Politik Cinta Bahasa Lewat Permainan

ADVERTISEMENT

Kolom

Politik Cinta Bahasa Lewat Permainan

Mohamad Jokomono - detikNews
Jumat, 18 Nov 2022 14:30 WIB
Permainan kata Katla
Foto: dok. Katla
Jakarta -

Entri "politik" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V memiliki salah satu arti, yaitu "cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah)". Adapun masalah yang kita hadapi dewasa ini, tidak terlalu banyak warga bangsa ini yang memberikan kepedulian secara maksimal terhadap bahasa Indonesia.

Ketidakpedulian itu antara lain terekspresikan lewat cara pandang bahwa berbahasa cukuplah memadai hanya sekadar memenuhi tuntutan asal komunikatif. Asal berada dalam rengkuh pemahaman mereka yang terlibat dalam proses komunikasi semata.

Tidak peduli apakah konten komunikasinya kurang sesuai dengan logika bahasa. Tidak peduli apakah pengalimatannya terlalu bertele-tele dan tidak fokus pada maksud yang hendak disampaikan. Terlebih-lebih, tidak peduli apakah struktur penulisan kata-kata yang tersusun relatif bersih atau tidak dari standar baku.

Katla sebagai bagian dari politik cinta bahasa melalui permainan yang relatif menyenangkan lebih menyentuh pengenalan dini terhadap kata yang sesuai dengan standar baku penulisan versi KBBI. Sebab, jika kata yang dimasukkan di luar yang termuat di dalam KBBI, tentu akan muncul notasi penolakan.

Katla, menurut penuturan Fatih Kalifa sang pengembang permainan susun kata tersebut, terinspirasi dari game serupa dalam bahasa Inggris, Wordle. Adapun Wordle merupakan hasil rekayasa pria asal Wales, Josh Wardle. Permainan kata berbasis web ini diluncurkan pertama kali pada Oktober 2021. Popularitas pun menghampirinya Desember 2021.

Berdasarkan keterangan dari Wikipedia, Ensklopedia Bahasa Indonesia yang disunting sekitar lima bulan lalu, permainan susun kata ini kemudian dibeli oleh The New York Times Company pada Januari 2022. Tak lama kemudian, seiring dengan ungkitan popularitasnya, Wordle pun selanjutnya mengalami proses pengalihwahanaan ke dalam puluhan bahasa di dunia, seperti Arab, Italia, Jerman, Jepang, Rusia.

Tidak ketinggalan, salah satunya bahasa Indonesia. Dan, relevan dengan upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk merevitalisasi bahasa daerah, ternyata ada juga sejumlah versi pelokalan permainan tebak dan susun kata sejenis di Tanah Air, seperti versi bahasa Jawa (Batangan, Tlembung), bahasa Madura (Wordura), bahasa Melayu (Katapat, Katadel), bahasa Sunda (Keclap).

Begitulah Katla memulai tarikh pemberadaannya di lingkungan penutur bahasa di Indonesia. Sebagai salah satu manuver politik cinta bahasa, permainan tebak dan susun kata ini memang relatif belum mampu mengintroduksi seluruh bentukan baku dari kata-kata dalam bahasa Indonesia.

Sebab, permainan ini hanya mengenalkan kata-kata yang sebatas terdiri atas lima huruf (istilah teknisnya "fonem"). Padahal, tentu saja kita semua pasti mengetahui belaka, bahwa kata-kata memiliki variasi jumlah huruf pembentuk yang sangat beragam, dari hanya dua huruf hingga belasan huruf.

Keterbatasan ini pastilah nanti bisa diupayakan penyempurnaannya oleh pihak perekayasa permainan tebak dan susun kata itu dalam perjalanan prosesnya ke depan. Dengan versi Katla yang jumlah huruf lebih dari lima, bisa jadi proses permainan akan jauh lebih kompleks dan membutuhkan pemikiran yang lebih ekstra.

Langkah Awal

Terlepas dari keterbatasan ini, Katla dengan lima huruf pun bisa dipandang sebagai langkah awal pengintroduksian kata-kata, terutama yang kadang hampir mustahil bisa kedengaran dalam realitas penggunaan bahasa sehari-hari, tetapi ada di dalam KBBI.

Coba simak kata "rakyu" (hasil pikiran manusia; ilmu), "impun" (anakan atau larva ikan); "tukul" (martil [pemukul] kecil: tukul besi; tukul kayu), "kambu" (bakul). Boleh dikatakan hampir tidak pernah muncul dalam perguliran arus lalu lintas kata-kata dalam komunikasi sehari-hari. Akan tetapi, alhamdulillah kita bisa mengenalnya melalui hasil tebakan dari permainan Katla.

Tidak hanya dari hasil akhir tebakan saja yang memungkinkan kita mengenal kata-kata yang langka dan yang baru kita sadari bahwa ia ternyata ada dalam khazanah perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia, saat kita menelusurinya di dalam kamus. Dalam proses menuju ke hasil tebakan akhir pun, kita berpeluang menemukan kata langka lain.

Misalnya ketika saya mengasyiki Katla edisi #282 yang berujung pada hasil tebakan "kambu", setelah memasukkan kata "segar" dan "kapuk" (dua kata yang relatif sering terdengar), hasilnya menunjukkan ada dua kotak berwarna hijau (posisi benar), yaitu kotak 1 (K) dan kotak 2 (A) serta kotak berwarna oranye (posisi huruf tidak tepat).

Lewat penelusuran KBBI V Daring, saya coba masukkan kata "kauli". Kotak 1 (K) dan kotak 2 (A) hijau; kotak 3 (U) masih tetap oranye; sedangkan kotak 4 (L) dan kotak 5 (I) menunjukkan warna hitam (huruf tidak ada dalam susunan kata). Saya berani memasukkan kata "kauli" setelah meyakini kata ini di KBBI memiliki arti "ucapan atau hadis Nabi Muhammad SAW".

Kemudian saya mencoba dengan bantuan penelusuran di Kamus, kata "kaomu". Hasilnya kotak 1 (K) dan 2 (A) serta 5 (U) hijau; kotak 3 (O) hitam dan kotak 4 (M) oranye. Dengan posisi ini, saya yakin huruf M pasti di kotak 3. Tinggal mencari huruf yang tepat di kotak 4.

Namun, sebelumnya perlu saya perkenalkan, kata "kaomu" berarti "golongan bangsawan yang menempati status sosial tertinggi dalam sistem pelapisan masyarakat, biasa dikenal dengan sebutan La Ode untuk laki-laki dan Wa Ode untuk perempuan yang diletakkan di awal nama".

Sebelum memilih "kambu" saya juga menemukan kata "kamau". Kata ini merupakan serapan dari bahasa Sentani, sebuah bahasa dari rumpun bahasa daerah Papua yang dituturkan di sekitar wilayah Danau Sentani. Artinya "pisau dari tulang binatang".

Dari satu edisi permainan Katla itu saja, kita dapat memperoleh banyak kemungkinan mengenal kata yang sebelumnya tidak kita kenal. Tentu saja, proses ini akan lebih mudah jika kita melakukan permainan tebak dan susun kata ini dengan menggunakan KBBI Edisi V Daring.

Kata-kata (lema atau entri dengan nuansa makna masing-masing) yang relatif kurang (atau bahkan tidak) dikenal sebelumnya menjadi kemudian (sebagai masukan) sehingga dapat dikenal. Paling sedikitnya, kalaupun kata-kata itu relatif dikenal, dapat diintroduksi bentuk penulisannya yang baku.

Agaknya itulah manfaat yang bisa dipetik dari kepedulian kita mengasyiki seni memainkan kemungkinan dalam permainan Katla. Pada konstelasi politik mencintai bahasa, ini hanya merupakan bagian kecil dari dinamika berkebudayaan.

Pernah terbersit dalam pikiran saya, apa untungnya kita mempunyai banyak kata yang jarang atau hampir tidak pernah dipakai dalam kegiatan komunikasi sehari-hari. Apakah hanya cukup sekadar sebagai klaim betapa kaya khazanah perbendaharaan kosa kata bahasa kita?

Namun kemudian saya sadar, ada seni sastra yang terkadang ingin mengeksplorasi penggunaan bahasa lewat kata-kata yang keluar dari rutinitas pemakaian sehari-hari. Mungkin di sanalah letak manfaat yang bisa dipetik.

Bisa jadi, kata-kata langka itu akan menjadi acuan bagi generasi mendatang, tatkala mereka ingin merevitalisasikannya guna mencari padanan makna untuk kata-kata yang mereka adopsi dari kancah pergaulan yang kian mendunia. Bisa jadi pula, ini kelak mereka lakukan saat ada kerinduan untuk lebih memantapkan identitas kebahasaan mereka di masa mendatang.

Mohamad Jokomono alumnus Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT