan, universitas riset, hingga multiversity dan universitas kinerja. Di balik perubahan bentuk tersebut, tersimpan pertanyaan yang tetap hidup: untuk siapa kekuatan pengetahuan bekerja?
Sebelum Universitas Bernama Universitas
Donovan (2016) membaca sejarah universitas melalui perubahan basis legitimasi pengetahuan. Universitas pramodern Barat bertumpu pada kebenaran doktrinal dan komunitas skolastik. Universitas modern membawa Pencerahan, kebebasan akademik, riset, dan objektivitas ilmiah. Indonesia menempuh lintasan yang berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jauh sebelum universitas modern hadir, Nusantara telah mengenal pesantren, surau, dayah, padepokan, dan beragam komunitas keilmuan lokal. Di dalam ruang tersebut, berlangsung pembelajaran, transmisi pengetahuan, pembentukan otoritas keilmuan, pendidikan moral, dan reproduksi tradisi intelektual.
Pendidikan tinggi modern kemudian semakin terlembagakan pada masa kolonial. Technische Hoogeschool Bandung berdiri pada 1920, Rechtshoogeschool Batavia pada 1924, dan Geneeskundige Hoogeschool Batavia pada 1927. Institusi-institusi tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan tinggi Indonesia. Ilmu telah memasuki masa modernitas, tetapi orientasi politiknya masih berada dalam tatanan kolonial. Kemerdekaan mengubah hubungan tersebut.
Republik Mengubah Arah Pengetahuan
Sesudah 1945, Republik memerlukan lebih dari sekadar tenaga profesional. Negara yang baru lahir harus membangun institusi, menyiapkan tenaga nasional, merumuskan kebijakan, dan menegakkan kebudayaan. Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia, perguruan tinggi pada masa revolusi, serta kelahiran Universitas Gadjah Mada pada 1949 menandai perubahan kedudukan pengetahuan.
Pada fase itulah dapat dibaca lahirnya universitas kebangsaan sebagai Universitas Republik generasi pertama. Kekuatan ilmiah masih terbatas, tetapi orientasinya terang. Pengetahuan memperoleh medan pengabdian yang jelas: membuat kemerdekaan mampu berdiri dan Republik mampu membentuk masa depan nasional.
Pembangunan kemudian menuntut sains, teknologi, profesi, dan birokrasi dalam skala yang jauh lebih besar. Jumlah perguruan tinggi bertambah, angka mahasiswa meningkat, disiplin ilmu berkembang, dan kegiatan riset meluas. Universitas tumbuh menjadi institusi yang semakin kompleks.
Dari Universitas ke Multiversity
Clark Kerr (1963) menangkap perubahan universitas besar melalui konsep multiversity. Universitas tidak lagi merupakan satu komunitas dengan satu tujuan tunggal. Fakultas, disiplin ilmu, pusat riset, profesi, pemerintah, industri, donor, masyarakat, dan jejaring internasional hidup dalam satu institusi dengan kepentingan yang beragam.
Donovan menunjukkan sisi problematik perkembangan tersebut. Massifikasi, mahasiswa sebagai konsumen, manajerialisme, audit, instrumentalisme ekonomi, dan tekanan produktivitas riset mengubah tata kehidupan akademik. Di Indonesia, muncul lapisan yang semakin kuat: universitas kinerja. Akreditasi, publikasi, sitasi, pemeringkatan, outcome, reputasi, dan daya serap lulusan menjadi bahasa sehari-hari dalam pengelolaan perguruan tinggi.
Semua mempunyai fungsi. Masalah muncul ketika ukuran keberhasilan lebih mudah dikenali daripada tujuan yang hendak dicapai. Universitas semakin presisi menjelaskan berapa banyak artikel yang diterbitkan, sitasi yang diperoleh, atau inovasi yang dihasilkan. Namun, pertanyaan mengenai kemampuan apa yang bertambah pada bangsa setelah pengetahuan tersebut lahir menjadi jauh lebih penting.
Ketika Universitas Menemukan Republik Kembali
Di titik inilah perjalanan universitas di Indonesia mengalami paradoks perkembangan. Kapasitas pengetahuan perguruan tinggi belum pernah sebesar sekarang. Laboratorium bertambah, publikasi meningkat, jejaring global meluas, dan komunitas ilmiah terus berkembang. Semakin besar kapasitas tersebut, semakin strategis pertanyaan mengenai ke mana kekuatan pengetahuan hendak dibawa.
Multiversity telah memperbesar kapasitas sekaligus memperluas tujuan dan kepentingan. Perkembangan tersebut merupakan sebuah kemajuan. Tidak ada alasan untuk membawa universitas kembali ke bentuk masa lalu. Namun, kapasitas besar membutuhkan sumbu yang tidak dapat digantikan oleh indikator kinerja. Dalam sejarah Indonesia, sumbu itu pernah mempunyai nama yang jelas, yaitu Republik.
Republik tidak identik dengan pemerintah yang sedang berkuasa. Pemerintahan datang dan berganti, sedangkan Republik mempunyai horizon lintas generasi. Dalam horizon Republik, hidup bangsa, negara, warga, konstitusi, wilayah, kebudayaan, serta kepentingan generasi mendatang. Oleh karena itu, menemukan Republik kembali tidak berarti menundukkan universitas kepada kekuasaan. Kebebasan akademik, independensi ilmu, keterbukaan terhadap dunia, dan keberanian mengoreksi kekuasaan justru merupakan bagian dari tanggung jawab pengetahuan kepada Republik.
Tantangan abad ini bukan mengulang universitas masa revolusi, melainkan mempertemukan kebebasan ilmu, kekuatan akademik, dan kepentingan strategis bangsa dalam tatanan yang jauh lebih plural dan global. Dalam ekosistem inovasi, dikenal istilah Valley of Death, yakni lembah ketika pengetahuan gagal menyeberang menjadi inovasi atau nilai nyata. Perguruan tinggi dapat menghadapi jurang yang lebih strategis. Ilmu terus berkembang, tetapi belum otomatis menjadi kemampuan bangsa dalam menguasai teknologi, membaca perubahan, menyelesaikan persoalan strategis, atau menciptakan pilihan bagi masa depan. Lembah kematian universitas terjadi ketika pengetahuan mempunyai tempat untuk lahir, tetapi tidak menemukan jalan untuk memperbesar kapasitas Republik.
URI dalam Spektrum Abad Kedua Kemerdekaan
Di sinilah kelahiran URI memperoleh bobot historis. Momentum tersebut memperoleh makna yang lebih besar karena URI hadir dalam lintasan panjang yang mempertautkan universitas dengan perjalanan Republik. Universitas kebangsaan tumbuh ketika bangsa membutuhkan pengetahuan untuk menegakkan kemerdekaan. URI hadir ketika tantangan telah bergeser. Negara telah tegak, tetapi persaingan antarbangsa semakin ditentukan oleh ilmu, teknologi, data, talenta, sumber daya strategis, serta kemampuan mendefinisikan masa depan.
Pelantikan pimpinan URI oleh Presiden di Istana Negara dapat dibaca lebih jauh daripada sekadar seremoni kelahiran sebuah perguruan tinggi. Dua kata kembali dipertautkan secara kuat di ruang kenegaraan: universitas dan Republik. Yang satu menghasilkan pengetahuan, sedangkan yang lain memberi spektrum mengenai untuk siapa pengetahuan itu bekerja.
URI tidak perlu ditempatkan sebagai koreksi terhadap universitas yang telah ada, juga bukan sebagai satu-satunya representasi spirit Universitas Republik. Ruang yang lebih strategis terbuka ketika kelahiran URI dibaca sebagai momentum untuk menghidupkan kembali pertanyaan yang menentukan sejak awal kemerdekaan: bagaimana ilmu membuat Republik mampu berdiri di atas pilihannya sendiri.
Kelahiran URI juga tidak menuntut penyeragaman perguruan tinggi. Justru di tengah keragaman kampus, nama Republik dapat bekerja sebagai undangan intelektual untuk mempertemukan kekuatan ilmu dengan persoalan jangka panjang bangsa.
Jika Republik dahulu melahirkan universitas untuk menopang kemerdekaan, sejarah kini seolah membalikkan pertanyaannya: dapatkah universitas dengan seluruh kekuatan ilmu yang dimilikinya menemukan Republik kembali? Dekolonisasi sains menjadi babak lanjutan dari kemerdekaan pengetahuan, yaitu keberanian menentukan arah, membentuk masa depan sendiri, dan membawa Indonesia berjaya setinggi cita-cita para pendiri bangsa. Semoga URI menginspirasi hidupnya kembali spirit kerepublikan itu.
Priyono Suryanto. Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ketua Prodi Ketahanan Nasional Sekolah Pascasarjana UGM.
Tonton juga video "Momen Penerjun HUT RI Kibarkan Foto Prabowo di Langit Jakarta"
(rdp/imk)









































