MBG di Kudus dan Lima Kunci Keamanan Makanan WHO
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

MBG di Kudus dan Lima Kunci Keamanan Makanan WHO

Minggu, 01 Feb 2026 08:49 WIB
Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit, Kepala Balitbangkes serta Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
MBG di Kudus dan Lima Kunci Keamanan Makanan WHO
Foto: Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (Antara Foto/Andry Denisah)
Jakarta -

Kita tahu bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) punya dampak yang amat positif bagi bangsa. Pemerintah kita menyebut setidaknya ada empat tujuan dan tentunya empat manfaat pula, yaitu gizi, pendidikan, kemiskinan dan ekonomi.

World Food Program (WFP) menyebutkan bahwa makan bergizi gratis bukan hanya sekedar sepiring makanan saja, tetapi memberi enam manfaat, yaitu kesehatan, pendidikan, ketahanan komunitas, kesetaraan gender, ekonomi dan stabilitas nasional.

Di sisi lain, kita tahu bahwa keracunan makanan akibat MBG masih dilaporkan terjadi. Detik.com 30 Januari 2026 menurunkan berita berjudul "109 Siswa SMAN 2 Kudus Diduga Keracunan Usai Santap MBG, Bupati Evaluasi".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dituliskan bahwa Bupati Kudus, Samani Intakoris mengatakan pihaknya bertindak cepat untuk melakukan penganan dugaan keracunan MBG ini. Pihaknya akan mengevaluasi terkait dengan MBG yang merupakan program Presiden Prabowo Subianto itu.

Sementara itu, detikfinance 6 Januari 2026 menurunkan berita berjudul "Saat Prabowo Klaim MBG Berhasil 99,99%". Dalam berita ini ditulis secara jelas bahwa Presiden Prabowo menyatakan secara statistik Makan Gratis boleh dibilang sukses dengan persentase 99,99%.

ADVERTISEMENT

Pemerintah pun akan terus mengejar agar kegagalan yang cuma nol koma sekian persen bisa diubah jadi keberhasilan.

Untuk melaksanakan arahan Presiden itu maka berbagai upaya keamanan pangan harus terus dilakukan. Untuk itu maka kita mengusulkan bahwa salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah merujuk pada anjuran WHO, lima kunci untuk makanan yang lebih aman (The Five Keys to Safer Food). Kunci penting pertama adalah selalu menjaga kebersihan.

Dalam hal ini ada tiga hal penting untuk selalu menjaga kebersihan, mencuci tangan dengan benar dan secara teratur, mencuci dan melakukan sanitasi pada semua permukaan serta lindungi alat-alat yang dipakai dalam proses penyiapan makanan, area dapur dan makanan dari serangga, tikus dan binatang lain.

Semua petugas perlu menyadari bahwa sesuatu yang kelihatannya bersih itu belum tentu benar-benar bersih. Bayangkan saja, baru sesudah ada lebih dari 2,5 milyar bakteri di dalamnya maka 250 mililiter air akan kelihatan keruh. Padahal, infeksi dengan hanya 15 sampai 20 bakteri patogen saja sudah dapat membuat seseorang jatuh sakit.

Kunci penting kedua adalah memisahkan bahan mentah dan makanan matang. Gunakan alat dapur yang berbeda untuk menangani bahan mentah dan matang. Ada pendapat yang menganjurkan bahkan penggunaan pisau dan telenan yang berbeda warna untuk makanan matang dan mentah, supaya tidak tercampur satu dengan lainnya.

Dalam tempat penyimpanannya juga harus dipisahkan antara bahan mentah dan makanan matang. Pemisahan yang tegas ini diperlukan untuk mencegah kontaminasi silang, utamanya dari bahan mentah ke masakan yang sudah matang.

Kunci ketiga adalah memasak makanan dengan benar, utamanya daging, ayam dan ikan serta sejenisnya. Anjuran WHO adalah memasaknya sampai suhu 70 C. Dengan suhu sampai 70 C ini maka dalam 30 detik mikroorganisme akan dapat dibunuh.

Disebutkan juga bahwa bakteri utamanya terletak di bagian pinggir daging, bukan di bagian tengahnya. Untuk sup dan masakan berkuah lainnya maka dianjurkan untuk dimasak sampai mendidih dan lalu dibiarkan setidaknya satu menit.

Kunci ke empat adalah bahwa makanan harus tersimpan dalam tempat dengan suhu yang aman. Untuk ini ada lima hal yang ditekankan. Ke satu, makanan matang hanya boleh dibiarkan di suhu ruangan selama 2 jam. Ke dua, makanan panas matang perlu terjamin dengan suhu di atas 60 C.

Ketiga, untuk yang harus disimpan di lemari es maka suhu harus terjaga, sekitar di bawah 5 C. Suhu di bawah 5 C dan di atas 60 C akan membuat pertumbuhan mikroorganisme melambat atau berhenti. Ke empat, jangan menyimpan makanan terlalu lama sekali di lemari es, dan ke lima jangan mencairkan makanan beku dengan mendiamkannya begitu saja di suhu ruangan.

Kunci kelima, selalu gunakan air dan bahan pangan mentah yang aman. Untuk air, jelas harus aman dan kalau diragukan maka harus diproses supaya menjadi aman. Juga harus digunakan bahan pangan mentah yang masih segar. Buah dan sayuran harus dicuci bersih sebelum di proses atau di konsumsi. Juga ditekankan bahwa jangan mengkonsumsi bahan makanan yang sudah lewat tanggal kadaluwarsanya.

Kita semua tentu berharap agar program MBG dapat memberi manfaat bagi bangsa kita. Antisipasi dan penanganan terhadap keracunan makanan harus menjadi bagian tidak terpisahkan dari program MBG, dan lima kunci dari WHO dapat dijadikan acuan pelaksanaannya.

Tjandra Yoga Aditama. Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit, Kepala Balitbangkes serta Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara.

Simak juga Video: Diduga Keracunan MBG, 64 Siswa SMAN 2 Kudus Alami Diare-Pusing

(rdp/fjp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads