ADVERTISEMENT

Kolom

Protes Murid dan Nalar Kritisnya

Kurniawan Adi Santoso - detikNews
Jumat, 23 Sep 2022 11:00 WIB
Protes Murid dan Nalar Kritisnya
Kurniawan Adi Santoso (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Anak didik saya Kelas VI protes. Mereka kecewa dengan pembelajaran soal ASEAN. Pasalnya mereka diminta menghafal nama-nama negara ASEAN beserta ibu kotanya, dan materi-materi hafalan lainnya. Ada salah satu murid yang mengajukan pertanyaan, "Pak, kenapa harus dihafal? Kan tinggal google aja."

Lalu, gurunya menjawab, "Iya, tapi nanti pas ujian tidak mungkin buka Google. Makanya, ini harus dihafalin."

Murid tampak diam. Dengan raut muka yang tampak dongkol, mereka melanjutkan hafalannya.

Sepulang sekolah saya merenung. Pembelajaran yang saya lakukan di kelas tidak cocok pada masa kini. Murid-murid itu tumbuh besar pada zaman Google, kok masih diajak belajar dengan metode hafalan. Dan, murid terpaksa pakai cara belajar jadul. Pikirnya, apa boleh buat daripada nilai ujiannya nanti jelek.

Barangkali dalam benak anak didik Kelas VI tersebut masih muncul berbagai pertanyaan kritis yang tidak sempat terungkap. Seperti begini: kalau sudah fasih hafal nama-nama negara ASEAN, lantas apa manfaatnya bagi kehidupan di kemudian hari? Atau, apakah materi-materi pelajaran yang dipelajari di sekolah ujungnya hanya untuk meraih nilai tinggi saat ulangan? Pertanyaan-pertanyaan kritis anak seharusnya direspons guru dengan bijak, bukan malah diabaikan atau dimatikan.

Pembelajaran dengan cara hafalan memang tidak salah. Dalam berbagai teori pembelajaran, proses menghafal termasuk dalam ranah berpikir juga. Tetapi, masalah muncul manakala guru hanya berkutat pada ranah menghafal yang dalam dimensi Taksonomi Bloom berada pada tataran berpikir paling rendah. Rutinitas yang terjadi adalah guru memberikan materi, murid menghafalnya, lalu hafalan tersebut dikeluarkan melalui soal ujian. Semakin banyak yang dihafal, semakin tinggi pula nilainya.

Guru boleh saja meminta muridnya menghafal suatu materi, asalkan tidak hanya berhenti di situ saja. Proses menghafal merupakan pijakan kecil untuk meraih cara berpikir yang lebih tinggi, misalnya mampu menciptakan sesuatu yang baru atau dikenal dengan tataran berpikir tingkat tinggi (HOTS).

Murid bisa saja diajak menghafal nama-nama negara ASEAN dan ibu kotanya. Meskipun demikian, tentu para guru tidak akan membuat pertanyaan, sebutkan nama-nama negara ASEAN beserta ibu kotanya! Pertanyaan dengan kata tanya "'sebutkan" tidak akan mampu mendorong siswa berpikir kritis. Beda ketika guru memakai kata tanya "mengapa", misalnya mengapa suatu negara bisa memindahkan ibu kotanya? Dengan pertanyaan ini, siswa tentu akan mencari informasi jawaban tidak hanya dari satu sumber. Lalu memastikan kebenarannya, dan menyimpulkannya. Di situlah proses pembelajaran berpikir tingkat tinggi itu terjadi.

Harus Berubah

Sudah saatnya guru mengurangi pembelajaran pada tataran berpikir rendah. Guru harus memberikan kesempatan luas agar murid bisa berpikir pada tataran tinggi. Secara gampangnya, urusan hafalan percayakan saja kepada Google, pasti beres. Sedangkan guru mendesain pembelajaran agar murid bisa berpikir sampai pada tataran tingkat tinggi, menarik, serta memberi motivasi murid untuk belajar.

Model pembelajaran di kelas harus berubah. Guru tak dapat mempersiapkan masa depan anak didik hanya berdasarkan model pembelajaran masa lampau. Guru yang hanya mengandalkan latihan soal-soal (metode drill) untuk menghadapi ujian (tes) tidak akan bermanfaat bagi siswa yang hidup di abad ke-21. Michael Matsuda, salah seorang pakar pendidikan abad ke-21, menyarankan agar guru melatih siswa memiliki pola pikir yang terus berkembang. Pola pikir siswa harus merujuk keterampilan abad ke-21: kolaborasi, berpikir kritis, komunikatif, dan kreatif.

Lantas, model pembelajaran apa yang cocok untuk mengembangkan keterampilan abad ke-21 pada peserta didik? Sebenarnya banyak. Namun ada satu model pembelajaran yang sangat baik diterapkan, yakni model Project Based Learning (PjBL) atau pembelajaran berbasis proyek. Menurut Brandon Goodman dan J Stiver (2010), pembelajaran berbasis proyek adalah pendekatan pengajaran yang dibangun di atas kegiatan pembelajaran dan tugas nyata yang memberikan tantangan bagi murid yang terkait dengan kehidupan sehari-hari untuk dipecahkan secara berkelompok. Tidak hanya fokus pada hasil akhirnya, namun lebih menekankan pada proses bagaimana murid dapat memecahkan masalahnya.

PjBL memungkinkan siswa mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dengan berpartisipasi aktif dalam pengerjaan proyek. Siswa diberi kemerdekaan menentukan strategi memecahkan masalah, produk apa yang akan dihasilkan. Bahkan bagaimana cara menghasilkan produk tersebut.

PjBL bersumber persoalan nyata dan murid dituntut menghubungkan antara pengetahuan yang didapatkan dengan kegunaannya dalam kehidupan. Misalkan materi soal ASEAN. Ini berarti lebih ditujukan agar kelak siswa mampu bersaing di tingkat global, maka siswa ditantang mengembangkan produk lokal yang memiliki daya jual di lingkup ASEAN. Mereka dituntut aktif bertanya mencari tahu potensi ekonomi di daerahnya, berdiskusi dengan sejawatnya, dan berembuk produk pembelajaran dengan guru. Dengan begitu, mereka akan lebih kritis, kreatif, menjadi problem solver yang terampil, berjiwa wirausaha yang senantiasa mengusahakan kesejahteraan masyarakat.

Dan, model PjBL sesungguhnya bisa membangkitkan aktivitas penelitian atau riset di kalangan siswa. Riset yang dimaknai sebagai penyelidikan (penelitian) suatu masalah secara sistemis, kritis, dan ilmiah untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan fakta yang baru, atau melakukan penafsiran yang lebih baik. Riset dilakukan dengan langkah mengidentifikasi masalah, evaluasi, solusi akan membiasakan murid mengamati lingkungan, menyelami persoalan di masyarakat, yang pada akhirnya merumuskan solusi atas masalah tersebut.

Ketika para murid sudah berpikir tentang memberikan solusi untuk temuan masalah, di situlah pribadi yang peduli telah terbentuk. Tidak membiarkan setiap masalah berlalu tanpa solusi, tidak membiarkan masyarakatnya berkutat dengan persoalan-persoalan. Itulah pertanda tumbuhnya kepedulian kepada sesama. Pribadi semacam itu, kini kian jarang ditemui. Aktivitas keseharian masyarakat cenderung mengedepankan kepentingan pribadi, pada sibuk dengan dunianya sendiri. Setiap orang berlomba mengejar materi demi kebutuhan sendiri tercukupi tanpa memikirkan lingkungan sekitarnya.

Berbekal kepekaan sosial, siswa menjadi pribadi yang peduli pada orang lain dan permasalahan di lingkungannya. Dengan riset, siswa menjadi terbiasa mengamati, memperhatikan lingkungan sekitarnya. Singkat kata, aktivitas riset atau penelitian yang tampaknya berpusat pada aspek kognitif ternyata sangat kuat melibatkan afeksi dan psikomotor.

Kurniawan Adi Santoso guru SDN Sidorejo Kab. Sidoarjo, Jatim

Simak juga 'Nadiem Sebut RUU Sisdiknas Beri Keleluasaan Kampus untuk Berkembang':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT