Kolom

Generasi Z dan Revolusi Filantropi Digital Indonesia

Ardiansyah - detikNews
Kamis, 28 Agu 2025 18:15 WIB
Foto: Ilustrasi gen Z (iStock)
Jakarta -

Indonesia, dengan bonus demografi yang kian nyata, tengah menyaksikan bangkitnya kekuatan baru: Generasi Z. Kelompok yang lahir antara tahun 1997 dan 2012 ini kini menjadi segmen populasi terbesar, mencapai hampir 75 juta jiwa atau sekitar 28% dari total penduduk Indonesia.

Mereka bukan sekadar angka statistik; mereka adalah arsitek masa depan, digital native sejati yang tumbuh dengan internet sebagai ekstensi diri mereka. Imersi digital yang mendalam ini tidak hanya membentuk cara mereka bersosialisasi atau bekerja, tetapi juga merevolusi bagaimana mereka berinteraksi dengan isu-isu sosial dan, yang terpenting, bagaimana mereka berfilantropi.

Jejak Digital yang Tak Terpisahkan dari Kebaikan

Bagi Gen Z, dunia digital adalah realitas. Dengan penetrasi internet nasional yang mencapai 80,66% pada tahun 2025, dan durasi daring rata-rata lebih dari 8 jam per hari, mereka adalah konsumen konten yang haus informasi dan interaksi.

Instagram menjadi "primadona" mereka, diikuti oleh TikTok dan YouTube sebagai sumber informasi dan hiburan. Preferensi mereka terhadap konten video pendek yang interaktif dan visual menunjukkan bahwa pesan harus disampaikan secara ringkas, menarik, dan relevan.

Kefasihan digital inilah yang menjadi fondasi filantropi mereka. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mungkin masih terikat pada donasi konvensional, Gen Z sepenuhnya merangkul donasi daring. Data menunjukkan bahwa 12% Gen Z Indonesia telah berpartisipasi dalam donasi daring pada tahun 2022, sebuah peningkatan signifikan dari hanya 2,7% pada tahun 2019.

Angka ini membuktikan bahwa kemudahan akses dan pembayaran digital telah mendemokratisasi filantropi, memungkinkan "micro-donation" atau donasi kecil secara teratur yang jika dikumpulkan akan menghasilkan dampak besar.

Filantropi Berbasis Nilai: Lebih dari Sekadar Uang

Motivasi Gen Z dalam berdonasi sangatlah kuat dan didorong oleh kesadaran sosial yang tinggi. Mereka peduli pada isu-isu sistemik seperti ketidaksetaraan sosial, kesehatan mental, dan keadilan sosial, bahkan memprioritaskan isu-isu ini di atas perubahan iklim dan kesetaraan gender yang populer di media sosial.

Religiusitas juga memainkan peran penting sebagai panduan dan dasar bagi perilaku filantropi mereka, terutama dalam konteks filantropi Islam seperti zakat dan sedekah.

Perbedaan mencolok dengan generasi sebelumnya terlihat dari preferensi metode donasi dan jumlah yang diberikan. Lebih dari 60% Gen Z dan Milenial memilih donasi daring, sementara Gen X dan Baby Boomers masih terbagi antara daring dan luring.

Meskipun Gen Z cenderung berdonasi dalam jumlah yang lebih kecil (Rp 10.001-Rp 100.000) dibandingkan Milenial atau Gen X yang memiliki pendapatan lebih tinggi, frekuensi donasi mereka yang beberapa kali setahun menunjukkan komitmen berkelanjutan. Platform seperti Kitabisa.com menjadi favorit utama mereka, diikuti oleh Dompet Dhuafa, Indonesia Dermawan, Rumah Zakat, dan lainnya.

Baznas juga secara aktif menargetkan Gen Z untuk memaksimalkan potensi zakat melalui pendekatan digital yang inovatif, termasuk webinar dan kolaborasi dengan influencer.

Kepemimpinan dan Tantangan di Era Digital

Gen Z tidak hanya menjadi donatur, tetapi juga inisiator dan pemimpin kampanye filantropi digital. Mereka memanfaatkan media sosial untuk aktivisme dan kewirausahaan sosial. Contoh nyata termasuk mahasiswa di Bali yang menginisiasi penggalangan dana daring untuk membantu usaha keramik selama pandemi, serta gerakan sukarelawan pemuda yang menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi dan mengumpulkan dana.

KPU bahkan menggunakan influencer Gen Z dalam kampanye media sosial untuk meningkatkan partisipasi politik pemilih muda.

Namun, filantropi digital Gen Z juga menghadapi tantangan. Isu kepercayaan dan transparansi menjadi krusial; mereka skeptis terhadap platform yang tidak menunjukkan akuntabilitas jelas. Fenomena "slacktivism"-partisipasi minim usaha seperti sekadar "klik" atau "like" tanpa komitmen nyata-juga menjadi perdebatan. Meskipun aktivisme digital dapat memiliki dampak nyata, inkonsistensi partisipasi dan kurangnya pemahaman tentang dampak jangka panjang masih menjadi perhatian.

Ketergantungan pada platform digital juga menimbulkan risiko privasi data dan tantangan kesehatan mental.

Indonesia dan Peluang Menjadi Pelopor Filantropi Digital Pemuda

Indonesia sebenarnya memiliki modal kuat untuk menjadi pelopor filantropi digital berbasis pemuda. Budaya gotong royong dan tradisi zakat (57% penduduk beragama Islam) mendorong kontribusi sosial yang tinggi. Data World Giving Index terbaru pun selalu menempatkan Indonesia di posisi teratas dunia-Indonesia memimpin daftar negara paling dermawan untuk ketujuh kalinya berturut-turut cafonline.org.

Artinya di mana-mana warga kita berbuat kebaikan, dan generasi Z lahir dari budaya inilah. Yang dibutuhkan kini hanyalah mengarahkan kekuatan teknologi kepada tujuan-tujuan mulia.

Didukung infrastruktur digital yang kian merata, startup fintech yang inovatif, serta kesadaran global akan tanggung jawab sosial, Indonesia berpeluang menjadi ujung tombak gerakan filantropi online.

Gen Z sebagai pemain utama memiliki energi, kreativitas, dan jaringan luas (dari grup fandom hingga aktivis digital) untuk membentuk kampanye-kampanye viral. Integrasi antara teknologi (seperti media sosial, aplikasi pendanaan, kecerdasan buatan), regulasi yang mendukung, serta pendidikan kewargaan digital dapat memastikan potensi ini terwujud.

Membentuk Masa Depan Filantropi Indonesia

Generasi Z adalah kekuatan transformatif dalam filantropi Indonesia. Mereka membawa semangat baru, didorong oleh nilai-nilai yang kuat dan difasilitasi oleh teknologi. Untuk memaksimalkan potensi ini, organisasi filantropi, pemerintah, dan pendidik perlu beradaptasi.

Pertama, strategi digital harus disesuaikan dengan preferensi Gen Z, memanfaatkan konten visual, interaktif, dan berdurasi pendek di platform favorit mereka. Kedua, kampanye harus secara jelas mengartikulasikan dampak sosial dan selaras dengan nilai-nilai keadilan, lingkungan, dan kesehatan mental yang mereka pegang. Ketiga, membangun kepercayaan melalui transparansi dan akuntabilitas yang kuat dalam pengelolaan dana digital adalah mutlak.

Terakhir, penting untuk mendorong literasi filantropi yang lebih mendalam, melampaui sekadar donasi finansial, untuk menumbuhkan pemahaman tentang isu-isu sosial yang kompleks dan mendorong keterlibatan yang berkelanjutan dan bermakna.

Dengan memahami dan merangkul dinamika unik Generasi Z, Indonesia dapat mengoptimalkan potensi filantropi digital mereka untuk menciptakan perubahan sosial yang lebih besar dan berkelanjutan, membawa bangsa ini menuju "Indonesia Emas 2045" yang lebih adil dan peduli.

Generasi Z Indonesia, menunjukkan tanda-tanda kesediaan untuk berbagi. Peran mereka semakin menonjol melalui contoh nyata aksi-aksi donasi digital, data statistik, dan gerakan sosial. Dengan memberdayakan platform yang transparan dan membina kepercayaan, kita dapat menyaksikan "revolusi filantropi" di mana para pemuda menjadi ujung tombak kebaikan.

Generasi Z Indonesia bukan hanya generasi online. Mereka bisa jadi generasi kepedulian yang mengubah cara kita menolong sesama di era digital.

Ardiansyah. Pegiat filantropi yang kini menempuh studi magister kepemimpinan filantropi di Zakat Foundation Institute, AS, dengan fokus pada inovasi dan gerakan sosial.




(rdp/imk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork