Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri atau kerap disapa dengan Megawati hari ini genap berusia 79 tahun. Megawati lahir di Yogyakarta pada 23 Januari 1947 di saat bangsa Indonesia sedang mempersiapkan diri dalam menghadapi Agresi Militer Belanda yang ingin kembali ke menguasai Indonesia.
Ketika Megawati lahir ke dunia, rasa sakit mendera ibunya, Fatmawati akibat kontraksi. Lampu malam itu padam. Hujan dan angin ribut menyertai. Atap di atas kamar runtuh. Air hujan mengalir deras seperti sungai ke kamar.
Sekujur tubuh Fatmawati basah kuyup. Peralatan medis dokter pun ikut basah. Pada kegelapan itu dengan cahaya pelita lahirlah Megawati (Cindy Adams, 2020).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari kisah kelahiran Megawati memang perjalanan hidup berikutnya tak pernah mudah dan penuh perjuangan. Perjalanan hidup yang terbagi dalam 3 (tiga) bagian besar yaitu masa belajar, masa kebangkitan dan masa kejayaan.
Pada masa belajar Megawati menimba ilmu langsung dari ayahnya. Guru besarnya adalah Bung Karno dan materinya soal ideologi, politik, lingkungan, budaya hingga geopolitik didapatkannya dari Bung Karno.
Bisa dikatakan Megawati seutuh-utuhnya 100 persen adalah Bung Karno. Hal ini tidak hanya karena faktor biologis Megawati sebagai putri dari Sang Proklamator, tapi juga secara ideologis pemikiran politik Megawati tidak pernah bergeser pun dari ajaran Bung Karno.
Semua ilmu dari Bung Karno banyak didapatkan Megawati di meja makan. Bung Karno itu ketika makan cepat sekali. Paling lama 5 menit. Kebiasaan yang terbawa saat ia berada di penjara Sukamiskin Bandung di tahun 1930.
Pada durasi singkat itu pula Megawati memanfaatkan waktu untuk melakukan tanya jawab serta berdiskusi dengan ayahnya. Disitu pula Megawati memahami pikiran-pikiran Bung Karno.
Tidak hanya diskusi, Bung Karno juga mewajibkan anak-anaknya termasuk Megawati untuk mencintai seni sebagaimana perwujudan elemen berkepribadian dalam kebudayaan dalam elemen Trisakiti. Ada pun Megawati sejak usia lima tahun telah belajar menari. Ia menguasai tarian Jawa, Sunda dan Bali dengan baik.
PDI dan Masa Kebangkitan Megawati
Masa kebangkitan Megawati berawal dari keprihatinnya melihat kondisi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang lahir 10 Januari 1973.
Dimana PDI merupakan hasil fusi atau penggabungan partai yang dirikan oleh Bung Karno tahun 1927 yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) beserta empat partai lainnya, saat rezim Orde Baru memperketat kontrol terhadap partai-partai di Indonesia.
Dua kali Pemilu pasca fusi partai, posisi PDI nyaris tenggelam. Di Pemilu 1977 misalnya, PDI hanya mendapatkan 29 kursi di DPR RI kemudian di Pemilu 1982 perolehan kursi PDI turun menjadi 24 kursi.
Para tokoh-tokoh senior partai, dari : Sabam Sirait, Supeni, Soerjadi, Manai Sophiaan, hingga Soetardjo Soerjogoeritno mulai berpikir mengajak keluarga Soekarno masuk ke PDI. Namun, di masa itu ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa keluarga Soekarno tidak berpolitik praktis.
Pada awal tahun 1987, putri sulung Soekarno, Megawati Soekarnoputri secara mengejutkan mendaftar ke PDI. Megawati kemudian dipanggil oleh tokoh-tokoh senior partai ihwal alasan bergabungnya Megawati ke PDI di sebuah rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
"Ada apa om dan tante memanggil saya," tanya Megawati saat itu.
"Megawati itu sudah kami anggap sebagai anak kami. Sebenarnya anak kami ini (Megawati) mau kemana, kenapa masuk PDI?" tanya salah satu tokoh.
Sambil tersenyum, tenang dan yakin Megawati menjawab: Aku "naar" (menuju) Merdeka Utara.
Seisi ruangan hening. Semua terharu dengan jawaban Megawati. Pasalnya "Merdeka Utara" yang dimaksud Mega merujuk pada alamat Istana Kepresidenan di Jakarta.
Megawati kemudian dipercaya menjadi pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Jakarta dan menjadi juru kampanye resmi partai. Pada perjalanannya Megawati menjadi calon legislatif. Ia banyak blusukan dari satu wilayah ke wilayah lainnya di seluruh Indonesia.
Hasilnya pada Pemilu 1987, PDI meraih 40 kursi di DPR RI kemudian naik kembali menjadi 56 kursi di Pemilu 1992. Megawati juga terpilih menjadi anggota DPR RI masa bakti 1987-1992.
Besarnya pengaruh Megawati untuk PDI membuatnya dicalonkan dalam Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya tahun 1993. Namun, rezim Orde Baru tidak mengkehendaki pencalonan Megawati. Apalagi akhirnya Megawati terpilih secara konstitusional menjadi Ketua Umum PDI, sikap pemerintah berbalik arah dengan mendukung Soerjadi.
Pun sebelum pelaksanaan KLB nama Soerjadi sebenarnya sudah muncul sebagai calon ketua umum tapi tidak mendapatkan restu dari Presiden Soeharto. Pada perjalanannya pemerintahan Orde Baru akhirnya mendukung Soerjadi daripada Megawati yang dianggap sebagai representasi politik dari Soekarno.
Akibatnya PNI terbelah. Terjadi dualisme di tubuh PDI yaitu PDI Kubu Megawati dan PDI Kubu Soerjadi.
Konflik internal ditubuh PDI berlangsung hampir 3 tahun. Dimana kantor DPP PDI dijalan Diponegoro Nomor 58 ditempati oleh PDI Kubu Megawati.
Pada sabtu pagi di tanggal 27 Juli 1996, terjadi penyerangan ke kantor PDI sebagai puncak dari konflik internal. Tragedi itu memakan 5 korban jiwa, 5 orang 149 orang terluka dan 23 orang hilang. Ada pun peristiwa itu dikenal dengan Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli).
Setelah Peristiwa Kudatuli, Megawati dipersalahkan karena dianggap sebagai provokator sekaligus sumber masalah. Ia dikucilkan dalam pergaulan politik. Serangan fisik dan serangan verbal dialaminya disepanjang tahun 1996 sampai 1997.
Tak lama setelahnya, pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kehakiman mengesahkan PDI Kubu Soerjadi menjadi partai politik peserta Pemilu 1997.
Megawati melawan dengan mengumumkan bahwa dirinya memboikot pemilu. Karena alasan konflik internal dan ditinggal Megawati membuat konsolodasi partai tidak berjalan baik. Dampaknya PDI hanya meraih 11 kursi di Pemilu 1997.
Masa Kejayaan
Memasuki pertengahan tahun 1997, Indonesia mulai mengalami krisis sebagai dampak krisis moneter di Asia. Harga-harga sembako naik tajam seiring dengan nilai dollar atas rupiah yang semakin melemah dari yang sebelumnya Rp 2.300 per dolar di awal tahun 1997 hingga sempat menyentuh Rp.17.000 per dollar di tahun 1998.
Seiring dengan itu gejolak sosial dan politik tidak terhindarkan. Terjadi protes dan demonstrasi pada banyak wilayah utamanya kota-kota besar di Indonesia. Megawati kala itu dianggap kalangan masyarakat sipil sebagai seorang tokoh pemersatu yang membuatnya bertransformasi menjadi simbol perlawanan terhadap rezim otoritarianisme Orde Baru.
Puncaknya di tanggal 21 Mei 1998, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan presiden kemudian digantikan oleh Presiden BJ Habibie. Dan salah satu tuntutan gerakan reformasi kepada Presiden BJ Habibie adalah mempercepat pelaksanaan Pemilu paling lambat satu tahun yang artinya akan dilaksanakan pada tahun 1999.
Pada tanggal 8-10 Oktober 1998, PDI Kubu Megawati kemudian melaksanakan Kongres V di Bali demi persiapan menghadapi Pemilu 1999. Pelaksaan kongres PDI Kubu Megawati tersebut lalu mendapatkan protes dari Kubu Soerjadi yang merasa mereka adalah PDI yang sah. Dasarnya adalah PDI Soerjadi menjadi peserta Pemilu 1997.
Namun, sikap Presiden BJ Habibie sangat moderat dengan tetap memberi izin terhadap pelaksanaan kongres. Sekitar dua ratus ribu kader dan simpatisan hadir pada pembukaan kongres. Ada pun keputusan penting dalam pelaksanaan Kongres tersebut adalah mengubah nama PDI menjadi PDI Perjuangan. Selain itu secara aklamasi Megawati dikukuhkan sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan.
Pergantian nama PDI ke PDI Perjuangan bukan sekadar bertujuan membedakan yang mana PDI Kubu Megawati dan PDI Kubu Soerjadi. Jauh daripada itu, pergantian nama PDI ke PDI Perjuangan menjadi transformasi organisasi dalam hal ideologi, organisasi dan arah pergerakan partai.
Disinilah masa kejayaan Megawati berawal ketika PDI Perjuangan berhasil meraiih 33,74 persen suara nasional atau mendapatkan 154 kursi dari 462 kursi di DPR RI di Pemilu 1999. Juga pada tahun yang sama di Sidang Umum MPR RI tahun 1999, Megawati terpilih menjadi Wakil Presiden RI kemudian dua tahun setelahnya pada tahun 2001 naik menjadi Presiden RI.
Megawati dan Ketahanan Partai
Hasto Kristiyanto (2024) dalam disertasinya yang berjudul "Kepemimpinan Strategis Politik, Ideologi, dan Pelembagaan Partai serta Relevansinya terhadap Ketahanan Partai: Studi pada PDI Perjuangan" menjelaskan kunci kepemimpinan Megawati di PDI Perjuangan terletak pada ideologi yang kuat dan pelembagaan partai yang adaptif dalam membangun identitas kepartaian.
Hal ini sejalan dengan konsep identitas kepartaian atau party-ID Angus Campbell, Philip Converse, Warren Miller dan Donald E Stokes (1960) yang menjelaskan ketahanan partai akan terbentuk bila kombinasi antara ideologi, organisasi dan program partai memiliki keselarasan dengan psikologi pemilih partai.
Pada organisasi PDI Perjuangan dikenal istilah 'petugas partai' yang menjadi identitas kepartaian (party-ID). Hal ini merujuk pada kewajiban kader partai menjalankan semua kebijakan politiknya atas dasar ideologi dan manifesto perjuangan partai terhadap rakyat atau yang dalam istilah PDI Perjuangan kerap disebut 'wong cilik'.
Selama 6 (enam) kali pemilu di masa reformasi, PDI Perjuangan telah memenangkan 4 (empat) diantaranya yaitu Pemilu 1999, Pemilu 2014, Pemilu 2019 dan Pemilu 2024. Dimana pada setiap momentum pemilihan pola pergerakan partai bersifat adaptif menyesuaikan situasi politik existing di masa tersebut.
Posisi politik PDI Perjuangan pun dinamis, saat menang Pilpres maka posisi politiknya adalah konsisten berdiri sebagai bagian dari pendukung pemerintahan sebaliknya ketika kalah di Pilpres, posisi politiknya memilih di luar kekuasaan seperti yang terjadi di periode 2004-2009, periode 2009-2014 dan terakhir di periode 2024-2029.
Posisi politik PDI Perjuangan sejalan dengan sikap Megawati sebagai ketua umum. Akar dari kebijakan politik partai dipilih berdasarkan pilihan-pilihan yang konstitusional daripada pilihan keputusan politik yang sifatnya populis.
Kepemimpinan Megawati juga telah teruji dalam menghadapi segala macam cuaca politik sejak masa Orde Baru hingga Reformasi. Badai serangan politik, prahara dualisme kepengurusan yang penah mendelegitimasi kepemimpinannya dan kekeringan logistik dalam berjuang bersama PDI juga mampu dilewati. Megawati dengan keteguhan sikapnya juga terbukti tangguh pada pelbagai medan pertarungan elektoral di Indonesia.
Selamat Ulang Tahun ke-79, Megawati Soekarnoputri...
Anwar Saragih. Peneliti Megawati Institute
(rdp/rdp)










































