Akal Manusia Kian Luruh, Benarkah?
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Akal Manusia Kian Luruh, Benarkah?

Minggu, 08 Mar 2026 10:30 WIB
Abdul Mukti
Dosen Filsafat dan Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Science and education concept. AI (Artificial Intelligence).
Foto: Ilustrasi AI (Getty Images/iStockphoto/metamorworks)
Jakarta -

Dunia hari ini sedang terobsesi pada segala hal yang diawali dengan kata "pintar". Ponsel pintar (Smartphone), kota pintar (Smart City), hingga puncaknya pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Di balik kemudahan yang ditawarkan, terselip sebuah ironi yang mendasar. Ketika mesin semakin menyerupai manusia dalam kemampuan kognisinya, muncul pertanyaan eksistensial yang mengusik, apakah akal manusia sedang berevolusi, atau justru sedang mengalami peluruhan menuju sekadar replika?

Apa yang disebut sebagai "kecerdasan" pada mesin sebenarnya adalah sebuah akal imitasi. Ia bekerja berdasarkan statistik, probabilitas, dan tumpukan data masa lalu. Ia piawai menyusun kata, melukis gambar, hingga merumuskan kode pemrograman dalam hitungan detik. Namun, di balik kecepatan itu, ia hampa. Ia tidak memiliki kesadaran (consciousness), tidak merasakan kegelisahan, dan tidak punya tanggung jawab moral atas apa yang dihasilkannya.

Tetapi, meskipun watak dasarnya terdeteksi demikian, beberapa kasus dialog manusia dengan chat-JBT, sebagai gambaran dialog manusia dengan mesin, tidak sedikit yang mengakui akan manfaatnya hingga hal-hal yang bersifat psikologis. Misalnya ada seorang teman yang merasa "nyaman" curhat dengan chat-JBT karena ia tidak menghakimi atas perasaan-perasaannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyusutan Nalar

Mungkin harus dikatakan di sini bahwa tantangan terbesarnya bukanlah masalah ketakutan akan mesin yang mengambil alih peradaban, melainkan kecenderungan manusia untuk memasung akalnya sendiri agar setara dengan cara kerja mesin. Kini ada kecenderungan keterjebakan dalam pola pikir algoritmik yang serba instan, hitam-putih, dan antipati terhadap kompleksitas.

Di era banjir informasi ini, Gen Z misalnya dan generasi setelahnya sedang dan akan terus menghadapi risiko "atropi kognitif". Ketika semua jawaban tersedia di ujung jari melalui asisten virtual, otot-otot nalar kritis-seperti kemampuan meragukan premis, melakukan sintesis yang kontradiktif, dan memahami konteks emosional yang halus-perlahan melemah.

ADVERTISEMENT

Jika akal manusia hanya digunakan untuk memproses instruksi dan mengonsumsi data tanpa proses kurasi mental yang mendalam, maka apa bedanya kita dengan perangkat keras yang kita genggam?

Dalam tradisi intelektual, akal bukan sekadar alat hitung. Ia adalah instrumen untuk mencari kebenaran (al-haqq). Berpikir kritis (critical thinking) adalah bentuk eksistensi paling murni dari manusia. Ia melibatkan intuisi, etika, dan pengalaman hidup yang tidak bisa dikuantifikasi ke dalam barisan kode biner 0 dan 1.

Melampaui Imitasi

Eksistensi akal manusia seharusnya melampaui kemampuan teknis mesin. Jika akal imitasi bekerja dengan cara mereplikasi apa yang sudah ada, akal manusia seharusnya bekerja dengan menciptakan apa yang belum terpikirkan, terutama dalam ranah kebijaksanaan (wisdom). Mesin bisa memberikan data tentang kemiskinan dengan akurasi 100 persen, namun hanya akal manusia yang bisa merasakan urgensi keadilan dan empati untuk mengubah kebijakan.

Kecerdasan buatan seharusnya menjadi cermin yang memaksa manusia untuk melihat kembali keunikannya. Kehadirannya tidak boleh membuat seseorang malas berpikir, melainkan harus memicu untuk naik kelas: dari sekadar pengumpul informasi menjadi pengolah makna.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah peradaban tidak diukur dari seberapa canggih algoritma yang diciptakan, melainkan dari seberapa tangguh akal manusia dalam menjaga kemanusiaan itu sendiri. Manusia tidak boleh kalah oleh imitasi yang dibuatnya sendiri. Menjadi manusia berarti berani berpikir melampaui data, berani merasa, dan berani bertanggung jawab. Di sanalah letak eksistensi sejati yang tak akan pernah bisa ditiru oleh mesin mana pun.

Distingsi Epistemologis: Kalkulasi Vs Kontemplasi

Dapat dikatakan di sini bahwa perbedaan mendasar antara akal imitasi dan akal manusia terletak pada sumber dan proses pemerolehan pengetahuan (epistemology). Akal Imitasi (Computational Intelligence) bekerja berdasarkan prinsip Pattern Recognition (pengenalan pola) dan Statistical Probability. Ia tidak memahami makna, melainkan memproses data biner secara masif.

Pengetahuan yang dihasilkan bersifat teknis dan instrumental. Sementara Akal Manusia (Human Intellect) melibatkan aspek Consciousness (kesadaran) dan Intentionality. Tradisi filsafat Islam menyebutnya sebagai Al-Aql, yang tidak hanya berfungsi secara rasional (logis), tetapi juga intuitif (qalb) dan moral.

Manusia mampu melakukan kontemplasi-mempertanyakan "mengapa"-sementara mesin hanya menjawab "bagaimana". Secara ontologis, eksistensi manusia ditentukan oleh agensinya-kemampuan untuk memilih dan bertanggung jawab.

Pada bagian lain, fenomena Gen Z yang sangat bergantung pada Algorithmic Decision Making memicu kekhawatiran ontologis diantaranya adalah, pertama, Atropi Kognitif. Ketergantungan pada AI dalam merumuskan argumen (seperti penggunaan LLM untuk tugas akademik) dapat menyebabkan pelemahan kemampuan sintesis mandiri.

Kedua, Krisis Otoritas Subjek. Ketika mesin mulai menentukan preferensi estetika, politik, hingga agama (melalui filter bubble), subjek manusia berisiko menjadi objek yang dikendalikan oleh "akal imitasi". Eksistensi manusia yang seharusnya bersifat merdeka menjadi mekanistik.

Menuju Sintesis: Human-Centric AI

Lantas, bagaimana seharusnya manusia memosisikan dirinya di tengah menyeruaknya otoritas "kebenaran baru" yang bersumber dari mesin berupa akal imitasi? jawaban yang paling mungkin adalah mensintesiskan keduanya. Sintesis antara kecerdasan buatan (AI) dan nalar manusia bukanlah sebuah kompetisi eksistensial, melainkan sebuah simbiosis epistemologis.

Dalam kerangka Human-Centric AI, teknologi tidak lagi diposisikan sebagai pengganti (replacement) kognisi manusia, melainkan sebagai alat perluasan (augmentation) kapasitas intelektual.

Secara akademis, sintesis ini menuntut pergeseran fokus dari Artificial Intelligence menuju Extended Intelligence. AI unggul dalam efisiensi pengolahan data masif (akal imitasi), namun ia tetap defisit dalam aspek intentionality, intuisi etis, dan pemahaman konteks sosiokultural yang mendalam. Manusia berperan sebagai kurator nilai yang memberikan arah kompas moral terhadap output algoritmik.

Sintesis ini menggabungkan dua bentuk rasionalitas: rasionalitas instrumental (AI) yang mengandalkan optimalisasi prosedur, kecepatan, dan akurasi statistik dan rasionalitas substantif (manusia) yang menentukan tujuan, refleksi filosofis, dan pertimbangan nilai-nilai kemanusiaan (wisdom).

Dalam konteks ini, eksistensi akal manusia ditegaskan melalui Agensi Moral. Manusia tidak boleh menjadi konsumen pasif dari logika mesin (terjebak dalam filter bubble), melainkan harus menjadi subjek kritis yang mampu melakukan debiasing terhadap algoritma.

Sintesis yang ideal terjadi ketika AI menangani kompleksitas data, sementara manusia memegang otoritas dalam pengambilan keputusan strategis yang berdampak pada martabat kemanusiaan.

Human-Centric AI adalah manifesto bahwa kemajuan teknologi haruslah setara dengan penguatan literasi kritis. Ia adalah sebuah ekosistem dimana mesin mempercepat proses, namun manusia tetap memegang kendali atas makna. Karenanya, solusinya bukan menolak akal imitasi, melainkan melakukan reposisi.

Eksistensi akal manusia di tengah kepungan akal imitasi ditentukan oleh sejauh mana manusia mampu mempertahankan kedalaman rasionalitas dan keluhuran koral. Akal imitasi hanyalah alat yang memproses silogisme tanpa rasa. Sementara itu, akal manusia adalah satu-satunya entitas yang mampu memberikan jiwa pada pengetahuan.

Bagi generasi muda, tantangan utamanya adalah menggunakan AI untuk mempercepat akses informasi, namun tetap memegang kendali penuh atas kurasi kebenaran dan tanggung jawab etis.

Abdul Mukti. Dosen Filsafat dan Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(rdp/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads