Ada satu pengalaman yang diam-diam dirasakan banyak pekerja kota dalam beberapa tahun terakhir: hidup terasa lebih ringan ketika tidak harus pergi ke kantor setiap hari.
Pagi tidak lagi dimulai dengan rasa terburu-buru. Tidak ada energi yang habis di jalan sebelum pekerjaan benar-benar dimulai. Ada waktu untuk sarapan. Ada ruang untuk sekadar duduk sebentar tanpa merasa bersalah. Hal-hal kecil seperti ini ternyata punya dampak besar pada kualitas hidup.
Karena itu, wajar jika bekerja dari rumah β WFH β mulai dipandang sebagai solusi. Ia dianggap mengurangi kemacetan, menekan biaya hidup, bahkan membantu lingkungan. Tetapi mungkin kita perlu melihatnya dari sudut yang berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengapa bekerja dari rumah bisa terasa seperti penyelamat hidup urban? Jawaban yang mungkin tidak nyaman adalah karena kota selama ini berkembang terlalu cepat tanpa benar-benar dirancang untuk manusia yang tinggal di dalamnya.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan lebih dari 60 persen penduduk Indonesia kini hidup di kawasan perkotaan. Urbanisasi akan terus meningkat dalam dua dekade ke depan. Kota menjadi magnet ekonomi. Orang datang karena pekerjaan ada di sana.
Namun pekerjaan tidak selalu diikuti oleh ruang hidup yang layak. Hunian terjangkau semakin menjauh dari pusat ekonomi. Banyak keluarga akhirnya tinggal di pinggiran kota atau wilayah peri-urban. Dari sanalah perjalanan panjang setiap hari dimulai.
Di metropolitan besar, perjalanan pulang-pergi dua hingga tiga jam bukan lagi cerita luar biasa. Ia menjadi rutinitas. Dalam konteks seperti ini, WFH memang terasa seperti pembebasan. Ia menghapus perjalanan yang selama ini dianggap normal, padahal sebenarnya tidak rasional.
Tetapi manfaat besar itu juga bisa dibaca sebagai indikator kegagalan. Kota yang dirancang dengan baik seharusnya tidak membuat warganya harus "menghilangkan perjalanan" agar hidup terasa masuk akal. Jarak antara rumah dan pekerjaan seharusnya masih manusiawi. Transportasi publik seharusnya cukup andal untuk menjadi pilihan utama. Ketika WFH memberi dampak dramatis, itu berarti sebelumnya ada inefisiensi dramatis pula.
Untuk melihat potensi dampaknya lebih jauh, bayangkan sebuah simulasi sederhana. Jika sekitar 30 persen pekerja formal di Jakarta bekerja dari rumah dua sampai tiga hari dalam seminggu, volume komuter harian tentu akan turun. Kemacetan bisa sedikit mereda. Konsumsi bahan bakar berkurang. Bahkan kualitas udara mungkin membaik pada hari-hari tertentu.
Namun perubahan perilaku ini juga akan memengaruhi cara orang memilih tempat tinggal. Tanpa kewajiban hadir setiap hari di kantor, sebagian pekerja akan merasa tidak perlu tinggal dekat pusat kota yang mahal. Mereka pindah lebih jauh β mencari rumah lebih luas, harga lebih rendah, atau lingkungan yang lebih nyaman.
Keputusan ini rasional secara individu. Tetapi jika terjadi secara massal, kota akan melebar. Permukiman baru tumbuh di pinggiran. Pemerintah harus memperluas infrastruktur: jalan, jaringan listrik, air bersih, sekolah, fasilitas kesehatan. Transportasi publik semakin sulit menjangkau kawasan yang menyebar. Ketergantungan pada kendaraan pribadi meningkat. Dalam jangka panjang, emisi yang sempat turun karena WFH bisa kembali naik.
Ironisnya, manfaat WFH hari ini justru bisa mempercepat pola urban sprawl yang membuat kota semakin mahal untuk dikelola di masa depan. Dampaknya juga terasa pada struktur ekonomi kota. Aktivitas kawasan bisnis bergantung pada mobilitas harian. Ketika arus pekerja berkurang, usaha kecil di sekitar kantor kehilangan pelanggan. Warung makan sepi. Transportasi lokal kehilangan penumpang. Ekonomi harian menjadi lebih rapuh.
Ini penting karena kemiskinan urban di Indonesia tidak kecil. Persentasenya memang lebih rendah dibanding desa, tetapi jumlahnya besar β jutaan orang hidup dalam kondisi rentan terhadap perubahan kecil dalam aktivitas ekonomi.
Artinya, WFH bisa membantu sebagian kelompok bertahan dari tekanan biaya hidup, tetapi sekaligus menggeser tekanan itu ke kelompok lain. Ia mengurangi beban mobilitas, tetapi tidak otomatis membuat kota lebih inklusif. Di titik ini, WFH sebaiknya dilihat bukan sebagai solusi utama, melainkan sebagai cermin. Cermin yang menunjukkan bahwa selama ini banyak warga kota menyesuaikan diri dengan sistem yang sebenarnya tidak efisien.
Kota masa depan tidak bisa hanya bergantung pada fleksibilitas kerja. Ia perlu perubahan yang lebih mendasar. Hunian terjangkau harus tersedia dekat pusat pekerjaan. Transportasi publik harus benar-benar dapat diandalkan. Aktivitas ekonomi perlu lebih tersebar agar mobilitas tidak selalu menumpuk di satu arah yang sama setiap pagi. Jika perubahan ini terjadi, bekerja dari rumah tetap akan berguna β tetapi bukan lagi sebagai penyelamat. Ia hanya menjadi salah satu pilihan dalam kehidupan urban yang sudah lebih sehat.
Dan mungkin di situlah tanda kota mulai benar-benar matang. Ketika hidup terasa manusiawi bahkan tanpa harus menjauh darinya.
Simak juga Video 'Purbaya Sebut WFH di Hari Jumat Bisa Hemat BBM: Tak Ganggu Ekonomi':
(imk/imk)










































