ADVERTISEMENT

Kolom

Menguji Keteguhan Politik Surya Paloh

A. Khoirul Umam - detikNews
Jumat, 02 Sep 2022 11:16 WIB
Surya Paloh peluk Puan Maharani saat bertemu di NasDem Tower
Foto: Dok. Instagram NasDem
Jakarta -

Gegap gempita deklarasi koalisi Pilpres 2024 telah dilakukan dua gerbong besar. Pertama, Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang dimotori Partai Golkar, PAN dan PPP seolah menyulap dirinya menjadi bintang saat pertama kali mendeklarasikan barisan politiknya. Namun tidak jelasnya tokoh sentral pimpinan koalisi dan ketidakjelasan figur Capres-Cawapres yang ditawarkan, membuat koalisi ini "hidup segan, mati tak mau".

Di sisi lain, Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) yang diprakarsai oleh Partai Gerindra dan PKB melangkah lebih maju dengan mendeklarasikan pencapresan Prabowo. Centre of gravity dari koalisi ini memang ada, namun nama Cawapres masih saja dikosongkan sebagai bukti belum selesai proses negosiasi, sekaligus menjadi strategi promosi untuk menarik anggota koalisi baru.

Meskipun kedua koalisi di atas tampil dengan keunikan masing-masing, namun keduanya masih merepresentasikan karakter yang sama. Hampir tidak ada beda di antara keduanya. Keduanya merupakan bagian dari semangat keberlanjutan era pemerintahan Joko Widodo, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Dalam ruang kompetisi terbuka, di mana tidak ada incumbent yang ikut bertanding, ruang kampanye dan propaganda politik yang efektif untuk pemenangan pemilu sebenarnya lebih dimiliki oleh mereka yang mampu menarasikan urgensi agenda perubahan. Sebab, dua periode pemerintahan cenderung menyisakan cukup banyak catatan kritis, baik di bidang ekonomi dan kesejahteraan, politik dan demokrasi, serta hukum dan keadilan, yang semua itu bisa dimanfaatkan sebagai amunisi untuk meyakinkan publik akan pentingnya agenda perubahan dan perbaikan melalui pergantian rezim pemerintahan.

Hingga kini, narasi perubahan dan perbaikan sempat muncul dalam proses komunikasi antara Partai Nasdem, Partai Demokrat, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Komunikasi politik ketiga partai itu menjadi embrio bagi lahirnya gerbong koalisi baru yang berpeluang memanfaatkan narasi "perubahan dan perbaikan". Dalam konteks ini, Ketua Umum Partai Nasdem tampil menjadi "centre of gravity" bagi hadirnya koalisi tersebut. Kesungguhan hati, keteguhan batin, dan komitmen politik Paloh yang disampaikan dalam setiap rangkaian komunikasi politiknya membuat Demokrat dan PKS sendiri tampak antusias dan optimis.

Kendati demikian, komunikasi antara ketiganya hingga kini belum menunjukkan perkembangan signifikan. Besar kemungkinan, stagnasi komunikasi politik tersebut dipengaruhi oleh beragam faktor, mulai dari kalkulasi strategi, perhitungan timing, hingga masih tersisanya materi negosiasi yang belum selesai.

Sejumlah spekulasi bermunculan ketika stagnasi itu terjadi pasca kedatangan Puan Maharani, tokoh politik utama PDIP, ke kandang Nasdem, yang dikabarkan untuk meminta dukungan pencapresannya di Pilpres 2024 mendatang. Atas ketidakpastian dinamika politik tersebut, pertanyaan yang patut diajukan adalah, akankah "Koalisi Perubahan dan Perbaikan" itu terlahir? Ataukah ia akan layu sebelum berkembang? Jika memang ada kendala dalam proses kelahirannya, lalu gerbong politik mana yang akan leluasa menikmati basis pemilih loyal (captive market) yang menghendaki narasi perubahan tersebut? keteguhan atau keraguan?

Kunci jawaban atas pertanyaan tersebut, tampaknya berada di tangan King Maker, Surya Paloh. Kebuntuan komunikasi bisa segera diurai ketika Paloh mulai segera membuka ruang dialogis dengan stakeholders penentu terciptanya koalisi perubahan dan perbaikan tersebut. Tentu, Paloh bukanlah politisi kemarin sore, yang seringkali ragu, bingung dan kesulitan untuk memainkan kartunya guna menentukan sikap dan keputusan politiknya.

Selain itu, sejarah Pilpres 2004 dan 2014 menunjukkan bahwa Paloh merupakan sosok politisi senior yang berani memperjuangkan prinsip dan keteguhan perjuangannya. Meskipun harus berhadapan dengan gerbong koalisi besar yang didukung oleh kekuasaan, keputusan Paloh untuk mendukung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Pilpres 2004 dan mendukung Joko Widodo di Pilpres 2014, tentu tak lepas dari matangnya insting politik sekaligus keteguhan hatinya dalam memperjuangkan apa yang telah ia pilih dan ia yakini.

Jika struktur logika, kesadaran ideologis, dan insting politiknya bertemu, tiada keraguan baginya. Karena itulah, Paloh berani mengambil langkah cepat dan matang. Pada level itu, Ia akan menjelma menjadi "Man of Honour", yang siap memperjuangkan dignity dan nilai-nilai yang ia yakini, sekaligus sanggup menghadapi berbagai jenis risiko perjuangan yang akan menghadang dan melemahkannya.

Karena itu, stagnasi atau berkembangnya proses komunikasi politik untuk melahirkan "Koalisi Perubahan dan Perbaikan" saat ini menjadi barometer bagi keteguhan politik Surya Paloh. Apakah "Sang Mentor" sudah mulai tergerak, ataukah masih ragu untuk melangkah? Kecepatan Paloh untuk mengambil sikap dan keputusan, akan juga akan mendorong soliditas mesin politik Partai Demokrat dan PKS dalam menyiapkan infrastruktur jaringan pemenangan yang mereka miliki.

Untuk itu, diperlukan dialog antar kekuatan politik, yang secara perlahan tapi pasti, akan memecah kebekuan dan mengurai kebuntuan negosiasi. Pemetaan kekuatan, jaringan, logistik, hingga penentuan komposisi Capres-Cawapres, merupakan bagian dari daftar panjang materi negosiasi yang bisa difinalisasi. Jika Nasdem, Demokrat, dan PKS benar-benar mampu mendudukkan semua daftar negosiasi tersebut, maka "Koalisi Perubahan dan Perbaikan" ini berpeluang menjadi koalisi paling matang strategi dan infrastrukturnya dibanding koalisi-koalisi yang telah deklarasi sebelumnya.

Tentu, kondisi ini akan membuat ruang demokrasi di Indonesia semakin dinamis dan bergairah. Terbukanya ragam pilihan, dari yang mengedepankan narasi keberlanjutan maupun narasi perubahan dan semangat restorasi atau perbaikan, bisa menjadi alternatif bagi masyarakat untuk menentukan arah baru kepemimpinan nasional. Namun demikian, semua itu tampaknya masih akan ditentukan oleh sentuhan "tangan dingin" Surya Paloh. Akankah Paloh kembali menunjukkan keteguhan politiknya dalam Pilpres 2024? Ataukah justru masih ragu-ragu dan berpotensi goyah akibat lobi-lobi dan pendekatan politik dari lingkar inti kekuasaan? Sejarah akan mencatatnya.

A. Khoirul Umam Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs (INDOSTRATEGIC)

Simak juga 'Puan Masuk Radar Capres NasDem, Bakal Geser Anies-Ganjar-Andika?':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT