FOMO: Saat Penghias Menjadi Prioritas
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

FOMO: Saat Penghias Menjadi Prioritas

Senin, 18 Mei 2026 14:18 WIB
Wahyuddin Luthfi Abdullah
Dosen Pendidikan Agama Islam, Universitas Andalas, Padang.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Fear of missing out (FOMO).
Foto: Ilustrasi FOMO (Freepik)
Jakarta - Dahulu seseorang mungkin hanya membandingkan hidupnya dengan tetangga sebelah. Hari ini, dalam beberapa menit scrolling media sosial, seseorang bisa merasa kalah dari ratusan orang sekaligus. Ada yang tampak lebih sukses, lebih kaya, lebih bahagia, lebih produktif, bahkan lebih religius.

Akibatnya, banyak orang hidup dalam kecemasan yang tidak selalu disadari: takut tertinggal, takut tidak cukup, dan takut tidak berhasil seperti orang lain.

Fenomena ini dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO. Namun sebenarnya, yang sedang hilang dari banyak manusia hari ini bukan sekadar kesempatan, melainkan rasa cukup dalam hidupnya.

Media sosial telah mengubah cara manusia memandang kehidupan. Hidup perlahan tidak lagi dijalani sebagai amanah, melainkan sebagai panggung perbandingan. Orang menjadi sulit menikmati apa yang dimilikinya karena terlalu sibuk melihat apa yang dimiliki orang lain. Liburan orang lain membuat hidup terasa membosankan. Pencapaian orang lain membuat diri terasa gagal. Bahkan kebahagiaan pun akhirnya diukur dari seberapa layak ia dipamerkan.

Ironisnya, algoritma media sosial memang bekerja dengan cara seperti itu. Platform digital hidup dari perhatian manusia. Semakin seseorang penasaran, iri, cemas, atau takut tertinggal, semakin lama ia bertahan scrolling. Maka manusia terus disuguhkan kehidupan yang tampak sempurna: pencapaian, gaya hidup, pencitraan, dan validasi tanpa henti.

Media sosial akhirnya seperti etalase tanpa akhir. Masalahnya, manusia terlalu sibuk melihat etalase kehidupan orang lain hingga lupa mensyukuri isi rumahnya sendiri.Dalam kondisi seperti ini, manusia perlahan kehilangan kemampuan menentukan skala prioritas hidup.

Dalam kajian Islam, para ulama menjelaskan bahwa kebutuhan manusia memiliki tingkatan: dharuriyyat (kebutuhan primer), hajiyyat (kebutuhan pelengkap), dan tahsiniyyat (kebutuhan penghias).

Namun di era FOMO, batas itu mulai kabur. Banyak orang rela mengorbankan kebutuhan pokok demi memenuhi tuntutan gaya hidup dan pencitraan digital. Demi terlihat "berkelas", seseorang memaksakan sesuatu di luar kemampuannya.

Tidak sedikit yang rela berutang demi mengikuti tren, lebih mementingkan estetika daripada keberkahan, dan lebih takut dianggap tertinggal daripada benar-benar kehilangan arah hidup.

Akibatnya, kebutuhan tahsiniyyat justru ditempatkan di atas dharuriyyat. Penampilan lebih diprioritaskan daripada ketenangan jiwa. Validasi sosial lebih dikejar daripada kesehatan mental dan spiritual.

FOMO membuat manusia sibuk memperindah etalase hidupnya, tetapi lupa membangun fondasi hidupnya sendiri.

Padahal Islam sejak lama telah mengingatkan manusia agar tidak terus-menerus memandang kehidupan orang lain dalam hal urusan dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah." (HR. Muslim)

Hadis ini terasa sangat relevan di tengah budaya digital hari ini. Sebab media sosial justru mendorong manusia untuk terus melihat "ke atas": melihat yang lebih kaya, lebih cantik, lebih sukses, dan lebih populer. Akibatnya, nikmat yang ada di tangan sendiri perlahan kehilangan makna.

Islam tidak melarang seseorang untuk sukses, kaya, atau memiliki cita-cita tinggi. Namun Islam mengajarkan qana'ah: kemampuan merasa cukup tanpa kehilangan semangat untuk berusaha. Qana'ah bukan berarti pasrah atau anti ambisi, tetapi kemampuan menempatkan dunia secara proporsional.

Ketika seseorang kehilangan rasa cukup, hidup akan mudah dikendalikan oleh gengsi dan pengakuan sosial. Apa yang sebenarnya hanya pelengkap berubah menjadi kebutuhan utama. Apa yang seharusnya sekadar sarana berubah menjadi ukuran harga diri.

Islam juga mengenal konsep zuhud: teknik menghindari cinta dunia dengan menempatkan dunia cukup di tangan, tidak memenuhi hati. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia atau anti terhadap kesuksesan, melainkan tidak menjadikan dunia sebagai pusat ketenangan hidup. Sebab ketika dunia terlalu dijadikan ukuran kebahagiaan, manusia akan mudah gelisah melihat pencapaian orang lain.

Karena itu, persoalan terbesar generasi digital hari ini mungkin bukan kurangnya nikmat, melainkan hilangnya kemampuan menikmati nikmat. Manusia terus dipaksa melihat apa yang tidak dimilikinya hingga lupa menikmati apa yang telah dimiliki.

FOMO tidak akan selesai hanya dengan "detoks media sosial", sebab akar persoalannya bukan semata pada aplikasi di tangan, tetapi pada cara manusia memandang kebahagiaan. Selama kebahagiaan diukur dari pencapaian orang lain, maka seseorang akan terus merasa tertinggal.

Di tengah dunia yang terus berkata "kamu belum cukup", Islam mengajarkan sesuatu yang sederhana namun menenangkan: tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita miliki untuk bisa bahagia.

Wahyuddin Luthfi Abdullah. Dosen Pendidikan Agama Islam, Universitas Andalas, Padang. (rdp/imk)



Berita Terkait