×
Ad

Kolom

Ekonomi Tumbuh 5,29%: Prabowo Dikritik dan Kenyataannya

Kamrussamad - detikNews
Kamis, 06 Agu 2026 20:47 WIB
Juru bicara Partai Gerindra, Kamrussamad. (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa ekonomi Indonesia pada Triwulan II-2026 tumbuh sebesar 5,29% (yoy). Berdasarkan data historis pertumbuhan ekonomi pada triwulan II menunjukkan bahwa capaian tersebut merupakan yang tertinggi sejak Triwulan II-2022. Selain itu, capaian tersebut juga menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G-20.

Bila diakumulasikan, pertumbuhan tersebut menjadikan pertumbuhan ekonomi pada Semester I 2026 mencapai 5,45% (c-to-c), yang artinya masih lebih tinggi dibanding target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar 5,4%.

Laju pertumbuhan ekonomi yang kuat tersebut didukung hampir semua komponen. Dari sisi produksi, terdapat lima sektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap ekonomi yaitu industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Adapun tiga sektor yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi yaitu pengadaan listrik & gas, penyediaan akomodasi & makan minum, dan informasi & komunikasi.

Sedangkan dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto)/investasi tercatat sebagai komponen yang memberikan kontribusi terbesar pada ekonomi yaitu mencapai 82,68%. Adapun komponen yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi adalah konsumsi pemerintah sebesar 15,97% yang didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa.

Makna & Tantangan Kualitas Pertumbuhan

Laju pertumbuhan ekonomi yang solid ini mengandung sejumlah implikasi penting bagi perekonomian nasional

Pertama, kebijakan ekonomi Pemerintah sudah berjalan pada jalur yang tepat, yang dibuktikan dengan keberhasilannya menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tumbuh tinggi di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya eskalasi geopolitik yang mengerek harga minyak dunia.

Hal tersebut membuktikan bahwa sejumlah program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, Nelayan Desa Merah Putih, Sekolah Rakyat, Sekolah Unggulan, serta sejumlah program lainnya, berhasil bertindak sebagai penggerak roda ekonomi (multiplier effect).

APBN 2026 telah bekerja optimal mendorong optimalisasi program strategis pemerintah. Hingga Semester I 2026, realisasi belanja negara telah mencapai Rp1.656,0 triliun atau 43,1% terhadap pagu APBN. Tingginya belanja negara juga diikuti kuatnya penerimaan negara yang mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3% terhadap pagu APBN. Sehingga, angka defisit anggaran terkendali hanya sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76% terhadap PDB.

Program prioritas yang sudah terealisasi dengan baik dan membanggakan antara lain Sekolah Rakyat yang berjumlah 84 buah dan RSUD yang berjumlah 22 buah dari target 66 buah yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Pembangunan Sekolah Rakyat dan RSUD merupakan perwujudan amanat Pasal 34 UUD 1945, yaitu bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, serta negara bertanggung jawab atas fasilitas pelayanan Kesehatan yang layak.

Kedua, fundamental ekonomi Indonesia terbukti sangat kuat di tengah meningkatnya dinamika terhadap nilai tukar rupiah dan pasar modal di dalam negeri.

Hal itu membuktikan bahwa perekonomian Indonesia memiliki daya tahan (resiliensi) yang sangat solid dan tidak sekedar bergantung pada arus modal portofolio jangka pendek, melainkan ditopang oleh pondasi sektor riil yang kokoh, seperti konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, inflasi yang terkendali, serta realisasi investasi produktif yang terus berlanjut.

BPS menegaskan bahwa konsumsi rumah tangga tumbuh tumbuh 5,06% dan memiliki kontribusi sebesar 53,32% terhadap PDB. Lalu, PMTB/investasi tumbuh kuat mencapai 6,87% dan berkontribusi sebesar 29,36% terhadap pembentukan PDB. Selaras dengan hal tersebut, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM juga menegaskan bahwa realisasi investasi pada Triwulan II 2026 mencapai Rp511,8 triliun dan tumbuh 7,1% (yoy).

Capaian pertumbuhan ekonomi yang kuat perlu dijaga secara baik untuk meredam tekanan volatilitas di pasar modal dan rupiah. Sinergi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus diperkuat melalui perbaikan iklim investasi, efisiensi belanja negara, serta dorongan berkesinambungan pada ekspor bernilai tambah tinggi.

Ketiga, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terpusat di Pulau Jawa, tetapi terdistribusi secara progresif di seluruh kepulauan Indonesia. Wilayah Bali dan Nusa Tenggara memimpin dengan tingkat pertumbuhan yang mencapai 6,10%, disusul wilayah Jawa yang tumbuh 5,65%, lalu Sulawesi 5,53%, Sumatera 5,06%, dan Kalimantan 4,10%, serta Maluku dan Papua yang juga tumbuh positif.

Pemerataan ini ditopang oleh ketepatan penyaluran Transfer ke Daerah (TKD). Hingga akhir Juni 2026, realisasi TKD telah menyerap Rp357,4 triliun (51,6% dari pagu APBN), yang secara efektif menjadi stimulus perekonomian di tingkat daerah.

Dan keempat, program ekonomi pemerintah terbukti berdampak positif terhadap kesejahteraan rakyat, yang ditunjukkan oleh menurunnya tingkat pengangguran terbuka (TPT) menjadi sebesar 4,65% atau berjumlah 7,22 juta orang, menurunnya angka kemiskinan menjadi sebesar 8,07% atau berjumlah 22,93 juta orang, serta terjaganya tingkat kesenjangan sosial pada angka yang relatif rendah sebesar 0,368.

Data ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi bersifat inklusif & Berkualitas, yaitu mampu menyerap tenaga kerja baru, memperkecil jurang ketimpangan, serta mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.




(gbr/gbr)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork