Bagi banyak orang, arah pengabdian lulusan pesantren identik dengan jalur ustaz, kiai, guru agama, atau pengelola lembaga pendidikan Islam. Anggapan itu tidak sepenuhnya keliru, sebab sejak awal pesantren memang tumbuh sebagai pusat kaderisasi ulama.
Seiring waktu, wajah pesantren ikut berubah. Banyak pesantren salaf (tradisional) mulai membuka jenjang pendidikan formal, dari Madrasah Ibtidaiyah (MI/SD) hingga Madrasah Aliyah (MA/SLTA), sambil tetap mempertahankan ciri khas seperti pengkajian kitab kuning, metode klasikal, dan pengajaran tarekat. Pesantren beradaptasi dengan pendidikan modern tanpa kehilangan ruh tradisinya.
Transformasi ini memperluas kiprah para lulusannya. Mereka tidak lagi terbatas pada lingkup dakwah, melainkan juga memiliki kesempatan melanjutkan studi ke perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri, hingga berkembang sebagai akademisi, peneliti, atau ilmuwan yang diakui secara luas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dukungan Negara
Peluang lulusan pesantren semakin terbuka sejak hadirnya Undang-Undang Pesantren pada 2019. Regulasi ini menegaskan posisi pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional.
Dengan pengakuan tersebut, lulusan pesantren memiliki kedudukan setara dengan lulusan lembaga pendidikan lain untuk melanjutkan ke jenjang akademik yang lebih tinggi.
Dukungan pemerintah juga tampak melalui berbagai program beasiswa. LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dan BIB (Beasiswa Indonesia Bangkit), misalnya, membuka kesempatan studi bagi lulusan pesantren hingga jenjang doktoral, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Tak sedikit pula pemerintah daerah dan lembaga swasta yang turut menyiapkan beasiswa bagi santri berprestasi.
Fasilitas semacam ini menjadi pintu baru. Santri kini tidak hanya mendalami ilmu agama secara tradisional, tetapi juga memiliki ruang untuk mengembangkan diri sebagai akademisi, peneliti, atau profesional yang diakui secara luas, bahkan di tingkat internasional.
Baca juga: Jangan Tanyakan Gaji Guru Pesantren |
Dengan pengakuan formal dan akses beasiswa, jalan santri ke perguruan tinggi semakin terbuka. Banyak di antara mereka melanjutkan studi ke IAIN, UIN, maupun universitas umum dengan pilihan disiplin yang kian beragam: hukum, filsafat, hingga ilmu-ilmu sosial-humaniora.
Tradisi intelektual pesantren sejatinya sejalan dengan dunia akademik. Jika mahasiswa di perguruan tinggi dilatih dalam metodologi ilmiah, santri terbiasa dengan metodologi fikih, tafsir, maupun hadis.
Keduanya sama-sama mengasah penalaran kritis, argumentasi, dan kedisiplinan berpikir. Tidak berlebihan bila pesantren disebut sebagai laboratorium keilmuan klasik yang menjadi bekal penting ketika santri memasuki universitas.
Dengan dukungan negara, pesantren dan para lulusannya tidak lagi berada di pinggiran. Mereka kini memiliki peluang yang sama untuk berkompetisi, berprestasi, dan memberi kontribusi dalam ruang akademik maupun sosial yang lebih luas.
Belajar ke Luar Negeri
Peluang studi ke luar negeri bagi lulusan pesantren juga semakin terbuka. Negara-negara Timur Tengah masih menjadi tujuan utama untuk kajian keislaman klasik, namun tidak sedikit santri yang melanjutkan pendidikan ke universitas di Eropa, Amerika, atau Asia.
Di sana, mereka dapat mendalami Islamic studies, Middle Eastern studies, maupun bidang sosial-humaniora lain sesuai minat riset.
Dengan bekal tradisi pesantren, santri memiliki potensi besar untuk menjembatani dialog antara khazanah Islam klasik dan ilmu pengetahuan modern. Mereka dapat memadukan metodologi tradisional dengan pendekatan akademik kontemporer untuk menghasilkan perspektif yang segar dan bernilai.
Tentu, peluang besar ini tidak datang tanpa tantangan. Untuk lolos seleksi beasiswa, memenuhi persyaratan masuk kampus, dan menempuh perkuliahan di universitas luar negeri, santri perlu membekali diri dengan sejumlah keterampilan penting.
Pertama, penguasaan bahasa asing (bahasa Arab dan Inggris, atau setidaknya salah satunya) menjadi syarat mutlak. Kedua, kemampuan menulis akademik, terutama untuk menyusun esai dan proposal riset. Ketiga, pemahaman metodologi penelitian serta literasi digital, yang kini menjadi kebutuhan dasar di dunia akademik global.
Santri yang terbiasa dengan forum bahtsul masail sebetulnya sudah akrab dengan proses berpikir logis dan argumentatif. Jika kemampuan tersebut dipadukan dengan metodologi riset modern, mereka akan mampu menghasilkan karya ilmiah yang bisa diterima secara luas.
Dengan bekal ini, prospek kiprah lulusan pesantren semakin beragam. Mereka bisa menjadi dosen, peneliti, penulis karya ilmiah, atau konsultan di bidang pendidikan. Bagi yang tetap memilih jalur keagamaan, mereka akan tampil dengan perspektif khas yang memadukan Islam di Nusantara dengan pemikiran global.
Dalam konteks internasional, kontribusi ilmiah berbasis tradisi pesantren akan memperkaya wacana global. Tidak sedikit alumni pesantren kini menempati posisi terhormat sebagai profesor, peneliti, atau pemikir di kampus terkemuka. Reputasi semacam itu bukan hanya memberi kepuasan batin, tetapi juga mengangkat citra bangsa.
Pekerjaan Rumah
Meski peluang besar terbuka, sejumlah pekerjaan rumah masih menanti. Akses informasi tentang beasiswa belum merata, pelatihan bahasa asing dan keterampilan menulis akademik masih terbatas, dan pemahaman mengenai dinamika akademik di perguruan tinggi perlu lebih disosialisasikan.
Keterbatasan ini sering membuat santri ragu melangkah, padahal potensi mereka sebenarnya besar. Dengan dukungan ekosistem yang tepat, tantangan tersebut insyaalloh bisa diatasi.
Karenanya, diperlukan sinergi antara pesantren, pemerintah, dan alumni. Pesantren dapat melakukan penyesuaian ringan terhadap kurikulum untuk menanamkan kemampuan dasar akademik; pemerintah dapat memperluas akses beasiswa dan menyediakan program pendampingan; alumni yang telah merampungkan studi, baik di dalam maupun luar negeri, bisa berperan sebagai mentor, membimbing, sekaligus memberi inspirasi praktis bagi para santri.
Dengan langkah kolektif semacam ini, lulusan pesantren akan lebih percaya diri menghadapi tantangan global. Mereka tidak lagi hanya berkiprah dalam lingkup keagamaan, tetapi juga siap berkontribusi di dunia akademik, riset, dan profesi strategis lainnya.
Sudah saatnya lulusan pesantren memandang peluang karier dengan cakrawala yang lebih luas. Mereka bukan hanya calon kiai atau ustaz, tetapi juga bisa menjadi ilmuwan dan pemikir di tingkat nasional maupun global. Dengan payung undang-undang, fasilitas pendidikan, dan kesempatan beasiswa, jalan menuju dunia akademik dan profesional kini terbuka lebar.
Muhammad Jauhari Sofi. Alumnus Pondok Pesantren Fathul Huda Karanggawang Demak; mahasiswa doktoral di Universitas Utrecht, Belanda.
(rdp/imk)