Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) No. 13 tahun 2025 menetapkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib untuk sekolah dasar (SD) mulai tahun ajaran 2027/2028 (deticom, 24/11).
Kemendikdasmen saat ini bersiap mengadakan bimbingan teknis bagi calon fasilitator program peningkatan kompetensi guru bahasa Inggris SD. Di kurikulum 2013, bahasa Inggris untuk SD berupa mata pelajaran pilihan. Kurikulum 1994 dan 2006 menjadikan bahasa Inggris muatan lokal mulai kelas 4 SD.
Kebijakan terkait bahasa Inggris untuk pendidikan dasar kerap berubah dan memantik polemik. Dibawa ke manakah pendidikan bahasa Inggris untuk SD?
Haruskah Belajar Lebih Awal?
Terdapat pandangan bahwa memulai pembelajaran bahasa Inggris sejak dini memberikan hasil yang lebih optimal bagi anak-anak. Keyakinan ini didasari oleh tiga manfaat utama: kemampuan membedakan bunyi bahasa yang lebih baik, minimnya beban emosional, dan rendahnya tekanan sosial.
Karakteristik otak memungkinkan anak-anak lebih cepat beradaptasi, memproses stimulus bahasa, dan mengenali satuan bunyi bahasa asing. Mereka cenderung tidak merasa takut atau malu saat melakukan kesalahan berbahasa.
Tuntutan lingkungan atau tekanan sosial berkenaan dengan kemampuan bahasa juga tidak seberat orang dewasa. Plastisitas otak serta perkembangan aspek emosi dan sosial ini mempermudah pemerolehan bahasa baru, khususnya terkait aksen dan keterampilan berbicara.
Meski demikian, penguasaan bahasa asing tidak hanya bergantung pada faktor usia atau dinilai semata-mata dari keterampilan berbicara. Studi menunjukkan orang dewasa bisa mencapai hasil yang unggul dalam penguasaan kosakata, tata bahasa, dan pemahaman nilai sosial-budaya. Berakhirnya 'periode kritis' di masa pubertas tidak lantas menghalangi pelajar dewasa untuk menguasai bahasa kedua atau bahasa asing dengan baik.
Selama 'periode sensitif' selepas pubertas, kemampuan pelajar dewasa untuk menguasai bahasa tambahan tidak terhenti, namun pendekatannya berubah sesuai perkembangan kognitif, afektif, dan sosial mereka.
Pada prinsipnya, tidak ada patokan waktu yang mutlak ideal untuk mulai belajar bahasa asing. Dengan motivasi kuat, sikap positif terhadap bahasa yang dipelajari, guru yang kompeten, cara belajar yang tepat serta lingkungan belajar yang mendukung, pelajar usia dewasa juga memiliki potensi untuk menguasai bahasa sasaran dengan cepat dan bahkan lebih baik dalam beberapa bidang kecakapan tertentu.
Sebaliknya, belajar bahasa asing sejak dini tanpa disertai sejumlah hal tersebut akan sulit membuahkan hasil yang maksimal.
Bahasa Inggris Kini dan Implikasinya
Bahasa berkembang mengikuti perubahan penutur dan penggunaannya. Pun demikian bahasa Inggris. Konteks sosial-budaya penutur dan penggunaan bahasa Inggris sebagai lingua franca global perlu dicermati, utamanya berkenaan dengan kerangka pikir dan opsi pedagogis yang diharapkan lebih relevan, responsif dan efektif.
Menyitir pendapat Graddol (1999), keberadaan satu penutur jati (native speaker) bahasa Inggris berbanding dengan tiga atau empat penuturnya sebagai bahasa kedua atau asing, dan angka ini diyakini terus berubah. Crystal (2003) mengatakan pusat perhatian terkait bahasa Inggris sekarang adalah nonpenutur jati (nonnative speaker).
Bahasa Inggris kini dipakai oleh penutur dari aneka negara, bahasa dan budaya. Diperkirakan ada lebih dari 1,5 miliar pengguna bahasa Inggris, dengan sekitar 400 juta penutur jati dan selebihnya penutur bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau asing.
Dewasa ini bahasa Inggris dipakai lebih banyak dalam komunikasi antara sesama penutur bahasa kedua atau asing di negara-negara nonpenutur bahasa Inggris (misalnya, WNI bercakap Inggris dengan warga Jepang di Mesir) daripada komunikasi antara penutur jati dengan penutur bahasa kedua. Juga, saat ini diperkirakan sekitar 50% komunikasi berbasis internet dalam bahasa Inggris, dengan kisaran hanya 25-30% penutur jati.
Perubahan latar belakang penutur dan konteks sosial-budaya penggunaan bahasa Inggris mendorong perlunya menggagas kembali model kompetensi, posisi budaya sasaran, dan peran bahasa pertama dalam pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia.
Pendekatan Pedagogis Alternatif
Prinsip dasar pendekatan antarbudaya (intercultural approach) dalam pendidikan bahasa asing memberi ruang bagi siswa, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan untuk beradaptasi dengan kondisi, kebutuhan dan tantangan siswa dan di saat yang sama menciptakan pembelajaran yang lebih realistis, inklusif dan memerdekakan.
Pertama, 'penutur antarbudaya' (intercultural speaker) dan 'kompetensi komunikasi antarbudaya' (intercultural communicative competence) menjadi model dan acuan kompetensi berbahasa Inggris. Di sini, penutur antarbudaya merujuk pada pengguna bahasa Inggris dengan kecakapan komunikasi yang melampaui sekat bahasa dan budaya, terlepas bahasa Inggris sebagai bahasa ibu, kedua atau asing.
Gagasan ini membebaskan siswa, guru dan pembelajaran dari mitos penutur jati (native speaker) bahasa Inggris, yang hakikatnya beragam secara sosial, budaya dan kompetensi bahasa.
Tujuan pembelajaran bukan untuk meniru sosok dan kompetensi penutur jati, namun membangun kecakapan berbahasa Inggris di pelbagai situasi komunikasi yang melibatkan penutur dari aneka latar belakang sosial-budaya.
Kedua, belajar bahasa dan budaya sasaran lebih bersifat instrumental alih-alih integratif. Mempelajari bahasa Inggris dan memahami nilai-nilai budaya yang diasosiasikan dengan penuturnya sebagai alat untuk mencapai tujuan praktis tanpa serta-merta menerima nilai-nilai tersebut dan menjadi bagian dari komunitas budayanya.
Bahasa bisa dipandang sebagai ancaman apabila nilai-nilai budaya yang menyertainya dianggap bertentangan dengan bahasa dan budaya lokal. Di konteks Indonesia, ada kekhawatiran melemahnya peran bahasa nasional dan menipisnya jati diri bangsa yang dikaitkan dengan pembelajaran bahasa Inggris.
Ini terlihat, misalnya, saat Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan program sekolah berstandar internasional satu dekade lalu. MK menilai penekanan bahasa Inggris dalam pendidikan formal berpotensi menggerus peran bahasa daerah dan bahasa Indonesia dan identitas keindonesiaan.
Ketiga, bahasa pertama adalah fondasi pemerolehan bahasa tambahan. Bahasa dan budaya setempat merupakan landasan dalam memahami dan menguasai bahasa baru. Siswa dan guru membawa nilai, keyakinan dan praktik budaya mereka ke dalam kelas dan proses belajar-mengajar untuk membedakan, membandingkan dan mengolah informasi tentang bahasa dan budaya lain.
Menjadikan bahasa ibu sebagai titik tolak dalam mempelajari bahasa dan budaya baru tidak semata menghormati dan merangkul identitas budaya siswa dan guru, tetapi juga memberi pijakan kognitif, afektif dan sosial dalam pembelajaran dan pemerolehan bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia.
Selamat Hari Guru!
Muhammad Iwan Munandar. Pemerhati pendidikan, alumni VUW Selandia Baru.
Simak juga Video Prabowo Mau Datangkan Guru Ngajar Bahasa Inggris dari Selandia Baru
(rdp/imk)