I Don't Like You But I Love You
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Bila saja tidak ada segerombolan orang asal Inggris menetap di Jamestown, Amerika, tahun 1607, mungkin tidak akan ada negara Amerika Serikat, yang kini dibenci sebagian warga dunia termasuk di Indonesia. Pada saat itu, bangsa kita, bersama Demak, Banten, Mataram, Palembang, tengah jaya-jayanya dengan kelimpahan hasil bumi, karya sastra dan hasil perdagangan. Musuh bangsa kita saat itu adalah ancaman imperialisme Belanda, Portugis dan Inggris. Sementara di Jamestown, orang-orang Inggris -kebanyakan tahanan politik dan kriminal dari Irlandia- menghadapi musuh bersama yakni penduduk pribumi Indian. Bahkan, setelah para pendatang dari Prancis, Belanda, Jerman, dan Portugis menyusul ke Amerika, mereka pun memusuhinya. Setelah berjuang selama dua abad, melalui berbagai peperangan, lobi politik, pelahiran sumber daya manusia, karya sastra dan intelektual, serta mengeksploitasi alam, mereka berhasil membangun sebuah negara-bangsa bernama Amerika Serikat yang dikampanyekan sebagai negara dengan prinsip-prinsip pemerintahan yang demokratis. Sementara bangsa kita, yang kian tahun kian lemah, sehingga Belanda, Inggris dan Portugis akhirnya mampu mengusai nusantara. Hari ini, Amerika Serikat menjadi negara yang paling kuat di dunia, sedangkan kita yang menyatu dalam Indonesia merupakan salah satu negara miskin. Hari ini pula, sebagian kita membenci Amerika Serikat. Sebab negara yang kini dipimpin George W. Bush dinilai telah mencampuri urusan negara ini. Bahkan, ada yang menuduh Amerika Serikat-lah yang menyebabkan negara-bangsa ini menjadi terperosok, sejak terbangunnya rezim Soeharto yang pro-Amerika Serikat. Benarkah tuduhan tersebut? Kita bisa berdebat panjang soal ini. Yang jelas, faktanya, sekitar 70 persen pada diri saya merupakan bagian dari kebudayaan Amerika Serikat. Saya suka film produksi Hollywood, saya suka musik hasil gorengan majalah Rolling Stones, saya suka cewek-cewek seksi standardnya wong Amerika, saya suka minum Pepsi dan Coca-Cola, saya suka celana blue jeans, saya berusaha membaca buku terbitan Amerika Serikat, lalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan di negeri Paman Sam itu. Dan, saya berusaha belajar keras bahasa Inggris, bahasa resminya bangsa Amerika Serikat. Menurut istri saya, bila rambut saya pirang, kulit menjadi putih, lalu tinggi badan dinaikkan sekitar 20 centimeter, jadilah saya orang Amerika Serikat. Tepatnya, secara jiwa saya sudah Amerika Serikat, tapi fisik yang tidak. Mungkin, saya merupakan salah satu bukti kecemasan Pramudya Ananta Toer ketika berpidato soal ancaman budaya bawaan Amerika Serikat saat Konggres Lekra di Palembang tahun 1965. Saat itu dia mengkhawatirkan generasi muda Indonesia menjadi generasi pesolek lantaran dicekoki oleh budaya populer dari Amerika Serikat. Uniknya, saya membenci Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun -terutama ketika Soeharto berkuasa- saya berteriak anti-Amerika Serikat! Anti-kapitalisme! Saya tertarik dengan pemikiran Pramudya, revolusi yang diinginkan Soekarno atau tertarik dengan agenda kawan-kawan aktivis NGO --yang maaf sebagian besar juga disokong oleh lembaga donor dari Amerika Serikat. Saat saya mau kembali ke akar budaya yang telah membangun bangsa ini selama puluhan abad lalu; saya dihadapkan pada beberapa fakta sejarah yang mencengangkan. Faktanya, bangsa ini ternyata bukan berdiri sendiri. Bangsa ini telah dipengaruhi dan dapat dikatakan dijajah oleh bangsa India bersama ajaran Hindu, kemudian Tiongkok bersama ajaran Budha dan Islam, lalu Arab dan Persia dengan ajaran Islam, serta bangsa Barat bersama modernisme dan ajaran Katolik dan Kristen. Saya sendiri, setelah ditelusuri merupakan keturunan para penjajah di Indonesia pada masanya yakni Tionghoa dan Arab. Inilah menariknya saya. Terhadap Amerika Serikat, saya seperti menyanyikan lagu milik The Beatles berjudul You Really Got A Hold On Me yang liriknya berujar, "I don't like you but I love you, I don't like you but I need you". Lalu, bagaimana dengan sikap saya? Saya akhirnya belajar untuk mendukung dan membela sesuatu yang tidak menjajah, menghargai hak orang lain, menyintai kedamaian, menghormati etika dan moral. Siapa pun yang melawan keyakinan itu merupakan musuh saya, baik itu Amerika Serikat, Arab Saudi, Malaysia, Tiongkok, maupun Presiden Indonesia. Bila sebaliknya adalah kawan saya. Jadi, soal Amerika Serikat mungkin kita harus membedakan antara Amerika Serikat dengan George W. Bush, antara Amerika Serikat dengan sejumlah senatornya, antara Amerika Serikat dengan sejumlah menterinya, antara Amerika Serikat dengan sejumlah bintang Hollywood-nya. I don't like Bush but I love Elvis!Keterangan Penulis :Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(/)











































