Kolom

Memaknai Garis Datar Kehidupan

Sriwiyanti - detikNews
Jumat, 08 Apr 2022 13:30 WIB
Ilsutrasi meditasi
Foto ilustrasi: Shutterstock
Jakarta -
Ketika rutinitas berubah menjadi belenggu kebosanan yang mengerikan, barangkali kita sedang lupa bahwa sebenarnya sepanjang rentang hidup adalah garis datar tanpa peristiwa yang mengejutkan. Hanya beberapa titik klimaks yang tidak pernah menjadi dominan, seperti momen lulus sekolah, menjuarai event, promosi di kantor, makan di restoran mahal, kenaikan jabatan, kelahiran anak, liburan keluarga, serta beragam momen lain yang tidak terjadi sehari-hari.

Pun pada titik yang mengarah ke bawah, probabilitasnya bisa jadi sama. Pada masa-masa tertentu, seseorang patah hati, kehabisan uang, ditinggal sahabat, keluarga berpisah, dan aneka peristiwa senada lainnya. Jadi, meski tak ada yang bisa memastikan persentase garis datar dalam kehidupan manusia, tetapi dari hari ke hari kita berjalan di antara grafik turun naik yang didominasi oleh garis datar.

Kesadaran tentang eksistensi garis datar ini dapat membawa manusia pada sebuah kemampuan menghargai hidup dan pemaknaan yang lebih mendalam. Terutama dalam menyikapi rutinitas yang saking membosankan, sering luput untuk dinikmati apalagi disyukuri. Angin yang berembus, semangkuk sarapan yang terhidang, jemari yang masih bisa mengetik menuntaskan tulisan, lembaran tugas membentuk gunung, anak-anak yang berlarian di teras, dan berbagai peristiwa sehari-hari yang terasa remeh-temeh dan begitu-begitu saja.

Belum lagi jika ditambah ketersesatan manusia dalam relasi maya yang dipenuhi riuh love, like, and comment yang tampak seperti sebuah pencapaian, tetapi ilusi.

Di Sini dan Sekarang

Manusia yang hidup dengan kemampuan menikmati hal kecil dalam setiap rutinitas mungkin saja bukan menjadi orang yang paling bahagia. Tetapi, ia merasa cukup, dan hidup dengan utuh bersama momen yang sedang berjalan, siapapun yang ada bersamanya, apapun yang sedang terjadi. Tidak terbelenggu oleh kemarin dan tidak gelisah dengan esok.

Pada salah satu teori Psikologi Gestalt, terapinya fokus pada pemulihan kesadaran akan polaritas dan dikotomi-dikotomi dalam diri manusia, sehingga individu mengenali sesuatu yang menghambat kesadarannya. Pendekatan ini menitikberatkan pada kesanggupan manusia dalam memikul tanggung jawab personal dan hidup utuh sebagai pribadi yang padu. Dalam kaitannya dengan tujuan tersebut, pendekatan Gestalt percaya bahwa tidak ada eksistensi lain dalam hidup manusia kecuali "di sini dan sekarang", disebut juga sebagai here and now concept.

Masa lalu telah pergi, masa depan belum terjadi. Individu yang menyimpang dari momen "sekarang", terbelenggu masa lalu dan gelisah dengan masa depan adalah sumber kecemasan. Sehingga, dalam praktiknya, bahkan di ruang konseling sekalipun, apa yang terpenting adalah perasaan dan sensasi yang dialami individu di saat itu. Bukan tentang "mengapa" terjadi kesalahan di masa lalu, tetapi "apa" dan "bagaimana" perasaan individu saat ini, serta sikap aktual yang diperlukan.

Artinya, garis datar dalam perjalanan hidup juga momen yang perlu disadari, dicerna, dan dinikmati kehadirannya. Bisa saja, garis datar ini mencapai delapan puluh persen dari rentang perjalanan hidup manusia. Apa jadinya jika seseorang tidak mampu menghadirkan dirinya dengan penuh pada fase sepanjang itu dengan konsep "di sini dan sekarang". Hidup yang demikian barangkali seperti cangkang kosong yang ditinggalkan penghuninya.

Kebersyukuran

Kesadaran tentang peristiwa kecil dalam hidup juga bisa menjadi stimulus kebersyukuran (gratitude). Dalam kehidupan sehari-hari, manusia hidup berinteraksi dengan manusia lain, sebagai contoh di dalam institusi keluarga. Sayangnya, esensi asas saling tolong-menolong dalam sebuah keluarga seringkali menjadi kabur karena intensitas yang demikian tinggi. Ibu yang menyiapkan makanan, ayah yang menyapu halaman, anak yang mencuci piring.

Berbagai rutinitas yang bersifat prososial tersebut menjadi tidak berarti ketika manusia tidak memiliki kesadaran tentang keberadaan garis datar dalam hidupnya. Bahwa perjalanan hidup adalah hal-hal kecil semacam itu, yang eksistensinya perlu disyukuri.

Syukur dibahas dalam keilmuan psikologi Barat, yang menitikberatkan hubungan sosial atau bersifat horizontal, berfokus pada emosi positif dan rasa terima kasih pada seseorang yang telah berbuat baik. Berangkat dari definisi tersebut, konsep syukur mengalami perluasan makna yang mencakup emosi positif berwujud penghargaan terhadap hal menyenangkan yang dialami dalam kehidupan, termasuk apa yang dimiliki, kebaikan-kebaikan yang diterima, dan segala kenyamanan yang dirasakan.

Di sisi lain, syukur juga erat kaitannya dengan aspek spiritual. Sehingga, dalam Islam pun ditemukan konsep yang hampir sama, tetapi lebih menitikberatkan pada sisi transendental yang melibatkan Tuhan sebagai pemberi dan penolong dalam beragam peristiwa. Hal itu juga termasuk bagaimana menyikapi hal-hal sederhana dalam hidup, baik secara sosial maupun transcendental. Berterima kasih pada orang-orang terdekat atas bantuan kecil, baik secara lisan maupun ditunjukkan dengan perbuatan. Begitu pula pada Tuhan, melalui ungkapan maupun dengan meningkatkan intensitas ritual keagamaan.

Ketika individu mampu menerima dan mensyukuri rutinitas, ia tidak akan terpuruk saat melewati garis perjalanan hidup yang curam. Sebagai contoh, saat melewati masa pandemi yang telah memporak-porandakan beragam sistem dan kebiasaan hidup selama dua tahun terakhir, manusia tidak serta-merta menjadi depresif dan destruktif. Bahkan laporan Indeks Kebahagiaan Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan data pada laporan sebelumnya.

Dalam data global pun sama, pada laporan worldhappiness.report, perilaku manusia cenderung lebih baik, dilihat dari tendensi membantu orang asing, volunteering, dan sikap memberi yang bahkan mencapai angka 25%. Hal ini seolah mengonfirmasi bahwa ternyata manusia masih memiliki kesadaran yang baik tentang realitas garis perjalanan hidup. Sejatinya resiliensi dan daya juang dapat tumbuh subur di titik terendah. Selama, manusia masih memiliki kesadaran untuk menikmati dan mensyukuri setiap keadaan, serta menjalaninya dengan percaya bahwa tidak ada yang lebih penting selain momen "di sini dan sekarang".

Sriwiyanti mahasiswa Master of Educational Psychology, UNISZA, Malaysia


Simak juga 'Indeks Kebahagiaan Warga DKI Turun, Wagub Balas Pamer Capaian':

(mmu/mmu)