Kemuliaan Artifisial Hakim

ADVERTISEMENT

Kolom

Kemuliaan Artifisial Hakim

Furqan Jurdi - detikNews
Rabu, 02 Nov 2022 14:00 WIB
Kemuliaan Artifisial Hakim
Furqan Jurdi (foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Anda pernah mendengar nama Abu Nawas? Kalau iya, Anda akan bertemu dengan kisah jenaka yang mengocok perut. Terlepas kontroversi mengenai tokoh Abu Nawas, apakah ia tokoh artifisial atau hanya dongeng, banyak hikmah dari kisah-kisah jenaka itu.

Alkisah, suatu hari, ayah Abu Nawas yang Kadi (Hakim) itu sedang sakit sekarat. Dia memanggil Abu Nawas menghadap untuk terakhir kalinya. Setiba Abu Nawas di rumah orangtuanya, dia langsung mendekat ke tempat ayahnya yang menunggu ajal itu.

"Anakku, sekarang kamu cium telinga kanan dan kiriku," Kata Syaikh Maulana dengan lemah.

Abu Nawas mengikuti permintaan terakhir ayahnya. Dia mencium telinga kanan, ternyata bau harum, kemudian mencium telinga kiri yang bau busuk. Abu Nawas heran, kenapa kedua telinga itu memiliki bau yang berbeda?

"Sudahkah kamu menciumnya?" tanya ayahnya.

Abu Nawas menjawab sudah, dan menceritakan perihal kedua bau itu pada ayahnya. "Kenapa bisa demikian?"

Syeikh Maulana kemudian berkisah. "Pada suatu hari datanglah dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku mendengar keluhannya. Yang seorang lagi tak kusuka makanya tak kudengar keluhannya. Inilah risiko menjadi Kadi."

Abu Nawas mengerti bahwa menjadi Hakim tidak semulia gelar yang disematkan kepadanya. Tatkala ayahnya meninggal dia dipanggil baginda Sultan ke Istana untuk menjadi Hakim. Abu Nawas segera menemukan alasan. Dia pura-pura menjadi gila.

Gila bagi Abu Nawas lebih mulia dari terperangkap sebagai Hakim. Di pundaknya ada tanggung jawab besar. Kalau salah dia akan segera diazab, bahkan dalam hal yang kecil seperti cerita ayahnya.

Apakah dia pandir? Abu orang jenius karena itu dia menjadi gila, untuk menghindar dari jabatan "yang mulia" itu. Seperti kata Aktor Film Hong Kong Jackie Chen, "Aku gila tapi aku tidak bodoh."

Kisah Abu Nawas secara moral mengajarkan kita, seorang Hakim memiliki tanggung jawab yang cukup besar dari kemuliaannya. Sedikit saja dalam hatinya tidak adil, maka dia akan dikutuk oleh Tuhan.

Begitu banyak hakim dengan jubah kemuliaan. Tapi di balik jubah itu ada "kengerian" yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kemuliaan "yang mulia" hanyalah gelar; kalau Hakim menjadi zalim, sekecil apapun kezaliman itu, kutukan akan segera mengadilinya.

Di belakang gelar "yang mulia" ada jutaan orang yang menunggu nasibnya di ketukan palu sang Hakim.

Hakim itu adalah benteng terakhir bagi pencari keadilan. Putusan mereka akan menentukan nasib dan masa depan manusia. Maka mereka dijuluki sebagai "Wakil Tuhan" di muka bumi.

Pejabat yang Doyan Suap

Kembali lagi, Abu Nawas dipanggil oleh Baginda Sultan untuk segera dilakukan "fit and proper test" di Istana. Sebelum masuk, penjaga yang doyan suap di depan pintu membuat commitment fee dengan Abu Nawas. "Kalau kamu dikasih sesuatu sama Sultan, maka kita bagi dua, kamu satu bagian, aku satu bagian," kata penjaga itu.

"Baiklah," Kata Abu Nawas. Kemudian Abu Nawas menghadap Sultan. Di depan Sultan, Abu Nawas yang gila itu bertanya tentang asal "terasi dari udang".

Mendengar itu Sultan naik pitam, Baginda merasa dihina. Segera dia perintahkan pengawalnya untuk memukul Abu Nawas sebanyak dua puluh kali. Abu Nawas keluar dari Istana dengan lemas setelah dihajar oleh pengawal Sultan.

Di depan pintu pembuat commitment fee tadi meminta jatah dari Abu Nawas. "Aku akan berikan semua kepadamu," kata Abu Nawas. Bukan main girangnya penerima suap ini. Abu Nawas mengambil balok lalu memukul pengawas itu dua puluh kali.

Itulah commitment fee yang pantas didapatkan oleh pejabat yang doyan suap. Apalagi kalau pejabat yang doyan suap itu Hakim, pantas dihukum mati sekalian.

Benteng Terakhir Keadilan

Dari kisah jenaka itu kita belajar, kalau pengadilan sudah rusak, maka keadilan runtuh dan negara akan dikendalikan penjahat. Boleh jadi eksekutif rusak, legislatif rusak, polisi hancur-hancuran, jaksa bobrok, tapi kalau pengadilan juga rusak, maka tidak ada lagi harapan bagi pencari keadilan.

Sedih rasanya mendengar ada seorang hakim terjerat kasus suap. Miris dan memalukan bagi dunia peradilan. Mahkamah itu tempat bagi orang yang mengadili pelanggaran, kriminal, dan kejahatan. Bukan tempat para kriminal dan penjahat bekerja.

Para hakim yang masih doyan "main belakang" akhiri, kembali ah pada nilai luhur peradilan. Ingat, pengadilan adalah benteng terakhir bagi pencari keadilan.

Furqan Jurdi aktivis muda Muhammadiyah, pegiat hukum tata negara

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT