Memuja Perang, Merindukan Perdamaian: Si Vis Pacem Para Bellum
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Memuja Perang, Merindukan Perdamaian: Si Vis Pacem Para Bellum

Selasa, 10 Mar 2026 15:30 WIB
Febryanto Silaban
Mantan wartawan, pemerhati bahasa, dan praktisi Public Relations di sektor privat. Ia merupakan alumni program S-2 bidang Kebijakan Publik dari Universitas Indonesia.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Ilustrasi Konflik Iran dan Amerika Serikat
Foto: Ilustrasi perang Iran dan AS (EduRaw/Pexels)
Jakarta -

"Jika kau mendambakan perdamaian, bersiaplah untuk perang." Kalimat itu bergema di ruang bioskop yang gelap saat John Wick---sang Baba Yaga---kembali mengangkat senjatanya di sekuel ketiga, Parabellum. Bagi sebagian besar penonton, kalimat itu terdengar gagah, sebuah pembenaran atas kekerasan demi mencapai titik tenang. Namun, saat kita melangkah keluar dari teater dan melihat tajuk berita hari ini, pepatah Latin ini tak lagi terasa seperti fiksi aksi. Ia terasa seperti peringatan yang menghantui.

Dari Selat Hormuz yang membara hingga padang rumput Ukraina yang hancur, dunia tampaknya sedang mengikuti diktum kuno ini dengan kepatuhan yang mematikan. Dunia menahan napas, menyaksikan bagaimana "persiapan perang" justru melahirkan perang itu sendiri. Tapi, benarkah kita memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh sang pencetus kalimat ini? Ataukah kita sedang terjebak dalam salah paham sejarah yang fatal?

Bukan Seruan Perang: Menemukan Sang Penulis

Banyak yang mengira Si Vis Pacem Para Bellum adalah semboyan jenderal haus darah. Padahal, kalimat ini tidak berasal dari mulut seorang penakluk, melainkan dari pena seorang penulis teori militer Romawi bernama Publius Flavius Vegetius Renatus pada akhir abad ke-4 Masehi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam karyanya, Epitoma Rei Militaris, konteks aslinya jauh dari glorifikasi agresi. Kalimat aslinya adalah "Igitur qui desiderat pacem, praeparet bellum." Terjemahan harfiahnya: "Oleh karena itu, barangsiapa menginginkan perdamaian, hendaknya ia mempersiapkan perang".

Perbedaan ini bukan sekadar permainan kata. Kata praeparet (hendaknya mempersiapkan) menggunakan bentuk subjunctivus, yang dalam tata bahasa Latin menunjukkan sebuah kemungkinan, harapan, atau kewajiban moral, bukan perintah absolut.

ADVERTISEMENT

Vegetius menulis ini saat Kekaisaran Romawi sedang dalam masa kemunduran. Baginya, persiapan perang bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk deterensi (pencegahan). Makna sebenarnya, militer yang kuat dan terorganisir adalah instrumen pencegah agar pihak lain tidak berani memulai konflik.

Ironisnya, Vegetius menekankan bahwa prajurit yang terlatih dengan baik adalah mereka yang paling enggan berperang karena mereka tahu persis biaya dari sebuah kehancuran. Jadi, esensi aslinya bukanlah tentang "ayo menyerang," melainkan tentang "jangan sampai kita bisa diserang."

Geopolitik: Saat Pencegahan Menjadi Provokasi

Namun, batas antara "bersiap" dan "memulai" kian kabur dalam situasi global sejak beberapa tahun terakhir ini. Dunia hari ini adalah laboratorium raksasa bagi pepatah Vegetius, tapi dalam versi yang jauh lebih gelap.

Konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah mencapai titik nadir setelah tewasnya jajaran petinggi Teheran. Langkah Iran menutup Selat Hormuz-jalur vital yang dilalui 20% minyak dunia-bukan sekadar gertakan. Itu adalah cekikan pada nadi ekonomi dunia. Sementara itu, bara di Rusia-Ukraina yang belum padam ditambah konflik baru Pakistan-Afghanistan menciptakan efek domino yang menyeret Arab Saudi, UEA, Bahrain, Yordania, hingga Qatar ke dalam posisi siaga satu.

Di sini, Si Vis Pacem Para Bellum berubah menjadi paradoks. Ketika semua orang "bersiap untuk perang" demi "menginginkan damai," yang tercipta bukanlah perdamaian, melainkan dilema keamanan. Saat satu negara memperkuat diri untuk merasa aman, tetangganya merasa terancam, lalu ikut memperkuat diri. Hasil akhirnya? Sebuah lingkaran setan menuju kehancuran kolektif.

Antitesis: Adakah Jalan Lain?

Jika Si Vis Pacem Para Bellum terasa terlalu dingin dan militeristik, sejarah Latin juga menyimpan kontra-narasi yang menarik. Pada tahun 1919, bertepatan dengan berdirinya Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), sebuah motto baru diperkenalkan: Si vis pacem, cole justitiam. Artinya, "jika kau menginginkan perdamaian, pupuklah keadilan."

Sebuah pernyataan yang revolusioner. Para pemimpin dunia pasca-Perang Dunia I menyadari bahwa perdamaian abadi tidak bisa dibangun di atas tumpukan senjata, melainkan di atas fondasi keadilan sosial. Ketika negara-negara di Timur Tengah bersiap perang, akar sesungguhnya seringkali adalah ketidakadilan: sumber daya yang dikuasai segelintir elit, kesenjangan yang melebar, dan aspirasi rakyat yang terabaikan.

Di Indonesia, cole justitiam (pupuk keadilan) bisa berarti memastikan energi tidak hanya dinikmati segelintir orang, memperkuat industri dalam negeri, membangun ketahanan pangan, dan menciptakan sistem ekonomi yang tidak rentan terhadap guncangan global. Ini adalah "persiapan perang" dalam arti sesungguhnya: membangun negara yang tangguh dari dalam.

Ada juga yang mencetuskan pepatah si vis pacem, para pacem (jika kau mendambakan perdamaian, siapkanlah perdamaian). Konsep ini menawarkan pendekatan melalui diplomasi, ketergantungan ekonomi yang sehat, dan keadilan sosial. Jika kita terus-menerus membangun bunker, kita akan menghabiskan hidup kita di bawah tanah. Jika kita membangun jembatan, kita punya kesempatan untuk berjalan di atasnya.

Kita berada di persimpangan jalan sejarah yang sangat tipis. Di satu sisi, realitas brutal geopolitik memaksa kita untuk mengasah pedang. Di sisi lain, kemanusiaan meneriakkan perlunya meja perundingan.

John Wick menggunakan prinsip Parabellum (perang total dan brutal) karena dia adalah seorang pembunuh yang tidak memiliki pilihan lain dalam dunia kriminal yang hitam-putih. Namun, negara dan pemimpin dunia bukanlah pembunuh bayaran dalam film aksi. Mereka memiliki tanggung jawab atas jutaan nyawa yang tak berdosa.

Memahami Si Vis Pacem Para Bellum secara membabi buta hanya akan membawa kita pada kehancuran yang diramalkan Vegetius. Kita harus sadar bahwa "persiapan" yang paling hakiki bukanlah soal berapa banyak nyawa musuh yang bisa kita ambil, melainkan seberapa lama kita bisa bertahan tanpa harus mengorbankan satu nyawa pun.

Sebab, pada akhirnya, ada satu hal yang pasti dalam setiap perang: pihak yang menang tetap akan menangis saat memakamkan prajuritnya.

Jadi, jika saat ini dunia terus berteriak "Para Bellum!", mungkin sudah saatnya kita berbisik pelan: Jika kau ingin damai, jangan cuma siapkan peluru, siapkan juga hati untuk bicara. Karena jujur saja, sekuat apa pun militer kita, jika stok BBM cuma cukup untuk 20 hari, sepertinya kita tidak punya waktu untuk memenangkan perang-kita bahkan mungkin tidak punya cukup bensin untuk sekadar pergi ke meja perdamaian.

Febryanto Silaban. Mantan wartawan, pemerhati bahasa, dan praktisi Public Relations di sektor privat. Ia merupakan alumni program S-2 bidang Kebijakan Publik dari Universitas Indonesia.

Simak juga Video: Puan Ungkap Perang Timur Tengah Bisa Ganggu Ekonomi RI

(rdp/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads