Ada dua alasan utama mengapa banyak perokok dewasa beralih ke vape. Pertama, vape tidak bekerja melalui pembakaran tembakau, sehingga pengguna tidak terpapar campuran zat hasil pembakaran seperti pada rokok konvensional. Kedua, bagi perokok dewasa yang sulit berhenti total, vape kerap menjadi jalan transisi yang lebih realistis daripada sekadar nasihat normatif untuk berhenti. Pemerintah Inggris sendiri menyatakan bahwa vaping lebih rendah bahayanya daripada merokok dan dapat membantu perokok dewasa berhenti, tetapi tidak ditujukan bagi anak-anak maupun orang yang tidak merokok.
Karena itu, menyebut vape sebagai narkoba adalah kekeliruan kategoris. Yang harus dibedakan sejak awal ialah perangkatnya, nikotinnya, dan zat psikoaktif ilegal yang mungkin disalahgunakan oleh pelaku tertentu. Penyalahgunaan suatu medium tidak otomatis mengubah seluruh kategori produknya menjadi narkotika. Jika ada cairan vape yang dicampur zat terlarang, persoalan hukumnya terletak pada zat ilegal dan penyalahgunaannya, bukan pada fakta bahwa seluruh produk vape dengan sendirinya menjadi narkoba. Dalam kebijakan publik, kegagalan membuat pembedaan elementer seperti ini hampir selalu melahirkan respons yang panik, bukan respons yang presisi.
Dari sudut pandang kesehatan publik, pertanyaan yang relevan bukanlah 'aman atau berbahaya' secara absolut, melainkan apakah tingkat risikonya lebih rendah dibanding rokok yang dibakar. Di sinilah konsep harm reduction menjadi penting. Royal College of Physicians menempatkan e-cigarettes sebagai instrumen yang dapat berperan dalam mencegah kematian, disabilitas, dan ketimpangan kesehatan akibat penggunaan tembakau. Sejalan dengan itu, riset yang dipimpin peneliti University of Oxford dalam Cochrane review menemukan bukti kepastian tinggi bahwa rokok elektronik bernikotin lebih efektif daripada terapi pengganti nikotin tradisional dalam membantu orang berhenti merokok setidaknya selama enam bulan. Oxford juga menegaskan bahwa vape bukan tanpa risiko, sehingga yang sah secara ilmiah adalah menyebutnya lebih efektif untuk berhenti merokok, bukan menyebutnya aman total.
Posisi ini konsisten dengan Cancer Research UK, yang menyatakan bahwa legal e-cigarettes jauh lebih rendah bahayanya dibanding merokok, meski tetap tidak bebas risiko dan belum seluruh dampak jangka panjangnya diketahui. New Zealand bahkan secara resmi mengizinkan pernyataan bahwa mengganti rokok sepenuhnya dengan vape akan mengurangi bahaya bagi kesehatan, dan bahwa bagi perokok, beralih sepenuhnya ke vaping adalah pilihan yang jauh lebih rendah bahayanya. Dengan kata lain, negara yang membaca bukti secara serius cenderung tidak memosisikan vape sebagai produk tanpa bahaya, tetapi juga tidak menolak fakta bahwa bagi perokok dewasa, perpindahan total dari rokok bakar ke produk non-combustible dapat menurunkan paparan risiko secara bermakna.
Contoh yang paling menarik datang dari Swedia. Data resmi menunjukkan bahwa pada 2024 prevalensi perokok harian tinggal 5,4%, sementara penggunaan snus harian mencapai 22% pada laki-laki dan 10% pada perempuan. Dalam profil kanker OECD-European Commission, angka kematian kanker terstandar di Swedia pada 2021 tercatat 207 per 100.000 penduduk, lebih rendah daripada rata-rata Uni Eropa 235 per 100.000 dan termasuk yang terendah di EU. Untuk kanker paru, selisihnya bahkan lebih tajam: data Eurostat 2022 menunjukkan rata-rata EU berada di 46,9 per 100.000, sedangkan Swedia hanya 31,7 per 100.000, terendah di seluruh Uni Eropa. Secara akademik tentu tidak sah menyimpulkan bahwa seluruh capaian ini semata-mata disebabkan oleh produk nikotin alternatif, tetapi asosiasi antara sangat rendahnya prevalensi merokok dan jauh lebih rendahnya kematian kanker, terutama kanker paru, terlalu kuat untuk diabaikan.
Indonesia sendiri mulai memperlihatkan sinyal yang mengarah pada pembacaan serupa, meskipun basis datanya masih perlu diperluas. Dalam laporan publik yang mengutip peneliti BRIN pada November 2025, hasil laboratorium menunjukkan bahwa pada emisi rokok elektrik, kadar formaldehida tercatat 10 kali lebih rendah, akrolein 115 kali lebih rendah, dan benzena hingga 6.000 kali lebih rendah dibanding rokok konvensional, sementara karbon monoksida, 1,3-butadiena, NNN, dan NNK dilaporkan tidak terdeteksi dalam pengujian tersebut. Temuan ini tentu bukan bukti bahwa vape aman. Namun secara ilmiah, data tersebut cukup untuk mendukung satu proposisi penting: profil paparan vape berbeda dan, untuk sejumlah toksikan utama, lebih rendah daripada rokok bakar. Karena itu, respons kebijakan yang rasional semestinya berupa standardisasi produk, validasi laboratorium, pelabelan akurat, dan penindakan keras terhadap cairan ilegal-bukan penyamaan konseptual antara vape dan narkoba.
Pada akhirnya, untuk anak-anak, remaja, ibu hamil, dan non-perokok, pesannya harus tetap tegas: jangan gunakan vape. Tetapi untuk perokok dewasa, menolak seluruh kerangka harm reduction sama saja dengan menutup kemungkinan penurunan risiko dari produk yang secara historis paling mematikan, yaitu rokok yang dibakar. Dalam kerangka itu, menyebut vape sebagai narkoba bukan sekadar tidak akurat; itu juga buruk secara ilmiah dan berbahaya secara kebijakan.
Paido Siahaan, Ketua AKVINDO (Asosiasi Konsumen Vape Indonesia)
Simak juga Video: Bareskrim Ungkap Manipulasi Obat Keras Etomidate dalam Vape
(prf/ega)