Sebagai perumus filsafat intelijen, saya melihat bahwa gagasan ini sejajar dengan prinsip-prinsip dasar dalam strategi kebangsaan. Dalam filsafat intelijen, pembangunan bangsa bukan hanya soal kecepatan (velox), tetapi juga soal ketepatan makna (ontologi exactus) dan arah moral (moralis etis). Ketiga unsur ini tercermin dalam pendekatan buku ini, yang mengangkat pembangunan bukan sekadar sebagai proyek ekonomi, tetapi sebagai gerakan peradaban.
Prof Dr Connie Rahakundini Bakrie menawarkan paradigma pembangunan yang menyatukan jiwa dan raga bangsa. Ia menolak dikotomi antara spiritualitas dan rasionalitas, antara budaya dan teknologi. Buku ini mengajarkan bahwa kekuatan sebuah bangsa bukan hanya diukur dari PDB atau kekuatan militer, tetapi dari keutuhan identitas dan kesadaran bersama sebagai bangsa merdeka.
Di era ancaman hibrida dan perang informasi, kesadaran kolektif adalah sistem pertahanan non-fisik yang paling tahan lama. Di sinilah pentingnya pemikiran seperti yang ditawarkan buku ini. Ia menyadarkan bahwa bangsa yang mengenal dirinya sendiri tidak mudah dikooptasi atau dipecah oleh kekuatan luar.
Saya menyambut hangat buku ini sebagai ajakan strategis untuk menggeser paradigma pembangunan. Bukan untuk meninggalkan kemajuan ekonomi, tetapi untuk memastikan bahwa setiap langkah kemajuan tetap berakar pada nilai, etos, dan peradaban bangsa.
Prof. Dr. A.M. Hendropriyono ST SH MH
Penulis adalah perumus filsafat intelijen dan tokoh nasional di bidang keamanan dan kebangsaan
Tonton juga "Ketua TKN Bantah Isu Prabowo Jadi Presiden Hanya 2 Tahun" di sini:
(knv/knv)











































