ADVERTISEMENT

Kolom

Menyorot Sisi Terang Pendidikan Pesantren

Sriwiyanti - detikNews
Jumat, 16 Sep 2022 09:58 WIB
Pesantren Cipari Garut
Foto ilustrasi: Pradita Utama/detikcom
Jakarta -
Wajah pesantren belakangan ini tercoreng oleh maraknya kasus tindak pidana, mulai dari pelecehan seksual, kekerasan, hingga bullying yang merenggut nyawa. Masifnya tragedi ini mengaburkan kejernihan latar belakang dan fungsi pesantren di masa lalu. Padahal, salah satu institusi keagamaan yang turut mengawali berdirinya bangsa Indonesia adalah pesantren. Dimulai sejak masa kolonial, berbagai peran pesantren tak bisa dilepaskan dari perkembangan bangsa, terutama dalam isu pendidikan.

Sudut pandang pesantren terhadap pendidikan dipotret dari sisi yang istimewa, yaitu kaitannya dengan aspek spiritualitas, di mana tugas melaksanakan pendidikan dipandang sebagai bentuk ibadah, bukan untuk urusan duniawi semata. Sehingga dalam menjalankan proses kegiatan belajar mengajar, ada sikap ikhlas dan mengharap rida Allah sebagai wujud nyata aspek transendental.

Di sisi lain, pondok pesantren juga secara khusus mendalami berbagai cabang ilmu pengetahuan agama. Hal ini menjadi poin penting yang membedakannya dengan pendidikan umum. Sehingga tak dapat dipungkiri bahwa pesantren juga merupakan mercusuar pendidikan yang mampu melahirkan cendekiawan muslim yang ahli dalam berbagai bidang keilmuan, baik sains maupun sosial, baik di kancah nasional maupun internasional.

Secara lebih rinci, ketika membangun sebuah konklusi tentang peran pesantren perlu dilakukan asesmen pada output dari pesantren itu sendiri, yaitu sistem pembelajaran. Pesantren dengan kurikulum komprehensif yang menitikberatkan pada keseimbangan kajian Islam dan ilmu umum, serta penerapan kedisiplinan dan pola hidup disiplin, dapat menstimulasi lahirnya sumber daya manusia yang berkualitas. Terutama melalui berbagai stimulasi yang menyasar beberapa aspek.

Kecerdasan Intelektual dan Emosional

Sebagai lembaga pendidikan berbasis Islam, pesantren berfungsi membangun dan mengembangkan kecerdasan intelektual dan emosional secara bersamaan. Intelektualitas diasah melalui transfer keilmuan dari berbagai sektor, mulai dari pendidikan agama hingga keilmuan umum, termasuk teknologi. Bahkan, tak sedikit pesantren modern yang bertransformasi membangun peradaban unggul.

Selain itu, santri juga tidak gagap dalam menghadapi perubahan perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk revolusi industri 4.0. Sebab, ada keseimbangan proses pembelajaran di pesantren melalui program enjoyable learning (belajar menyenangkan) dengan stimulasi aspek spiritualitas, sehingga mampu melahirkan insan pesantren dengan intelektualitas yang mumpuni.

Sedangkan dari sisi perkembangan emosional, pesantren mampu menjadi wadah yang dapat melatih kemampuan kontrol diri (self-control) melalui penerapan berbagai kedisiplinan maupun penanaman kesadaran diri (self-awareness). Salah satu sikap yang dapat dianalisis secara eksplisit tertuang dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Darojat (2015), di mana kebiasaan puasa sunah Senin dan Kamis pada santri berkorelasi tinggi dengan kecerdasan emosional, terutama dalam kaitannya dengan kemampuan mengontrol id atau dorongan dasar manusia.

Mengkader Pemimpin Bangsa

Sebagai basis pendidikan Islam di Indonesia, pesantren memiliki sejarah panjang dalam mengkader pemimpin bangsa. Terlebih dalam menjalankan fungsinya sebagai solusi atas kebobrokan moralitas pemimpin dewasa ini. Tidak bisa dipungkiri, tindak pidana korupsi yang terjadi di Indonesia begitu masif. Beberapa faktor penyebabnya adalah sikap toleran yang salah kaprah pada pelaku korupsi, tidak transparannya para pimpinan instansi, rendahnya komitmen menangani korupsi, maupun lemahnya koordinasi antaraparat penegak hukum.

Selain itu, penyebab utamanya tentu saja rendahnya kemampuan kontrol diri dari para pemangku kebijakan yang memegang amanah suatu jabatan publik. Oleh karena itu, rahim pesantren diharapkan mampu melahirkan calon pemimpin profetik, yaitu kepemimpinan ala nabi. Di mana pemimpin mampu memberikan pengaruh yang kuat karena telah mempraktikkan apa yang dipengaruhkan dalam kehidupannya sendiri. Hal ini sebagai wujud dari jiwanya yang telah tercerahkan.

Dengan kata lain, proses mempengaruhi dilakukan atas dasar keteladanan. Kepemimpinan ini terdiri atas empat dimensi utama yang meliputi sidik atau jujur, amanah atau dapat dipercaya, tablig atau menyampaikan kebenaran, dan fatanah atau cerdas.

Karakteristik kepemimpinan profetik bukan hal mustahil untuk diciptakan di institusi pesantren. Terlebih dengan pendidikan karakter yang begitu melekat dalam kurikulum pembelajaran bagi santri. Implementasi pendidikan karakter juga terinternalisasi melalui keteladanan dari para kiai, ustaz, atau tuan guru, yang memang mumpuni dalam bidang agama, pengasuh asrama yang berinteraksi dengan intensif, guru kelas, dan para pembimbing yang ada di lingkungan pondok pesantren.

Pendisiplinan Positif

Anak-anak dan remaja yang menempuh pendidikan pesantren diasumikan memiliki kemandirian yang tercipta melalui rutinitas dan pendisiplinan positif yang ketat. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Noor (2015) menemukan tiga hal penting yaitu; pertama, sistem pendidikan pesantren yang dilakukan secara terpadu dengan melibatkan keterkaitan yang erat antara semua komponen dapat meningkatkan kemandirian santri.

Kedua, sistem pembelajaran dengan menggunakan kegiatan dialogis, partisipatif-andragogis, menunjukkan adanya peningkatan dalam aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kemandirian. Ketiga, kemandirian terlihat dalam aspek emosional, perilaku, dan nilai yang tercermin pada peningkatan kepribadian seperti memiliki tanggung jawab, disiplin, tidak bergantung pada orang lain, semangat berprestasi, ulet dan gigih, percaya diri, serta peningkatan partisipasi dalam kegiatan sosial dan pengembangan masyarakat.

Di sisi lain, serangkaian tugas dan tanggung jawab seorang santri beririsan dengan kecenderungan untuk menjaga komitmen dan persistensi, terutama melalui aturan-aturan yang padanya melekat reward dan punishment dalam batas normal. Tak hanya itu, santri yang notabene jauh dari orangtua membuatnya harus berani menghadapi dan menyelesaikan tantangannya sendiri tanpa intervensi yang berlebihan dari pihak lain. Tentu dengan bimbingan dan arahan dari pengasuh pondok, guru, maupun pembelajaran yang diterima. Pada situasi semacam ini, sikap mandiri dan tangguh dapat distimulasi.

Akhirnya, meskipun saat ini pesantren tengah berada dalam pusaran berita buruk karena beragam kasus. Namun, pesantren tetap memiliki sisi terang yang patut disoroti. Terutama perannya dalam mewujudkan pendidikan yang terintegrasi, melakukan pembaharuan, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan tanpa melupakan visi utama sebagai pencetak insan dengan kematangan intelektual dan emosional, berkepribadian tangguh, serta berpotensi menjadi pemimpin profetik di masa depan.

Sriwiyanti mahasiswa Master of Educational Psychology, UNISZA, Malaysia

Baca artikel detiknews, "Memaknai Garis Datar Kehidupan" selengkapnya https://news.detik.com/kolom/d-6022810/memaknai-garis-datar-kehidupan.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Sriwiyanti mahasiswa Master of Educational Psychology, UNISZA, Malaysia
Simak juga 'Perdana! BMKG Gelar Sekolah Lapang Hilal Bagi Santri-Santriwati Ponpes':

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT