Rusia-Arab Saudi Makin Dekat di Tengah Gejolak OPEC

Rusia-Arab Saudi Makin Dekat di Tengah Gejolak OPEC

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 05 Jun 2026 11:09 WIB
Rusia-Arab Saudi Makin Dekat di Tengah Gejolak OPEC
Jakarta - Pengaruh kelompok negara produsen minyak, OPEC, melemah akibat perpecahan internal, lonjakan produksi minyak serpih Amerika Serikat (AS), dan keluarnya Uni Emirat Arab . Di tengah situasi itu, Arab Saudi justru makin dekat dengan Rusia, negara produsen minyak non-OPEC terbesar kedua di dunia.

Rusia dan Arab Saudi masing-masing memproduksi sekitar 9 hingga 10 juta barel minyak per hari. Jika digabungkan, keduanya menyumbang lebih dari 20% total produksi minyak dunia.

Dengan posisi sebesar itu, Riyadh dan Moskow punya pengaruh besar terhadap suplai minyak global. Terlebih, penjualan minyak Rusia tetap tinggi meski menghadapi sanksi Barat dan pembatasan harga minyak setelah perang di Ukraina, serta ada gangguan akibat blokade Selat Hormuz.

OPEC tanpa satu anggota penting

Sebagai anggota terbesar OPEC, Arab Saudi sejak lama menjadi pemain paling dominan di tubuh aliansi. OPEC menjaga harga minyak global stabil dengan mengendalikan jumlah produksi harian.

Sebelum perang di Iran dimulai, negara-negara OPEC, termasuk Iran sebagai salah satu anggota, memproduksi lebih dari 35% minyak mentah dan memiliki hampir 80% cadangan minyak dunia.

Namun, selama bertahun-tahun terakhir pengaruh OPEC melemah akibat perpecahan internal dan melonjaknya produksi minyak serpih oleh AS.

Pada April 2026, Uni Emirat Arab atau UEA, yang saat itu merupakan produsen terbesar ketiga di OPEC, mengumumkan akan keluar dari kelompok tersebut pada 1 Mei setelah hampir enam dekade menjadi anggota. Keputusan itu membuat jumlah anggota OPEC berkurang menjadi 11 negara.

UEA adalah negara kaya minyak dengan kapasitas produksi cadangan yang besar. Negara itu selama ini tidak puas dengan sistem kuota dan dapat segera menaikkan produksi begitu Selat Hormuz kembali dibuka.

Mencari sekutu agar tetap diperhitungkan

Ini bukan pertama kalinya ada negara yang keluar dari, atau kembali bergabung dengan, OPEC. Namun, keluarnya UEA tetap penting karena negara itu punya ruang produksi yang fleksibel. Dalam jangka panjang, keputusan ini akan melemahkan kemampuan kartel tersebut dalam mengendalikan harga.

Kemungkinan untuk mengantisipasi situasi ini, Arab Saudi mendekat ke Rusia, yang bukan anggota OPEC. Kerja sama itu dilakukan secara langsung maupun melalui OPEC+, aliansi yang lebih longgar dan terdiri dari negara-negara anggota OPEC serta produsen minyak lain. Format kerja sama ini dibentuk pada 2016.

Namun saat ini, Rusia dan eksportir minyak non-Teluk lainnya justru diuntungkan karena Iran secara efektif memblokir Selat Hormuz, kata Mark N. Katz, peneliti senior nonresiden di Atlantic Council, lembaga kajian yang berbasis di Washington, D.C.

"Pembeli dari Barat dan negara-negara lain bersedia meningkatkan pembelian minyak Rusia yang terkena sanksi untuk mencegah lonjakan harga minyak yang tajam, karena itu bisa merugikan ekonomi domestik mereka," kata Katz, yang telah mengikuti hubungan Moskow dengan Timur Tengah sejak awal 1980-an.

Forum Ekonomi St. Petersburg

Di kalangan analis industri dan pengamat politik, kedekatan kedua negara ini kian sulit diabaikan. Dalam dua tahun terakhir, kedua negara berulang kali berkoordinasi soal produksi minyak.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi Riyadh pada 2019 dan kembali pada akhir 2023, ketika dia bertemu Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov juga beberapa kali bertemu dengan mitranya dari Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk menegaskan hubungan kerja yang kembali menguat ini, Rusia kini menjadikan Arab Saudi sebagai negara tamu dalam St. Petersburg International Economic Forum atau SPIEF tahun ini, yang dijadwalkan berlangsung pada 3 hingga 6 Juni 2026.

"Sangat simbolis bahwa Arab Saudi akan menjadi negara tamu di SPIEF pada 2026, saat kita merayakan 100 tahun hubungan diplomatik," kata Lavrov menjelang acara tersebut.

Meski sebagian pihak di Barat melihat forum ini sebagai ajang propaganda Rusia, SPIEF tetap mempertemukan pelaku bisnis dan pemimpin politik. Tahun lalu, menurut penyelenggara, acara ini dihadiri 24.200 orang dari 144 negara dan wilayah.

Melihat melampaui minyak dan OPEC

Dengan pertumbuhan global yang melambat dan penggunaan energi terbarukan yang terus meningkat, ada banyak hal yang bisa dibicarakan. Satu dekade lalu, Arab Saudi sudah memperkenalkan program "Vision 2030" untuk mendiversifikasi ekonominya dan mengurangi ketergantungan pada minyak.

Sebagai bagian dari visi tersebut, Arab Saudi telah mengajukan berbagai rencana, mulai dari menjadi tuan rumah acara olahraga besar, menambang emas, tembaga, dan seng, membangun pusat data AI raksasa, hingga mengembangkan pariwisata internasional di luar kunjungan ibadah ke Mekkah dan Madinah.

Sebaliknya, Rusia masih tertekan oleh sanksi Barat, sangat bergantung pada "armada bayangan" kapal tanker minyak, dan menjual sebagian besar minyaknya dengan harga diskon. Ekonominya yang lesu juga tidak lagi terlihat sebagai peluang investasi seperti dulu.

"Saya tidak percaya Saudi saat ini melihat Rusia sebagai negara yang menarik untuk investasi," kata Katz. "Barat, Cina, dan negara-negara Asia lainnya menawarkan peluang kerja sama yang jauh lebih baik di bidang infrastruktur, teknologi, dan keuangan."

Kondisi ini, ditambah masalah internal OPEC, kemungkinan akan disambut baik oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Meski AS berupaya menjalin kemitraan dengan Moskow, Washington tidak terlalu senang jika sekutunya melakukan hal yang sama, kata Katz. "Menurunnya minat Saudi untuk berbisnis dengan Rusia akan dilihat pemerintahan Trump sebagai peluang bagi bisnis AS."

Berteman di tengah aliansi yang berubah

Untuk saat ini, aliansi Rusia dan Arab Saudi tampaknya akan tetap berpusat pada minyak. Keduanya juga kemungkinan senang karena permintaan minyak global diperkirakan tumbuh 1,2 juta barel per hari pada 2026 dan 1,5 juta barel per hari pada tahun berikutnya, menurut laporan bulanan terbaru OPEC.

Namun, hubungan kedua negara ini belum tentu akan berjalan mulus, karena ada banyak kepentingan lain di belakangnya.

Arab Saudi tidak senang dengan dukungan Rusia terhadap Iran. Pada saat yang sama, Rusia ingin memastikan Riyadh tidak ikut bergabung dalam rezim sanksi Barat terkait Ukraina.

Dalam urusan minyak, Arab Saudi juga punya tujuan jangka panjang dan berkepentingan mencegah banjir pasokan yang bisa menekan harga. Rusia, sebaliknya, punya kebutuhan jangka pendek yang lebih mendesak untuk menambah pemasukan negara.

Pada akhirnya, Katz tidak akan terkejut jika peningkatan kerja sama Arab Saudi dengan Rusia sebenarnya merupakan cara Riyadh untuk mendapat lebih banyak perhatian dari Washington. Menurutnya, cara seperti ini sudah beberapa kali digunakan Riyadh setidaknya sejak 1970-an.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara

Editor: Rizki Nugraha

Tonton juga video "Uni Emirat Arab Bicara Alasan Keluar dari OPEC"

(ita/ita)



Berita Terkait