Bagaimana Konser Musik di Indonesia ke Depan?

ADVERTISEMENT

Kolom

Bagaimana Konser Musik di Indonesia ke Depan?

Riza Novara - detikNews
Jumat, 18 Nov 2022 13:10 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -

Tragedi Kanjuruhan ternyata memberikan efek mendalam bagi kepolisian yang sepertinya menjadi pihak paling bersalah yang mengakibatkan sebegitu banyak korban berjatuhan. Sehingga akhirnya menjadi sangat wajar ketika setidaknya saat ini pihak kepolisian bersikap ekstra hati-hati terhadap penanganan apapun yang melibatkan pengumpulan massa. Sepantasnya kita bisa mengerti kegalauan pihak kepolisian untuk mencegah hal serupa terjadi lagi akibat kerumunan masa yang tidak terkendali baik oleh panitia, penyelenggara, maupun aparat.

Setidaknya sudah ada tiga penyelenggaraan pertunjukan atau konser yang "terpaksa" dihentikan oleh pihak kepolisian karena tidak mau mengambil risiko jatuhnya korban jiwa kembali. Pertama, acara Konser Musik Jatim Fair yang harus dihentikan karena alasan keamanan. Cukup banyaknya calon penonton yang ditengarai tidak memiliki karcis berusaha memaksa masuk dan akhirnya menimbulkan konflik dengan penyelenggara dan aparat Keamanan.

Kedua, acara Berdendang Bergoyang yang diselenggarakan di Istora Senayan dan akhirnya harus dihentikan oleh aparat keamanan karena diperkirakan terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh penyelenggara dengan mencetak tiket di atas kapasitas tempat konser. Dan, yang ketiga adalah penghentian konser musik yang tengah berlangsung di ICE BSD Tangerang dari boyband asal Korea yaitu NCT 127. Penghentian ini terjadi karena sejumlah penonton yang pingsan di tengah konser ketika mereka mencoba untuk mendekati panggung yang akhirnya membuat area di depan panggung tersebut menjadi sangat sangat padat.

Sebagai seorang penonton khususnya aliran musik rock dan metal dan juga pernah terlibat dalam kegiatan penyelenggaraan konser, hal ini cukup menggelitik saya. Di satu sisi karena kebahagiaan ketika pandemi sudah terus mulai terkendali dan memungkinkan diselenggarakannya konser musik yang telah mengalami kevakuman selama sekitar dua tahun. Di lain sisi muncul keprihatinan dan ketakutan akan jatuhnya korban jiwa akibat masa yang di luar kendali, karena bagaimanapun tidak ada konser yang senilai dengan harga jiwa seseorang.

Pengalaman

Berbekal pengalaman menonton konser musik baik di dalam maupun di luar negeri, penonton konser itu dapat menikmati konser dengan duduk (seluruh penonton duduk di kursi), berdiri (seluruh penonton berdiri), atau kombinasi (sebagian penonton ada yang berdiri dan ada yang duduk).

Biasanya penonton yang seluruhnya duduk ini terjadi pada konser musik yang berada di dalam ruangan (indoor). Jenis konser seperti ini relatif cukup aman setidaknya pada saat konser berlangsung, karena penonton mau tidak mau lebih tertib, dan biasanya penonton konser ini relatif adalah orang-orang yang sudah berumur atau lebih mapan karena tiket biasanya lebih mahal. Sehingga dengan karakter penonton seperti ini rata-rata konser berlangsung lebih terkendali. Walau tidak banyak konser musik yang diselenggarakan dengan sistem ini, dan konser grup Yes salah satunya yang diselenggarakan pada 24 April 2012 di Grand Ballroom Ritz Carlton Pacific Place Jakarta.

Sebaliknya untuk konser yang penontonnya berdiri dan yang kombinasi (berdiri dan duduk), risiko terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan pada saat konser relatif jauh lebih tinggi. Biasanya hal ini terjadi karena adanya hasrat penonton yang berusaha merangsek ke dekat panggung, sementara penonton yang baris pertama dekat panggung tertahan oleh adanya barikade pembatas antara penonton dan panggung.

Apalagi kadang kala sang artis juga sering membagikan gimmick atau suvenir kepada para penonton yang memicu hasrat penonton untuk terus semakin mendekat ke panggung yang secara tidak disadari membuat penonton-penonton baris terdepan ini sering menjadi korban dari penonton yang berada di tengah.

Saya dan istri saya mempunyai pengalaman yang tidak akan pernah kami lupakan ketika kami terhimpit dan akhirnya mengalami sesak napas ketika hadir di konser Mr. Big dalam acara Java Rockin' Land pada 2009. Beruntung saya mengambil keputusan untuk berusaha menjauh dari arah panggung (walau sangat sulit untuk melawan desakan penonton dari belakang yang terus mendesak ke depan).

Untuk menghindari terjadinya penonton yang terjepit di dekat barikade panggung ini, perlu adanya petugas keamanan yang berdiri di area antara barikade dan panggung dan harus sigap untuk memperhatikan penonton yang terjepit atau sudah kehabisan nafas, untuk kemudian dengan segera melakukan evakuasi terhadap penonton tersebut. Di samping itu siraman air ke penonton kadang cukup memberikan kesegaran tersendiri bagi para penonton yang tengah berdesakan tersebut.

Masa yang tidak terkendali ini bisa juga terjadi di area pintu, baik pada saat akan memasuki venue maupun pada saat keluar venue. Salah satu pengalaman yang positif yang pernah saya alami adalah ketika hadir di konser (pertama) Bon Jovi di Indonesia yaitu di Ancol pada 1995. Ketika itu penonton memang sangat padat, dan cukup jauh dari pintu masuk seluruh penonton diminta tertib dan berjalan jongkok sampai ke tempat pemeriksaan tiket.

Sementara di kiri dan kanan antrean jalan jongkok tersebut berbaris pasukan polisi dengan kuda. Dengan kondisi seperti ini para calon penonton dipaksa untuk tidak berdesak desakan karena semua dalam posisi jongkok, walau cukup lelah buat para calon penonton itu, tapi ketertiban pada saat pintu masuk sangat bisa terjaga karena orang tidak memungkinkan untuk saling dorong dalam posisi berjongkok.

Sebaliknya pada saat keluar memang sulit seandainya pintu keluar masuk jumlahnya terbatas, mau tidak mau akan terjadi penumpukan. Tapi biasanya cukup banyak penonton yang akan menunggu sampai tidak terlalu padat baru kemudian mereka keluar karena kondisinya jauh lebih aman. Agak berbeda dengan pada saat masuk di mana para calon penonton mempunyai keinginan besar untuk memasuki venue secepat mungkin agar mendapatkan posisi tonton yang terbaik pada konser tersebut.

Ancaman

Kegamangan pihak kepolisian dalam sebuah konser musik akan menjadi sebuah ancaman tersendiri pada eksistensi konser. Khusus buat konser metal akan menjadi lebih sensitif lagi karena adanya tradisi moshing berupa head banging, circle pit, wall of death, dan lainnya. Tradisi ini berupa kegiatan yang sangat berisiko karena terjadinya kontak fisik yang terjadi secara langsung sembari menikmati konser yang tengah berlangsung.

Meminjam istilah di Wikipedia, moshing adalah kegiatan ekstrem yang dilakukan oleh para penikmat konser musik metal dengan cara saling mendorong dan membenturkan tubuh mereka satu sama lain. Ini untuk menyalurkan energi para penikmat musik ini dan sama sekali bukan proses perkelahian atau berujung konflik antara penikmat musik ini. Akankah kegiatan yang menjadi ritual para metal head ini akan menjadi sebuah kegiatan yang diharamkan di setiap konser metal khususnya di Indonesia?

Sebenarnya kalau kita berani merunut peristiwa yang terjadi beberapa tahun lalu pernah terjadi peristiwa kelam di mana sebuah konser metal mengakibatkan jatuh korban jiwa. Yaitu acara launching album sebuah band metal bernama Beside di Gedung Asia Africa Cultural Centre (AACC), Bandung pada 9 Februari 2008. Kegiatan yang berlangsung di sebuah venue yang sebenarnya adalah sebuah bioskop bernama Majestic ini berakhir dengan korban sebanyak 10 orang meninggal dunia karena berdesakan dan kehabisan oksigen di pintu keluar (yang menjadi satu dengan pintu masuk juga).

Peristiwa tersebut menjadi cukup heboh pada masa itu; sesudah peristiwa itu pihak Kepolisian pun menjadi gamang dengan yang namanya konser rock dan metal. Hal ini sangat terasa karena tidak jauh dari peristiwa itu tepatnya pada 22 Februari 2008 saya terlibat dalam sebuah promotor untuk sebuah konser band metal asal Jerman bernama Helloween yang rencananya akan diselenggarakan di Tennis Outdoor Senayan.

Pihak Kepolisian tidak mengeluarkan izin acara tersebut sampai detik-detik terakhir, dan akhirnya mendapatkan izin setelah pihak kami menyanggupi segala permintaan polisi, salah satunya adalah permintaan agar konser tersebut mendapatkan penjagaan yang luar biasa dari pihak Polda Metro Jaya --tidak kurang dari tim K-9 dan penjinak bom harus ada dalam tim pengamanan konser tersebut. Dan, pada saat itu kami tidak ada pilihan lain selain menyetujui persyaratan itu.

Sebenarnya ada sebuah harapan yang ada di benak saya bahwa pelajaran dari konser di Bandung yang memakan korban jiwa itu akan melahirkan sebuah SOP atau regulasi yang mengatur bagaimana standar penyelenggaraan sebuah konser musik, alih-alih hanya menjadi kegamangan sementara yang akan pupus sejalan dengan perjalanan waktu. Melihat apa yang telah terjadi sepertinya semua pihak harus belajar untuk kelangsungan sebuah penyelenggaraan konser musik di Indonesia.

Setidaknya ada tiga pihak yang harus memperbaiki diri yaitu pihak penyelenggara atau promotor, pihak kepolisian, dan calon penontonnya itu sendiri yang dituntut harus lebih matang. Pihak penyelenggara harus memiliki komitmen untuk berjalan sesuai dengan peraturan yang ada serta tidak bermain kucing-kucingan dengan aparat mengenai rencana konsernya, termasuk mengenai jumlah tiket yang tidak boleh melebih kapasitas venue, bagaimana sistem keamanan yang akan diterapkan, proses evakuasi darurat, keberadaan tim medis dan lain nya menyangkut keadaan darurat.

Pihak kepolisian sebaiknya tidak terlalu mudah gamang dan bersama para promotor berusaha untuk menyusun sebuah SOP untuk keamanan sebuah penyelenggaraan konser, sehingga semua mempunyai standar yang sama dan tidak mempunyai interpretasi yang berbeda. Juga, para calon penonton harus mempersiapkan diri dengan sebaiknya untuk dapat menikmati sebuah konser musik, tidak lupa mengisi perut sebelumnya, mengenakan pakaian yang nyaman, tidak terlalu banyak membawa barang, sebaiknya didampingi oleh laki-laki yang dapat ikut melindungi dirinya, dan juga tidak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan orang lain.

Penyelenggaraan konser musik adalah sebuah bisnis yang besar dan mempunyai efek domino terhadap bisnis lainnya seperti penyewaan lampu, sound system, genset, ridging, catering, artist management, dan juga beberapa bisnis lainnya. Kita semua perlu menjaga kelangsungan bisnis ini.

Riza Novara penggemar musik rock dan metal

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT