Firaun, Dari Soeharto ke Jokowi

ADVERTISEMENT

Firaun, Dari Soeharto ke Jokowi

Sudrajat - detikNews
Kamis, 19 Jan 2023 13:54 WIB
Sudrajat, wartawan detik.com
Foto: Sudrajat (Dok. Pribadi)
Jakarta -

Sejatinya Firaun itu bukan nama orang atau raja, tapi sebutan atau gelar yang disematkan pada tiap Raja Mesir Kuno. Kerajaan Mesir Kuno sendiri sudah berdiri ribuan tahun, yakni sejak 3150 SM sampai 31 SM. Sepanjang itu, tercatat ada ribuan raja yang disebut juga Firaun, yang memerintah dengan beragam nama.

Alkitab pernah merujuk sebuah kisah Firaun baik yang hidup di era Nabi Yusuf. Suatu hari, dalam tidurnya, sang Firaun bermimpi melihat tujuh ekor lembu yang kurus memakan tujuh lembu gemuk. Di mimpi yang lain dia juga melihat tujuh bulir gandum kurus dan layu menelan tujuh bulir gandum yang bernas dan berisi.

Seorang pemuda Ibrani bernama Yusuf menafsirkan mimpi sang raja bahwa akan datang tujuh tahun kelimpahan dan tujuh tahun pula kelaparan. Yusuf menyarankan agar, selama tujuh tahun masa kelimpahan, Firaun menimbun gandum sebagai persediaan pangan untuk waktu tujuh tahun kelaparan yang bakal melanda negeri itu.

Pada 23 Maret 1990, Elman Saragih mengutip kisah tersebut dalam tajuk Media Indonesia. Dia menganalogikan antisipasi Firaun dengan apa yang juga telah dilakukan Presiden Soeharto untuk menghadapi potensi kemarau panjang pada tahun itu. Soeharto antara lain menginstruksikan Bulog dan kalangan perbankan agar melakukan persiapan, terutama untuk kelancaran kredit pengadaan pangan.

Walaupun apa yang dikemukakan Media Indonesia itu pujian buat Soeharto, tulis mantan Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat Budhiana Kartawijaya di dalam blognya, tak pelak tulisan Elman itu menggegerkan Indonesia. Pasalnya, di benak orang Indonesia, Firaun itu tokoh jahat. Departemen Penerangan akhirnya memberikan peringatan keras kepada Media Indonesia. Elman pun kena sanksi, diberhentikan dari jabatan dan dimutasi ke Medan.

Predikat Firaun secara negatif ada dalam sejumlah surat di dalam Al-Qur'an, antara lain An-Naziat ayat 24. Belasan tahun setelah lengser sebagai penguasa Orde Baru, Soeharto diberi predikat sebagai Firaun dalam konotasi negatif.

Hal itu bermula ketika Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa pada akhir Mei 2015 mengungkapkan bahwa pemerintah akan memberikan gelar pahlawan nasional kepada dua mantan presiden, yakni Soeharto dan KH Abdurrahman Wahid.

Roy Murtadho, pendiri media Islam progresif, Islam Bergerak, dan pendiri Pesantren Ekologis Misykat Al-Anwar, menentang rencana tersebut. Lewat artikel 'Mempahlawankan Soeharto, Mempahlawankan Fir'aun' di Indoprogress, Roy memaparkan sejumlah alasan.

Belakangan, predikat Firaun dalam konotasi negatif juga dituduhkan kepada Presiden Jokowi oleh sejumlah tokoh. Mantan Ketua MPR Amien Rais setidaknya pernah menganalogikan pemerintahan Jokowi dengan kisah Firaun. Ketua Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan Laskar
FPI, Abdullah Hehamahua, pun pernah mengibaratkan pertemuan timnya dengan Jokowi di Istana pada pertengahan April 2021 seperti Nabi Musa mendatangi Firaun.

Dalam dua hari terakhir ini, giliran Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang menjadi sorotan publik karena secara lugas menyebut Jokowi sebagai Firaun. Gegara itu namanya sempat menjadi trending topic di Twitter. Dia dikritik dan disayangkan banyak orang.

"Hasil pemilu mencerminkan tingkat kedewasaan dan tidak rakyatnya. Bahkan juga algoritma Pemilu 2024. Kan, nggak mungkin menang, karena Indonesia dikuasai oleh Firaun yang namanya Jokowi, oleh Qorun yang namanya Anthony Salim dan 10 naga, terus Haman yang namanya Luhut," begitu penggalan pernyataan Cak Nun dalam sebuah potongan video yang beredar sejak beberapa hari lalu.

Cak Nun adalah budayawan dan pemimpin komunitas pengajian Maiyah di Yogyakarta. Sejak 1980-an, dia juga dikenal sebagai kolumnis yang produktif di banyak media. Tulisan-tulisan atas namanya menjadi daya tarik sendiri sehingga membantu jumlah tiras penjualan media.

Memasuki era reformasi, Cak Nun seperti puasa menulis dan tampil di media. Salah satu alasannya, dia merasa sudah banyak orang yang pintar menulis dan berbicara melontarkan aneka kritik sebebas-bebasnya tanpa takut ditangkap aparat. Cak Nun kemudian lebih intens dengan Kiai Kanjeng dan komunitas pengajian Maiyah.

Salah satu yang diajarkan kepada jemaahnya adalah bahwa ucapan itu harus baik dan efeknya harus diperhitungkan. Tapi kenapa kemudian dia sendiri mengingkarinya? "Mungkin saya kesambet," kilahnya.

Dia juga mengaku telah meminta maaf kepada keluarganya, juga pertama-tama mohon ampun kepada Allah SWT. Cak Nun sama sekali tak menyinggung apakah permintaan maaf juga disampaikan kepada Jokowi dan keluarganya. Tapi sejauh ini Jokowi juga sepertinya tak pernah memusingkan hal-hal semacam itu.

Pada 11 Juli 2018, saya dan rekan Erwin ikut menemani Pemimpin Redaksi detikcom Iin Yumiyanti mewawancarai Presiden Jokowi di Istana Merdeka. Salah satu isu yang kami gali waktu itu adalah sosok calon wakil presiden yang diinginkan Jokowi untuk mendampinginya di periode kedua, 2019-2024.

Presiden Jokowi usai wawancara khusus dengan Tim detikcom, 11 Juli 2018Presiden Jokowi seusai wawancara khusus dengan tim detikcom, 11 Juli 2018 (Foto: dok. Biro Pers dan Media Istana)

Isu lain adalah soal hubungan Jokowi dengan Amien Rais. Sejak Jokowi digadang-gadang untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta, Amien yang sama-sama orang Solo nyaris tak pernah menyampaikan penilaian positif terhadapnya. Sebaliknya, Jokowi tak pernah menghiraukannya, seolah tak terganggu oleh segala cercaan yang dialamatkan kepadanya.

Dia cuma menggeleng saat ditanya kenapa tidak pernah membalas kritik-kritik Amien Rais.

"Tapi semakin Bapak diam, dia semakin uring-uringan...," kami mendesak.

Kali ini Jokowi, yang saat itu didampingi Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, meresponsnya dengan tertawa sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Meski tak sampai terbahak, tapi pundaknya sedikit terguncang. Dia lalu menegaskan bahwa dirinya sama sekali tak punya masalah pribadi dan tak punya prasangka apa pun dengan tokoh reformasi itu. Begitu juga saya kira terhadap Emha Ainun Nadjib.

Simak juga 'Sebut Jokowi Firaun, Cak Nun Ngaku Kesambet':

[Gambas:Video 20detik]



(rdp/rdp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT