×
Ad

Kolom

Kecelakaan bagi yang Berpuasa

Wahyuddin Luthfi Abdullah - detikNews
Kamis, 26 Feb 2026 11:25 WIB
Foto: Ilustrassi puasa (Freepik)
Jakarta -

Ramadan selalu kita sambut sebagai bulan keselamatan. Bulan pahala dilipatgandakan. Bulan ampunan dibuka lebar. Bulan takwa dijanjikan. Tetapi ada satu sisi yang jarang kita bicarakan: kemungkinan "kecelakaan". Ya, kecelakaan.

Bukan kecelakaan di jalan raya. Melainkan kecelakaan spiritual ketika ibadah yang seharusnya menyelamatkan justru berubah menjadi sebab kerugian.

Al-Qur'an menyebut tujuan puasa dengan kalimat yang menarik: "la'allakum tattaqun" agar kamu bertakwa (QS Al-Baqarah: 183). Kata la'alla bukan bahasa kepastian, melainkan harapan. Artinya, puasa adalah peluang menuju takwa, bukan jaminan otomatis. Dan setiap peluang selalu mengandung risiko gagal.

Pola Berulang dalam Ibadah

Al-Qur'an menunjukkan pola yang konsisten: setiap ibadah memiliki dua kemungkinan mengangkat derajat atau justru menjadi sebab kecelakaan. Shalat dipuji sebagai pencegah perbuatan keji dan mungkar. Tetapi ada ayat yang menyatakan: "Celakalah orang-orang yang shalat." Bukan karena mereka tidak shalat, tetapi karena lalai dan kehilangan makna (QS Al-Ma'un).

Infak dijanjikan pahala berlipat tujuh ratus kali (QS Al-Baqarah: 261). Namun pahala itu bisa gugur karena mengungkit dan menyakiti. Dan puasa tidak keluar dari pola ini!.

Nabi Muhammad ﷺ sudah memperingatkan: betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga. Itulah gambaran kecelakaan dalam ibadah.

Empat Kecelakaan Puasa

Setidaknya ada empat bentuk kecelakaan yang mengintai orang yang berpuasa. Pertama, kecelakaan niat. Puasa sangat bergantung pada keikhlasan. Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa puasa itu untuk Allah ﷻ dan Dia sendiri yang membalasnya. Keistimewaan ini sekaligus menjadi ujian paling sunyi: apakah benar ia dilakukan karena Allah ﷻ , atau karena faktor lain gengsi sosial, tekanan lingkungan, atau sekadar ikut tradisi?

Jika niat bergeser, maka yang tersisa hanya lapar dan haus. Secara lahir sah. Secara batin bisa kosong.

Dan ibadah yang kosong adalah kecelakaan yang sering tidak terasa. Kedua, kecelakaan fondasi: puasa tanpa menjaga shalat.

Ada yang disiplin menahan makan dan minum, tetapi longgar dalam shalat wajib. Tarawih semangat, tetapi Subuh berat.

Padahal shalat adalah tiang agama. Jika fondasinya retak, bangunan spiritual akan ambruk. Dalam kondisi ini, kecelakaannya berlapis: puasa kehilangan daya transformasinya, dan shalat kehilangan ruhnya. Ramadan seharusnya memperbaiki kualitas ibadah yang paling mendasar, bukan sekadar menambah aktivitas seremonial.

Ketiga, kecelakaan perilaku: tidak meninggalkan zur. Nabi ﷺ bersabda bahwa siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta (zur), maka Allah ﷻ tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.

Zur bukan sekadar kebohongan verbal. Ia mencakup seluruh bentuk dosa dan kesia-siaan; fitnah, caci maki, ujaran kebencian, hingga perilaku digital yang sia-sia lagi merusak.

Di sinilah salah kaprah sering terjadi. Banyak orang memahami Ramadan hanya dalam rentang waktu sahur hingga berbuka. Seolah-olah kewajiban menahan diri berhenti saat azan magrib berkumandang. Padahal Ramadan adalah pendidikan 24 jam.

Jika siang hari kita menahan lapar, tetapi malamnya membiarkan diri tenggelam dalam kesia-siaan, maka esensi puasanya tercederai. Jika selama jam puasa kita menjaga lisan, tetapi setelah berbuka kembali merasa bebas mencela dan menyakiti, maka yang kita jaga hanya jadwal makan bukan diri kita.
Inilah kecelakaan perilaku: ibadah berjalan secara administratif, tetapi karakter tidak bergerak sedikit pun.

Keempat, kecelakaan terbesar: tanpa ampunan. Ramadan adalah bulan pengampunan. Namun Nabi ﷺ menyebut celaka bagi orang yang mendapati Ramadan tetapi tidak mendapatkan ampunan. Ini adalah paradoks yang serius. Bagaimana mungkin bulan yang penuh rahmat tidak meninggalkan bekas penghapusan dosa?

Jawabannya sederhana: karena puasa dan seluruh rangkaian ibadahnya dijalani tanpa kesungguhan. Ramadan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah momentum transformasi. Jika setelah sebulan penuh kita tetap sama; cara berbicara tetap kasar, cara bersikap tetap angkuh, kebiasaan buruk tetap dipelihara, maka ada yang keliru dalam cara kita berpuasa.

Antara Keselamatan dan Kecelakaan

Puasa adalah peluang besar menuju takwa. Tetapi peluang selalu memiliki sisi risiko.

Tanpa niat yang lurus, tanpa fondasi shalat yang kokoh, tanpa pengendalian perilaku sepanjang hari; bukan hanya dari sahur sampai berbuka, dan tanpa kesungguhan mencari ampunan, puasa bisa kehilangan maknanya dan menjadi "kecelakaan".

Kita sering merasa aman hanya karena berpuasa. Padahal yang membatalkan nilai puasa bukan hanya makanan dan minuman, tetapi hati yang tidak pernah tunduk.

Kecelakaan terbesar dalam Ramadan bukanlah rasa lapar. Melainkan ketika bulan suci itu berlalu, sementara diri kita tetap sama dan takwa yang dijanjikan tidak pernah benar-benar diraih.


Wahyuddin Luthfi Abdullah. Dosen Pendidikan Agama Islam, Universitas Andalas, Padang.

Tonton juga video "Puasa sebagai Detox dari "Overload Informasi""





(rdp/imk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork