Kolom

Puasa Ramadan sebagai Detoksifikasi Kultural

Fathorrahman Ghufron - detikNews
Selasa, 19 Apr 2022 13:42 WIB
kolumnis
Fathorrahman Ghufron (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Secara medis, detoksifikasi merupakan mekanisme internal dalam tubuh yang bekerja secara alami untuk membersihkan berbagai kotoran yang ada di setiap organ manusia. Puasa Ramadan yang di antara kewajibannya adalah meniscayakan tidak makan dan minum di sepanjang hari menjadi sebuah ekosistem yang "memaksa" kita menjalani masa detoksifikasi.

Namun demikian, bukan berarti kita hanya mencukupkan puasa Ramadan sebagai bentuk detoksifikasi tubuh yang membatasi dari aktivitas makan dan minum. Lebih dari itu, puasa Ramadan merupakan momen detoksifikasi secara holistik yang bisa kita lakukan secara optimal. Selain itu, bila puasa Ramadan hanya dijadikan sebagai penopang utama dalam melakukan bentuk detoksifikasi tubuh, bisa jadi kita akan masuk dalam kategori "awam" yang menjalani puasa sebatas menggugurkan kewajiban teologis secara konvensional.

Bahkan, bila kita tidak bisa mengontrol lelaku yang lain, dan membiarkan energi negatif tetap mengembara di alam pikiran dan hati kita, bisa jadi kita hanya berhasil melakukan detoksifikasi berupa eliminasi racun dan kotoran dari dalam tubuh kita. Namun, kemungkinan lainnya, kita akan larut dalam sistem retoksifikasi. Yaitu, kita memasukkan racun di luar makanan ke dalam jiwa sehingga kita tergolong sebagai pihak yang disinggung hadis Nabi "betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapat pahala apapun dari puasanya, kecuali lapar dan minum."

Oleh karena itu, upaya melakukan detoksifikasi secara holistik selama puasa Ramadan, kita perlu mentransformasikan lingkup detoksifikasi tidak hanya lepas dari asupan makan dan minum. Tapi, kita perlu merawat pikiran dan hati kita agar tidak terjerat dalam energi negatif-destruktif yang bisa mengganggu tatanan ibadah selama puasa Ramadan. Salah satu mekanisme detoksifikasi holistik yang bisa kita lakukan melalui pendekatan kultural dalam memandu proses peribadatan selama puasa Ramadan.

Pendekatan Kultural

Pendekatan kultural merupakan sebuah upaya yang memposisikan puasa Ramadan secara utuh. Yaitu, sebagaimana yang diamanahkan dalam firman Allah: tujuan puasa untuk menjadikan kita semakin bertakwa.

Sebagai salah satu lapisan ontologis yang turut berkontribusi pada pembentukan karakter, pendekatan kultural senantiasa mengarahkan setiap orang yang menjalani ibadah puasa agar menghayati dan mengamalkan setiap keutamaan (fadlilah) dan kelebihan (karomah) yang diberikan Allah kepada pelaku puasa Ramadan yang konsisten (istiqomah).

Oleh karena itu, bila kita memahami terminologi detoksifikasi tubuh sebagai cara untuk membuang racun (toxic) dari dalam tubuh kita, maka, salah satu tantangan besarnya adalah bagaimana kita melakukan detoksifikasi kultural dengan cara mengeluarkan racun dari pikiran dan hati kita. Hal ini sangat penting, agar kita bisa mengontrol lelaku selama menjalani ibadah puasa. Sebab, salah satu pendorong utama seseorang atau sekelompok bertindak jahat kepada pihak lain dan lingkungannya karena ada tumpukan racun yang bersemayam di pikiran dan hatinya.

Melalui detoksifikasi kultural, kita selalu diingatkan oleh lema imsak yang secara filosofis menegaskan sikap prevensi in optima forma agar tak terjebak pada kemungkaran. Selain itu, melalui imsak, kita dituntut untuk menggunakan akal budi dalam menjadikan puasa Ramadan sebagai emotional instrumen dalam bentuk empati kepada sesama.

Ketika imsak dijadikan kontrol sosial di setiap gerak-gerik di sepanjang hari dan malam, maka setiap ikhtiar menahan diri untuk berbuat negatif akan berakumulasi sebagai pandul kebajikan, yang secara otomatis akan mengisi ruang batin dan alam sadar agar di masa-masa berikutnya kita akan dikondisikan pada iklim berbuat kebaikan.

Ketika iklim berbuat baik kita biasakan selama puasa Ramadan, ia akan menjadi alat semacam recharger yang selalu memompa energi positif dalam pikiran dan hati kita. Dampaknya, setiap racun sosial, baik yang disebabkan oleh nafsu kita sendiri atau lingkungan akan mudah terdeteksi sebagai peringatan dini agar kita segera menghindarinya dan menjadikan kita segera siuman ke pandul kebajikan.

Itulah cara kerja detoksifikasi kultural yang berfungsi penguatan karakter dalam dua dimensi sekaligus. Yaitu, menjalankan ibadah puasa dengan penuh komitmen (imanan) dan kontrol diri (ihtisaban) sehingga kita akan diganjar oleh Allah dengan pahala berlipat berupa ampunan dari segala bentuk kemungkaran dan dosa (ghufiro lahu ma taqaddama).

Penghubung Budaya

Dalam melakukan detoksifikasi kultural di sepanjang puasa Ramadan, kita akan dituntun oleh para penghubung budaya, atau cultural broker dalam istilah Cliffort Geertz, baik dalam bentuk personal maupun doktrinal.

Secara personal, kita akan diajarkan dan diingatkan oleh para ulama atau cerdik-cendekia tentang bagaimana cara mengendalikan diri yang benar dan tepat selama berpuasa. Melalui forum pengajian yang difasilitasi oleh masjid atau ruang publik lainnya, kita akan memperoleh pengetahuan dan wawasan baru bagaimana menjalani ibadah dan muamalah yang menghubungkan ikatan batin yang otentik kepada Allah (hablun minallah), kepada sesama manusia (hablun mina nas) dan kepada alam (hablun minal 'alam) sekaligus.

Adapun secara doktrinal, ingatan kita akan selalu disegarkan oleh pesan ketuhanan dan risalah kenabian yang terkandung dalam Alquran dan hadis, baik yang kita baca sendiri maupun yang kita simak di berbagai kesempatan. Bahkan, dalam lingkup yang lebih luas, puasa Ramadan menjadi penghubung budaya antar komunitas dalam menyambut puasa Ramadan dengan berbagai ekspresi kultural, seperti nyadran, imtihanan, khataman, dan pagelaran tradisi lokal lainnya.

Melalui detoksifikasi kultural yang kita lakukan selama puasa Ramadan, berbagai sendi kejiwaan, pikiran, dan hati yang kita tambatkan dalam praktik keagamaan, baik aspek ibadah maupun muamalah, akan menjadi "langit suci" (sacred canopy) --meminjam istilah Peter L Berger-- yang menyelamatkan diri kita dari segala macam kemungkaran personal maupun kemungkaran sosial.

Fathorrahman Ghufron Wakil Katib Syuriyah PWNU Yogyakarta. Wakil Dekan Kemahasiswaan dan Kerjasama Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga

Simak juga 'Al Quran Kunci Ketenangan Hati dan Jiwa':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)