Keputusan Presiden Prabowo Subianto menyiapkan delapan ribu personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) di bawah naungan Board of Peace (BoP) bukan sekedar aksi solidaritas biasa.
Jika kita analisis dengan teliti, aksi tersebut merupakan sebuah langkah masterclass diplomasi dengan paduan pragmatisme militer dan strategi politik tingkat tinggi. Pertanyaanya, apa agenda besar yang tersimpan dalam aksi tersebut?
Prabowo sangat memahami posisi Indonesia sebagai entitas politik yang kekuatannya tergantung pada jejaring komunitas global. Selain Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Indonesia juga masuk ke dalam BoP. "Gol" Politiknya sangat jelas, yaitu membangun blok penyeimbang geopolitik global yang tidak menentu.
Dalam politik, jika suatu entitas ingin mengubah kebijakan kekuatan yang lebih besar, berteriak dari luar tembok besar sering kali tidak efektif. Bergabungnya Indonesia ke BoP merupakan strategi politik "masuk ke dalam kamar" sehingga Indonesia bisa memberikan tekanan langsung kepada Amerika Serikat (AS) secara diplomatik.
Indonesia ingin memastikan bahwa suara kemerdekaan dan perdamaian Palestina didengar langsung oleh pengambil kebijakan AS--yang selama ini dianggap pendukung Israel, tanpa perantara. Kerjasama ini bukan berarti Indonesia mendukung kebijakan kontroversi AS terhadap Palestina selama ini, melainkan upaya menggunakan Barat untuk perdamaian di Timur Tengah.
Melalui AS, Indonesia ingin memastikan bantuan untuk rakyat Palestina benar-benar sampai dan agresi militer Israel berhenti--dengan tetap konsisten berdiri mendukung kemerdekaan Palestina.
Ada beberapa alasan strategis di balik langkah politik Indonesia tersebut. Pertama, rencana kehadiran TNI yang profesional dan "netral" memberikan opsi kepada global bahwa Indonesia merupakan Negara yang memberikan perspektif berbeda dalam merespon krisis kemanusiaan di Palestina. Ia memberi pesan kuat bahwa menjaga perdamaian tidak harus melakukan konfrontasi terbuka dengan pihak agresi.
Artinya, Indonesia sedang memobilisasi dukungan global melalui misi stabilitas internasional, bukan dengan narasi "perang melawan teror". Dengan posisi ini, Indonesia menjadi satu-satunya Negara yang konsisten terhadap isu krisis kemanusiaan dan perdamaian dunia.
Kedua, dengan memanfaatkan pengaruh AS, Indonesia sejatinya sedang membangun "jembatan emas" untuk masuk ke jantung krisis. Selama ini Indonesia bergerak tanpa melibatkan AS secara langsung, sehingga sering kali properti dan bantuan kemanusiaan yang masuk ke Palestina diblokade di perbatasan. Sehingga bergabungnya ke dalam BoP, secara otomatis Indonesia memaksa AS untuk mengamankan bantuan medis dan pasukan rekonstruksi masuk dengan aman.
Ketiga, dalam situasi geopolitik saat ini, Indonesia sangat memahami jika ia bergerak dengan Negara-negara anti-AS, maka misi mulia ini akan di "cap" sebagai gerakan aliansi musuh Barat yang memicu sanksi atau tekanan ekonomi politik bagi Indonesia. Dengan memainkan strategi ini, Indonesia sedang membuat jalur khusus yang membuat Barat tidak punya alasan untuk menghalangi misi atau memberikan sanksi ekonomi Indonesia.
Negara Non-Blok yang Berpengaruh
Prabowo sering kali menyampaikan bahwa posisi Indonesia adalah sebagai Negara Non-blok yang modern. Karena itu, ia ingin perdamaian bukan hanya lembaran teori yang tersimpan di dalam lemari-lemari organisasi perdamaian dunia. Indonesia ingin menjadi Negara Muslim yang bisa berbicara dengan Palestina-Hamas, namun juga bisa duduk bersama dengan Blok-Barat.
Jika dalam waktu yang sama Indonesia membela Palestina mati-matian tanpa strategi yang tepat sekaligus memusuhi AS dan sekutunya secara total, maka ia telah gagal dan kehilangan kemampuannya untuk menjadi penengah yang efektif dan mematikan. Posisi unik inilah yang membuat Negara-negara--baik pendukung Palestina maupun sekutu AS, menghitung ulang strategi diplomatik Indonesia.
Ibarat kesebelasan sepak bola, Indonesia berkepentingan dalam mencetak "Gol". Pertama, mencetak gol taktis -jangka pendek yang harus dicapai sebagai wujud kredibilitas misi. Yaitu menciptakan stabilitas keamanan dan rehabilitasi infrastruktur. Dengan kehadiran pasukan perdamaian di bawah BoP, bantuan bisa masuk tanpa hambatan yang berarti.
Sedangkan melalui Korps Zeni TNI AD -bagian Insinyur pasukan Militer, Indonesia bisa dengan aman membangun kembali infastruktur mulai dari rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, sampai sistem air bersih yang hancur selama agresi Israel berlangsung. Terakhir, menyelamatkan nyawa rakyat Palestina dengan memberikan pelayanan medis skala besar yang selama ini terisolasi -dalam penjara terbesar, dengan akses kesehatan yang memadai.
Kedua, mencetak gol strategis. Ini merupakan permainan politik tingkat tinggi Prabowo. Indonesia tidak ingin hanya menjadi penyumbang dana atau penonton yang menunggu bola masuk dengan sendirinya ke dalam gawang. Dengan mengirim delapan ribu pasukan, ia secara otomatis memiliki hak suara dalam menentukan bagaimana masa depan Palestina akan dikelola pasca-konflik.
Disisi yang lain, Indonesia ingin memecah dominasi Negara-negara Arab-yang setengah hati, dalam isu perdamaian Palestina. Golnya adalah Indonesia menunjukkan bahwa ia merupakan Negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang mempunyai kekuatan demokrasi moderat, stabil, dan mampu bertindak sebagai penengah yang diterima di semua pihak -termasuk Blok-Barat.
Dalam waktu yang bersamaan, keberhasilan misi ini akan membuat Indonesia menjadi Negara yang terpandang dan menjadi global player baru yang netral dan bisa diandalkan. Dan dengan sendirinya, Indonesia menciptakan posisi tawar yang lebih kuat saat ia bernegosiasi dengan Negara adidaya--AS, Rusia, dan China, dalam isu-isu lain seperti ekonomi, politik, investasi dan hilirisasi.
Apa "Skor Akhir" yang Kita Harapkan?
Target gol di atas merupakan salah satu tujuan Konstitusi Indonesia. Yaitu dalam rangka melaksanakan amanat Undang Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 yang telah kita sepakati bersama untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Bergabung ke dalam BoP merupakan jalan yang harus ditempuh menuju kemerdekaan penuh Palestina dan berdampingan secara damai dengan Negara-negara lain dunia.
Skor akhirnya, Indonesia bukan Negara yang hanya datang dan membantu, melainkan menjadi Negara yang tampil menciptakan stabilitas dan memastikan kemerdekaan penuh Palestina melalui pengaruh yang dibangun bersama di dalam Board of Peace.
Tajussarofi. Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadia Jakarta, Peminat Kajian Timur Tengah.
Lihat juga Video 'Jenis Bom Israel yang Lenyapkan Ribuan Warga Palestina Tanpa Jejak':
(rdp/imk)