Bendera Sewek Idul Fitri
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Hari-hari menjelang lebaran, ada pemandangan unik di desa Kemiren Banyuwangi, Jawa Timur. Sepanjang kampung berkibar bendera sewek. Kain itu dibentang di halaman, dan sepintas menyerupai umbul-umbul yang berkelebatan dipermainkan angin pantai. Apakah sewek itu? Dan mengapa mereka mengibarkan bendera yang tidak lajim itu?Sewek adalah kain yang biasa dikenakan wanita Jawa. Cara pakainya, kain panjang ini dililitkan di pinggang untuk menutupi wilayah perut hingga mata kaki. Warga Jawa Tengah biasa menyebutnya jarit atau jarik.Tetapi di Kemiren, benda yang acap dimaknai secara guyonan sebagai nutupi barang kang suwek (kemaluan perempuan), keterbalikan dari sarung (nutupi barang kang nyurung) itu pengibarannya justru saat lebaran tiba. Pengibaran sewek ini bukan jenis permainan yang dilakukan dengan main-main, tetapi sebagai bagian dari ritus. Upacara sakral.Sebab pengibaran benda yang biasa dipakai wanita itu hanyalah simbol. Simbol kembalinya kesucian, setelah sebulan penuh berpuasa. Kini, di hari raya Idul Fitri, ketika lelaku prihatin itu usai, maka semuanya diyakini telah terbebas dari noda dan dosa. Manusia kembali pada fitrahnya, seperti bayi yang baru dilahirkan. Tanpa noktah, dan hadir ke dunia dengan telanjang bulat.Keunikan yang ada di Kemiren itu tak berhenti sebatas di luar rumah. Di dalam, ketika uluk salam dijawab dan dipersilahkan masuk, pemandangan mengejutkan pun kembali mencolok mata. Di dinding yang bersih itu bergelantungan blus dan rok (bukan jenis musik loh). Busana itu jadi pajangan.Taklah heran, jika dilihat sepintas, di hari yang membagiakan itu, rumah-rumah di Kemiren sontak berubah menjadi butik. Rumah busana yang memanfaatkan dinding sebagai etalase dagangan.Tradisi macam ini sudah dilakukan ratusan tahun lalu oleh masyarakat Osing. Ini merupakan suku asli yang mendiami daerah ini. Sebagai wilayah yang banyak bersinggungan dengan kerajaan Bali dan terbias Islamisasi yang dilakukan kerajaan Giri, maka penduduknya, meminjam istilah Clifford Geertz, masuk dalam kelompok Islam abangan.Islam ini jika ditelaah, sama dan sebangun dengan kejawen yang sinkretis. Pemeluknya kurang fanatik terhadap hukum-hukum agama, tetapi dalam keseharian sangat kental dengan tradisi, hasil akulturasi berbagai kepercayaan yang ada.Hasil kolaborasi yang campur-aduk itulah yang menampilkan tafsiran idul fitri sebagai ketelanjangan diri. Bersuci diri disimbolkan dengan melepas seluruh busana yang biasa dipakai sehari-hari. Dan secara tersirat, sangkan paraning dumadi terpampang gamblang. Lingga dan yoni tampil dalam wujut aslinya. Disitulah diyakini, dalam kejawen, asal-usul makhluk yang bernama manusia bermula.Tradisi macam ini sebenarnya tak hanya dilakukan masyarakat Osing. Di negeri ini, sadar atau tidak, juga sudah lama melakukan hal yang sama. Contohnya tumpeng yang mentradisi sebagai โpengesahanโ sebuah hajatan. Nasi yang dibentuk gunungan adalah simbolisasi lingga, sedang lauk dan sayuran yang terserak di bawahnya adalah lambang dari yoni.Untuk itu, dalam menyikapi tradisi yang menjamur di Nusantara, maka terasa arif jika tidak dilihatnya dari sisi agama. Sebab, inilah keindahan dari heterogenitas suku dan kepercayaan yang kita punya. Dari bendera sewek yang berkibar di Kemiren kita bisa mengambil pelajaran sebagai refleksi kedewasaan sebagai bangsa.Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin !Keterangan Penulis:Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com.
(/)











































