×
Ad

Kolom

Idul Fitri dan Refleksi Makna Perdamaian

Khulfi M Khalwani - detikNews
Rabu, 25 Mar 2026 17:19 WIB
Foto: Ilustrasi warga Iran mengikuti salat Idulfitri di tengah perang (AFP/STR)
Jakarta -

Dalam suasana saling memaafkan di hari Idul Fitri, selalu terbit harapan agar dunia pun bergerak menuju harmoni yang serupa. Namun kenyataan global kerap berjalan berlawanan arah. Di tengah lantunan takbir yang menggema, bara konflik justru tetap menyala, terutama dalam ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Kontras ini memunculkan pertanyaan mendasar: benarkah perdamaian dapat berdiri sendiri tanpa kesiapan untuk menjaganya? Pada titik inilah adagium klasik "Si vis pacem, para bellum" menemukan relevansi yang mendalam. Jika menginginkan perdamaian, maka kesiapan menghadapi perang menjadi keniscayaan.

Ungkapan yang dipopulerkan oleh Publius Flavius Vegetius Renatus tersebut tidak pernah dimaksudkan sebagai ajakan untuk berperang. Sebaliknya, adagium ini mengandung kesadaran filosofis bahwa perdamaian hanya dapat dipertahankan melalui kesiapan yang matang.

Dalam dimensi ontologis, "menghadapi perang" tidak sekadar berarti kesiapan tempur, melainkan kesadaran akan realitas eksistensial konflik dalam kehidupan manusia, bangsa, dan negara. Konflik bukan anomali, melainkan bagian inheren dari relasi antarbangsa. Pemikiran Carl von Clausewitz menegaskan bahwa perang merupakan kelanjutan politik dengan cara lain. Sebuah pandangan yang menempatkan konflik sebagai bagian tak terpisahkan dari dinamika kekuasaan global. Perang, dengan demikian, tidak dapat direduksi menjadi peristiwa militer semata. Namun tanpa kesiapan militer yang mumpuni, perdamaian juga akan mustahil tercapai.

Lebih lanjut, perspektif keamanan modern yang dikembangkan oleh Barry Buzan memperluas cakupan ancaman. Keamanan tidak lagi terbatas pada aspek militer, tetapi merambah dimensi sosial, ekonomi, hingga identitas. Dalam kerangka ini, perang hadir sebagai fenomena multidimensi yang melibatkan aspek politik, moral, ideologis, sosial, dan kultural. Oleh karena itu, menghadapi perang berarti membangun kesiapan yang menyeluruh terhadap berbagai bentuk ancaman, baik konvensional, asimetris, maupun hibrida.

Dalam kerangka tersebut, pemikiran Prof Amarulla Octavian dalam buku Filsafat Ilmu Pertahanan menegaskan bahwa pertahanan negara merupakan upaya kolektif yang melibatkan negara, masyarakat, dan individu sebagai satu kesatuan eksistensial. Menghadapi perang, dalam makna ontologis, adalah sikap menjaga keberlangsungan hidup bangsa—bukan dorongan untuk menciptakan konflik, melainkan kesadaran untuk mempertahankan eksistensi nasional.

Bagi Indonesia, kesadaran ini berakar kuat pada prinsip "cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan". Perdamaian ditempatkan sebagai tujuan utama, namun tidak dipisahkan dari kesiapan untuk mempertahankannya. Perang menjadi pilihan terakhir demi menjaga kedaulatan dan nilai-nilai Pancasila.

Dalam konteks tersebut, menghadapi perang merupakan sikap ontologis untuk menjaga martabat bangsa, bukan untuk memupuk permusuhan. Di sinilah filosofi pertahanan Indonesia berkembang sebagai sintesis antara rasionalitas Barat dan kearifan Timur. Daya tangkal menjadi instrumen pencegahan konflik, sementara nilai harmoni, keseimbangan, dan kemanusiaan menjadi landasan etis dalam penggunaan kekuatan. Kekuatan tidak diarahkan untuk dominasi, melainkan untuk menjaga keseimbangan.

Relevansi pendekatan ini semakin nyata dalam kerangka ASTACITA 2 yang menegaskan pentingnya kemandirian strategis bangsa. Dalam lanskap global yang sarat ketidakpastian, kemandirian bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Kesiapan menghadapi ancaman menjadi bagian dari upaya menjaga kedaulatan, sekaligus memastikan Indonesia tetap tegak dalam pusaran geopolitik dunia.

Pada akhirnya, Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga momentum refleksi tentang makna perdamaian yang lebih hakiki. Perdamaian bukan sekadar absennya konflik, melainkan hasil dari kesadaran, kesiapan, dan kebijaksanaan. Dunia mungkin tidak pernah sepenuhnya bebas dari konflik, tetapi peradaban yang matang adalah peradaban yang mampu merawat damai tanpa kehilangan kewaspadaan.

Dalam terang adagium si vis pacem, para bellum, menjadi jelas bahwa perdamaian sejati lahir dari kesiapan yang utuh—moral, intelektual, dan institusional. Bukan untuk menciptakan perang, melainkan untuk memastikan bahwa setiap ancaman dapat dihadapi tanpa kehilangan martabat.

Idul Fitri mengajarkan kemenangan atas diri sendiri. Dalam skala yang lebih luas, kemenangan sebuah bangsa terletak pada kemampuannya menjaga perdamaian—dengan kekuatan yang terkendali, kebijaksanaan yang mendalam, serta kesadaran eksistensial bahwa damai bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari kesiapan yang terus dirawat.

Khulfi M. Khalwani. Mahasiswa Program Doktor Konsentrasi Keamanan Nasional, Universitas Pertahanan RI.

Tonton juga video "Momen Idul Fitri, Menikmati Jakarta Saat 'Sepi'"



(rdp/imk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork