×
Ad

Kolom

Membaca Posisi Arab Saudi Sebagai ''New Regional Power''

Fathurrahman Yahya - detikNews
Rabu, 12 Agu 2026 10:08 WIB
Foto: Turki, Saudi dan Pakistan Teken Pakta Pertahanan (via REUTERS/Saudi Press Agency)
Jakarta -

Sejak diluncurkannya Visi Saudi 2030 sebagai program transformasi nasional jangka panjang, Arab Saudi terus bergerak mengonsolidasikan diri.

Pembangunan ekonomi dan infrastruktur di berbagai wilayah Kerajaan yang nyata dirasakan semakin menguatkan asumsi bahwa negeri Pelayan Dua Kota Suci umat Islam (Makkah dan Madinah) tersebut akan menjadi kekuatan geoekonomi dan geopolitik baru di kawasan.

Visi Ekonomi Arab Saudi 2030 yang diluncurkan Putra Mahkota dan Perdana Menteri Mohammed bin Salman pada 2016 kini berkelindan dengan visi geopolitik strategis.

Tujuan utamanya adalah mengurangi ketergantungan struktural negara pada minyak serta membangun ekonomi yang lebih terdiversifikasi, produktif, berbasis investasi, dan terhubung secara global.

Selama beberapa dekade, Arab Saudi kerap digambarkan sebagai negara penghasil minyak dengan stigma sekutu strategis Amerika Serikat di Timur Tengah. Namun, gambaran tersebut secara perlahan mulai bergeser.

Arab Saudi kini bergerak menuju bentuk kekuatan baru-bukan hanya secara ekonomi, melainkan juga semakin aktif membentuk arsitektur pertahanan-keamanan, diplomasi, teknologi, dan politik kawasan. Apa indikatornya?

Dari Visi Ekonomi ke Politik

Visi 2030 pada awalnya hanya dipahami sebagai agenda untuk mengurangi ketergantungan Arab Saudi terhadap minyak. Namun, dalam perkembangannya, proyek tersebut memiliki konsekuensi geopolitik yang jauh lebih besar dan strategis.

Diversifikasi ekonomi melalui investasi, inovasi, pengembangan pariwisata, penguatan sektor keuangan, hingga pembangunan infrastruktur dan keamanan secara keseluruhan meningkatkan kapasitas negara berpenduduk sekitar 35.165.787 jiwa (Worldometers, 2026) tersebut untuk berperan sebagai regional power.

Dengan kata lain, Visi 2030 bukan lagi sekadar visi ekonomi, melainkan sedang melebar menjadi visi geopolitik dan strategis yang sejalan dengan dinamika mutakhir di kawasan.

Selama ini, kekuatan Arab Saudi bertumpu pada sektor energi minyak. Dengan cadangan minyaknya yang melimpah, setidaknya Riyadh mendapat tiga keuntungan strategis: sumber pendapatan, pengaruh terhadap pasar energi dunia, dan kemampuan membiayai kebijakan luar negeri. Akan tetapi, ketergantungan pada minyak dapat menjadi titik kelemahan struktural ekonominya.

Oleh karena itu, Visi 2030 mencoba mengubah sumber kekuatan tersebut: minyak yang menghasilkan pengaruh (influence) sedang diarahkan menjadi investasi, teknologi, industri, inovasi, pariwisata, dan keuangan yang secara komprehensif menjadi kekuatan nasional.

Melalui Public Investment Fund (PIF), Arab Saudi mendorong diversifikasi ekonomi dengan misi jangka panjang menjadi mitra investasi global pilihan.

Dana investasi PIF naik ke peringkat kelima di antara dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) terbesar di dunia, dengan aset yang dikelola mencapai US$ 1,15 triliun (Arab News, 1/4/2026).

Melalui proyek diversifikasi ekonomi, Arab Saudi memiliki ruang manuver geopolitik yang lebih digdaya. Arab Saudi tidak hanya menjual minyak, tetapi juga menjadi investor, pemilik aset global, pusat logistik, teknologi, pariwisata, dan pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan.

PIF dan sekelompok investor mengakuisisi Electronic Arts, pembuat gim video seperti The Sims, Madden NFL, dan Battlefield, seharga US$ 55 miliar (The Guardian, 5/8/2026).

The Guardian menyebut akuisisi Electronic Arts merupakan akuisisi terbesar yang pernah tercatat karena EA Games diambil alih menjadi perusahaan swasta, mengakhiri sejarah 36 tahunnya sebagai perusahaan publik.

Dalam perspektif geopolitik, PIF dapat berfungsi sebagai instrumen tata kelola investasi (instrument of investment statecraft) di berbagai sektor. Negara menciptakan jaringan relasi ekonomi yang kemudian memperkuat hubungan politik.

Penandatanganan nota kesepahaman pengembangan nuklir untuk tujuan damai oleh Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman bin Abdulaziz dan Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright (22/7/2026) tidak bisa hanya dibaca sebagai upaya jangka pendek-menengah untuk mendukung Visi Ekonomi 2030.

Di balik pemanfaatan tenaga nuklir untuk mendukung diversifikasi ekonomi dan pembangunan, ada jangkauan strategis jangka panjang yang tidak bisa diremehkan, yaitu geoekonomi serta geopolitik regional dan global. Oleh karena itu, Arab Saudi berkepentingan menjaga stabilitas keamanan dalam negerinya dan kawasan.

Strategi Deterrence dan Diplomasi

Di tengah situasi keamanan kawasan yang semakin eskalatif, Arab Saudi bersama Pakistan dan Turki membangun kerja sama pertahanan dan keamanan.

Perjanjian kerja sama pertahanan trilateral yang ditandatangani Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, dan PM Pakistan Shehbaz Sharif (7/8/2026), yang kemudian disebut "Mecca Agreement" memunculkan multitafsir dan sederet pertanyaan provokatif: Apakah Arab Saudi sedang membangun kekuatan pertahanannya untuk melawan Iran? Apakah Arab Saudi beraliansi dengan Amerika Serikat untuk menahan pengaruh China-Rusia-Iran?

Jawaban atas pertanyaan tersebut sebenarnya sederhana: Riyadh kini berusaha menjadi agenda setter dengan kombinasi strategi deterrence and diplomacy. Arab Saudi tidak hanya menjadi pemain (player), melainkan juga berusaha mengambil peran sebagai penyeimbang (balancer).

Dalam konteks geopolitik kawasan, Arab Saudi berada di antara pusat kekuatan berpengaruh seperti Iran, Israel, Türkiye, Mesir, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Akan tetapi, Arab Saudi tidak harus mengalahkan semua kekuatan tersebut. Logika yang dibangun sebagai strategi rasional adalah menjaga keseimbangan di antara mereka.

Arab Saudi dapat berkompetisi dengan Iran, tetapi tetap membangun diplomasi. Arab Saudi juga membina relasi dengan Amerika Serikat, sekaligus membangun hubungan strategis dengan China dan Rusia. Ini merupakan politik keseimbangan melalui jalan diplomasi tanpa konfrontasi militer antarblok.

Di tengah menguatnya rivalitas AS versus China-Rusia, Riyadh tidak membangun satu aliansi saja, melainkan mengembangkan strategi penyeimbang (multi-alignment): tidak meninggalkan Amerika Serikat, tetapi juga tidak ingin bergantung penuh kepadanya.

Hubungan dengan semua pihak dibangun secara simultan: Amerika Serikat, China, Rusia, Türkiye, dan Pakistan dalam ranah kepentingan yang berbeda.

Pengalaman diplomasi Arab Saudi sangat menarik. Perlu dicatat bahwa normalisasi hubungan dengan Iran (2023) dilakukan melalui mediasi China. Strategi ini menunjukkan bahwa Arab Saudi bersedia menggunakan kekuatan diplomatik di luar orbit Washington.

Hasilnya, relasi diplomatik Arab Saudi dengan Iran menunjukkan perubahan paradigmatik. Riyadh tampaknya menyadari bahwa tidak semua ancaman harus dijawab dengan konfrontasi.

Selama ketegangan Israel-AS-Iran, sikap politik luar negeri Riyadh sangat bijaksana dengan tidak terprovokasi untuk terlibat secara konfrontatif dalam situasi perang kawasan. Justru jauh sebelum perang memuncak, Arab Saudi bersama sejumlah negara kunci di kawasan seperti Qatar dan Türkiye menolak tegas rencana serangan militer AS-Israel ke Iran.

Tampaknya, kombinasi strategi deterrence and diplomacy menjadi pilihan yang niscaya, dengan kesadaran bahwa stabilitas ada kalanya jauh lebih menguntungkan daripada sekadar kemenangan taktis.

Menyikapi situasi di kawasan, Arab Saudi tidak terprovokasi untuk menyulut api perang, melainkan menggunakan diplomasi sebagai jalan penyelamat guna menghindari perang yang meluas dan berkelanjutan.

Melalui pendekatan soft power and economic statecraft, Arab Saudi kini membangun kekuatan ekonomi sekaligus menguatkan posisinya bukan sekadar sebagai pemain, melainkan sebagai penyeimbang kekuatan regional.

Dengan modal yang besar, Arab Saudi giat membangun infrastruktur, mengembangkan sektor olahraga, pariwisata, teknologi, energi, dan industri, serta membuka peluang investasi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Sebagai negara sahabat yang memiliki hubungan historis dengan negeri Pelayan Dua Kota Suci ini, sudah saatnya Indonesia memetakan peluang kerja sama yang produktif sebelum dimanfaatkan oleh pihak lain.

Fathurrahman Yahya. Peneliti Komunikasi Politik dan Diplomasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta.

Tonton juga video "Arab Saudi, Pakistan, dan Turki Resmi Bentuk Aliansi Pertahanan"




(rdp/imk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork