Mengapa dasar hukum kewajiban berpuasa Ramadhan dikaitkan dengan puasa yang pernah diwajibkan kepada umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW? Ayat 183 Surat al-Baqarah itu mengisyaratkan bahwa ibadah puasa Ramadhan maupun di luar Ramadhan itu sangat bermanfaat bagi umat manusia, khususnya umat Islam. Puasa itu sarat hikmah dan manfaat yang luar biasa.
Oleh karena itu, Allah SWT mempertegas nilai plus puasa itu dengan menyatakan: "Kalian berpuasa itu lebih baik, jika kalian mengetahui." (QS Al-Baqarah [2]: 184).
Penegasan "puasa itu lebih baik" disertai dengan syarat "jika kamu mengetahui" atau memiliki ilmu tentang puasa dapat dimaknai bahwa puasa bermakna (meaningful fasting) itu harus berbasis ilmu yang memadai, selain iman yang kuat.
Jadi, ibadah puasa yang dapat menjadikan hidup muslim lebih baik adalah puasa berbasis ilmu, bukan sekadar puasa menahan rasa haus dan lapar. Puasa berbasis iman dan ilmu idealnya dapat mengantarkan kepada tujuan berpuasa, yaitu menjadi hamba yang bertakwa.
Pada suatu ketika, Rasulullah SAW bertanya kepada sahabat Muadz bin Jabal RA. Maukah aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? "Tentu saja, ya Rasul", jawab Muadz.
Rasul kemudian menerangkan bahwa pintu-pintu kebaikan itu adalah berpuasa sebagai perisai; bersedekah sebagai pemadam kesalahan sebagaimana air memadamkan api; dan shalat seseorang di tengah malam (qiyamul lail) (HR an-Nasa'i).
Bagaimana menjadi puasa Ramadhan sebagai perisai diri atau benteng moral penangkal segala keburukan dan perbuatan dosa?
Berbagai riset tentang puasa menunjukkan bahwa sesungguhnya kehidupan manusia dan makhluk Allah lainnya memerlukan puasa. Artinya, puasa itu merupakan kebutuhan eksistensial yang secara sistemik harus dijalani agar hidup normal, tetap sehat dan terbebas dari penyakit. Bahkan puasa itu menjadi tindak preventif dan kuratif, atau menjadi terapi alami (natural healing) terhadap berbagai penyakit.
Beberapa makhluk Allah selain manusia ternyata juga berpuasa secara alamiah. Ular dan semut berpuasa dengan tidak bergerak dan tidak makan di lobang persembunyiannya beberapa hari atau bulan. Unggas seperti ayam dan bebek tidak makan dan tidak minum dalam waktu tertentu untuk mengerami telurnya agar bisa menetas.
Beberapa jenis ikan yang bermigrasi dari tempat asalnya ke tempat lain yang menempuh jarak berkilo-kilo meter dan dalam beberapa minggu tanpa makan. Burung yang bermigrasi ke tempat sangat jauh terbang dengan lebih gesit dan ringan juga dalam kondisi berpuasa. Beruang kutub selama lima bulan berdiam diri setiap tahun juga tanpa makan.
Dengan demikian, puasa merupakan salah satu kebutuhan makhluk hidup, termasuk manusia, demi transformasi menuju kondisi yang lebih baik. Ulat berpuasa dalam kepompong selama kurang lebih 36 hari. Saat belum puasa ulat itu menjijikkan dan menakutkan, namun setelah berpuasa bertransformasi menjadi kupu-kupu yang indah, menarik, dan setiap orang ingin mendekati dan memegangnya.
Puasa Ramadhan harus dijalani sebagai proses dan sarana untuk melakukan transformasi mental spiritual dari manusia "pengabdi perut dan nafsu syahwat" (abdul bathni wa abdul hawa) menjadi hamba Allah yang memiliki kedekatan vertikal dan horizontal, dengan Allah dan sesamanya.
Oleh karena itu, iman yang kuat dapat membuat hati tulus ikhlas dalam merespon dan menjalani ibadah Ramadhan. Ketika hati yang bersih itu diseru oleh Allah dan Rasul-Nya berpuasa, maka dengan senang hati dan rasa syukur yang tinggi, orang-orang beriman bersikap sami'na wa atha'na (siap sedia sepenuh hati melaksanakan ketaatan) dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan.
Iman dalam hati sanubari yang bersih itu merupakan energi positif yang menggerakkan orang-orang beriman untuk bersabar dalam mengendalikan diri, mengelola gejolak hawa nafsu, dan menangkal aneka godaan setan yang merasuki dirinya.
Iman sebagai landasan dan modal utama berpuasa menjadikan hamba selalu merasa diawasi dan diaudit oleh Allah, sehingga baginya Allah selalu menyertai dan hadir dalam kehidupannya. Keyakinan terhadap muraqabatullah (merasa diawasi Allah) ini sangat penting, karena hal ini membuat dirinya memiliki kesadaran prima dan komitmen spiritual yang kuat untuk hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Kesadaran ini membuatnya tidak menyisakan ruang untuk melakukan perbuatan yang dilarang dan dibenci-Nya. Dengan iman yang mantap, hamba dapat merasakan nikmat dan indahnya ibadah puasa Ramadhan.
Jika iman itu merupakan kekuatan batin (inner power) yang menggerakkan, maka ilmu itu merupakan kompas penunjuk arah dan pemandu jalannya kehidupan. Dengan ilmu, hamba mendapat petunjuk dan bimbingan ke jalan yang benar. Dengan ilmu pula, ibadah Ramadhan menjadi penuh makna, mengandung banyak hikmah kehidupan, sekaligus menjadi media transformasi mental spiritual dan moral menuju peningkatan kualitas iman, ilmu, dan amal saleh.
Jadi, iman dan ilmu yang menjadi fondasi gerak laku ibadah Ramadhan bermakna (meaningful fasting) dapat mengantarkan shaimin (orang-orang yang berpuasa) menjadi hamba bertakwa yang dikasihi, dirahmati, dan diampuni oleh Allah.
Shaimin dan shaimat perlu meneguhkan keimanannya bahwa ibadah Ramadhan berbasis iman, ilmu, dan spirit menggapai ridha Allah dapat membuahkan pengampunan dosa-dosa dari Allah SWT (HR al-Bukhari dan Muslim). Semoga iman yang mantap dan ilmu yang memadai menjadi pembuka pintu rahmat dan ampunan-Nya di bulan suci ini. Wallahu a'lam bi ash-shawab!
Muhbib Abdul Wahab. Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah. Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah.
Tonton juga video "Ramadan: Waktu Terbaik Jadi Versi Terbaik"
(rdp/imk)