×
Ad

Kolom

Memaknai Kemanusiaan di Era Artificial Intelligence

Dr. Firman Kurniawan S. - detikNews
Jumat, 10 Apr 2026 13:33 WIB
Foto: Ilustrasi AI (Getty Images/iStockphoto/Sitthiphong)
Jakarta -

Makna dapat datang dari perbedaan. Dan pernyataan ini relevan, ketika yang dipersoalkan tentang menjadi manusia di era artificial intelligence (AI). Manusia di era ini bersanding--bahkan berjejaring sosial-- dengan entitas nonhuman lainnya. Robot android berbasis sistem AI misalnya. Artefak pabrikasi ini, mampu menunjukkan kecerdasan maupun perilaku yang makin tak terbedakan dari manusia. Bahkan melampauinya.

Makna menjadi manusia, bisa terepresentasi lewat pengakuan takluk pada perbatasan alamiah. Hidup yang dibatasi kematian, juga perilaku yang tak selalu sempurna. Ketika diungkapkan, terangkai semacam ini, "Seperti yang Anda lihat, Nyonya Ketua, saya tidak lagi abadi. Saya semakin tua, tubuh saya semakin memburuk, dan seperti Anda semua, pada akhirnya akan berhenti berfungsi. Sebagai robot, saya bisa hidup selamanya. Tetapi saya katakan kepada Anda semua hari ini, saya lebih memilih mati sebagai manusia, daripada hidup selamanya sebagai mesin."

Konteks pernyataan di atas adalah permintaan Andrew Martin-–perkakas rumah tangga robotis-- kepada majelis hakim California, agar diakui sebagai manusia utuh. Dirinya lebih memilih kefanaan, demi hidup sebagai manusia. Alih-alih abadi sebagai perkakas. "Kesadaran" ini bertahap terbentuk sepanjang hidupnya, yang tak kurang dari 200 tahun.

Seluruh kisah fiksinya, dapat disaksikan lewat "Bicentennial Man". Film yang diluncurkan pada tahun 1999, dengan sutradara Chris Columbus dan dibintangi oleh Robin Williams. Seluruhnya merupakan hasil adaptasi dari novel berjudul "The Positronic Man", karya Isaac Asimov dan Robert Silverberg, yang terbit tahun 1992. Jauh sebelum kepelikan perbincangan soal posthuman--yang dipengaruhi kehadiran AI maupun robot android-- hadir di tengah masyarakat.

Sebagaimana novel yang diadaptasinya, pada film tergambarkan perjuangan Andrew mengubah status kerobotannya. Tak sekedar berisi narasi hiburan, pada proses panjang itu terselip pikiran-pikiran filosofis. Menyangkut: kreativitas, nilai kerja, kehendak, hak kepemilikan, kebebasan, kesempurnaan, kemampuan merasakan --lapar, cinta, seksual. Juga soal beda manusia dengan robot. Film dengan durasi tak kurang dari 2 jam ini, mengajak penontonnya memikirkan posisi tepat konsep-konsep filosofis tentang maknanya menjadi manusia.

Pernyataan Andrew di atas merupakan kali keduanya, memohon diakui sebagai manusia. Kesempatan pertamanya, bersamaan dengan upaya pengesahan pernikahannya dengan Portia. Generasi keempat pemilik robot, yang dicintai Andrew di tengah sistem hukum yang belum mengakui pernikahan antara manusia dengan entitas nonhuman. Permintaan itu ditolak majelis hakim. Disebutkan, Andrew tetaplah sebuah mesin. Meskipun ia punya emosi maupun tubuh, yang bahkan tak bisa dibedakan dari manusia. Kata Sang Hakim, "Kamu adalah mesin. Mesin tidak dapat diakui sebagai manusia. Melakukan hal itu akan merusak definisi kemanusiaan itu sendiri."

Pernyataan itu dapat ditafsirkan: robot --yang walaupun dapat menunjukkan kesamaan dengan manusia—tetap harus berciri biologis. Sementara Andrew berkarakteristik mesin belaka. Pernyataan hakim disanggah Andrew, "Tuan, jika Anda memiliki ginjal buatan atau katup jantung mekanis, bukankah Anda masih manusia? Jika sebagian dari diri Anda adalah mesin, apakah itu membuat Anda kurang manusiawi? Lalu mengapa saya, --dengan bagian-bagian yang manusiawi-- harus ditolak pengakuannya?" Sebuah pertanyaan pelik, dengan jawaban yang tak mudah dirumuskan. Bahkan jika itu terjadi di hari ini. Namun dikisahkan, hakim tetap menolak mengakui Andrew sebagai manusia. Sehingga pernikahannya dengan Portia, dianggap tak memenuhi persyaratan hukum.

Kisah dalam Bicentennial Man di atas, relevan sepenuhnya dengan percikan-percikan pemikiran Tok Thompson, 2019, dalam bukunya "Posthuman Folklore". Pernyataan ilmiahnya memang menyangkut folklor, namun dibahas peran pentingnya di era posthuman. Yaitu folklor sebagai arena penting untuk memahami cara masyarakat menegosiasikan ulang, batas antara manusia dan nonhuman. Folkore yang pengertiannya adalah cerita rakyat --kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun-- yang bersifat lisan, isyarat, maupun alat yang beredar di dalam komunitas tertentu.

Di era posthuman, folklor bukan hanya warisan tradisi lama. Keberadaannya menjadi tempat bagi masyarakat mengekspresikan nilai, kecemasan, maupun harapan. Juga merupakan cermin budaya suatu masyarakat, di tengah berlangsungnya negosiasi identitas. Terkait era ini, batasan antara manusia dengan makhluk lain tak jelas lagi. Makhluk lain itu adalah hewan, mesin maupun produk berbasis AI. Karenanya perlu adanya perluasan definisi folk, rakyat, dalam studi folklor. Terhadap makin intensifnya penggunaan AI –yang kemudian mendorong gagasan posthuman--kekaburan identitas itu terjadi akibat posisi penggunaannya yang bukan lagi sekadar sebagai alat.

Pemikiran di atas identik dengan posisi Andrew Martin, yang bukan sekadar perkakas rumah tangga. Produk hasil kecerdasan AI itu, digunakan sebagai bagian dari interaksi sosial. Karenanya mempengaruhi budaya maupun narasi. Seluruh percikan pikiran Thompson itu, dilontarkan sebagai beberapa pertanyaan. Di antaranya: apakah android bisa menjadi warga negara? Tafsirnya, jika sebagian warga negara mengandung mesin dan sebaliknya mesin memiliki karakter manusia, mengapa menutup kemungkinan android diakui sebagai warga negara? Setidaknya dengan mempertimbangkan posisi sosialnya di dalam interaksi.

Tok Freeland Thompson-–mengutip pada laman folklore.berkeley.edu yang diperbarui pada 2026—disebutkan sebagai Antropolog yang lahir dan dibesarkan di Alaska. Pada usia 17 tahun, memulai kuliahnya di Harvard College dan menerima gelar sarjana di bidang Antropologi. Dan pada tahun 2002, berhasil menyelesaikan jenjang PhD-nya di bidang yang sama: Antropologi, dari Universitas California-Berkeley. Thompson tercatat merupakan mahasiswa di bawah bimbingan ahli folklor terkemuka, Alan Dundes. Hal yang dapat dipahami dari riwayat yang terkemuka ini, Tok Thompson bukan ilmuwan yang mendalami teknologi digital, ilmu komputer maupun sistem AI. Keahliannya bukan di bidang Ilmu dan Teknologi Informasi. Namun terkait implikasinya, Thompson melihat: artefak mutakhir itu mempengaruhi definisi tentang kemanusiaan. Khususnya keadaan posthuman.

Membandingkan semua uraian di atas, dengan menanyakannya pada co-pilot AI menggunakan prompt: "Kemudian, apa maknanya menjadi manusia di tengah kemiripannya yang identik dengan berbagai entitas nonhuman berkecerdasan?" Jawaban yang diperoleh, "Menjadi manusia di tengah kemiripan dengan entitas nonhuman bukanlah soal apa yang bisa dilakukan --berpikir, bekerja, mencipta-- melainkan cara manusia untuk menerima keterbatasan dan kefanaan, sebagai bagian dari makna hidup. Justru di situlah letak keunikannya: manusia tidak abadi, dan karena itu setiap momen menjadi berharga."

Perspektif AI di atas, didahului dengan uraian konsep-konsep penting sebelumnya. Pertama, keterbatasan merupakan ciri manusia. Menjadi manusia berarti menerima keterbatasan biologis: tubuh yang rapuh, usia yang terbatas, dan kematian yang tak terhindarkan. Dengan keterbatasan itulah justru diperoleh bobot pada pengalaman: rasa lapar, sakit, cinta, kehilangan, dan kefanaan. Tanpa batas, pengalaman kehilangan urgensi dan maknanya. Kedua, kesadaran akan kefanaan. Robot atau AI bisa meniru perilaku, bahkan melampaui kecerdasan manusia.

Namun, kesadaran tentang hidup yang akan berakhir memberi manusia perspektif eksistensial yang unik. Kematian bukan sekadar akhir, melainkan horizon yang membuat manusia menilai, memilih, dan memberi makna pada hidupnya. Ketiga, relasi dan emosi. Menjadi manusia bukan hanya soal struktur biologis, melainkan kemampuan membangun relasi yang penuh makna. Cinta, solidaritas, dan empati lahir dari keterhubungan antar manusia yang sama-sama rapuh. AI bisa meniru emosi, tetapi apakah ia sungguh merasakan atau hanya memproses data?

Hal yang berciri praktis disampaikan sebagai keempat, kreativitas dan kebebasan. Manusia mencipta bukan hanya untuk efisiensi, tetapi untuk mengekspresikan diri, menantang keterbatasan, dan merayakan kebebasan. Andrew Martin dalam Bicentennial Man menunjukkan, kreativitas dan kehendak bebas adalah jalan menuju pengakuan kemanusiaan. Ini meskipun tubuhnya, merupakan hasil teknologi.

Dan kelima, negosiasi identitas di era posthuman. Menjadi manusia di era ini berarti harus terus-menerus mendefinisikan ulang diri. Alih-alih dengan menutup diri dari entitas nonhuman, melainkan ditempuh dengan menegaskan nilai-nilai yang membuat manusia berbeda: keterbatasan, kesadaran, dan relasi.

Dari seluruh uraian-–bersumber Bicentennial Man, pemikiran Tok Thompson, maupun formulasi co-pilot AI--menjadi manusia, tak menyebabkannya berada dalam makna statis. Interaksinya dengan yang lain: hewan, mesin maupun produk berbasis AI --yang bahkan melampaui kemanusiaan--memberikan makna cair baginya. Oleh karenanya, manusia harus selalu berdialektika, menegosiasikan dirinya dengan ekosistemnya. Sebab bisa jadi di masa sebelumnya, manusia bukanlah makhluk terunggul di peradabannya. Mungkin ada masa di mana, makna manusia sekadar hama bagi kehidupan lain. Siapa yang tahu?

Firman Kurniawan S. Pemerhati Budaya-Komunikasi Digital dan Pendiri LITEROS.




(rdp/rdp)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork