Kolom

Sisi Gelap Imajinasi Sukses di Usia Muda

Arief Hidayat - detikNews
Kamis, 14 Apr 2022 09:35 WIB
Banner Barang Dibeli Crazy Rich Palsu
Ilustrasi: HaiBunda/Annisa Shofia
Jakarta -
Kasus crazy rich yang akhirnya berperkara pidana membuka tabir gelapnya imajinasi akan kesuksesan di usia muda. Mereka disangkakan terlibat kasus penipuan yang merugikan banyak pihak, khususnya bagi yang telah menanamkan uangnya untuk diinvestasikan sesuai dengan apa yang disarankan oleh si crazy rich tersebut. Usut punya usut mereka masuk dalam bisnis afiliator investasi yang menjanjikan imbal balik yang cenderung fantastis dan tidak masuk akal. Hal inilah yang kemudian menimbulkan banyak pertanyaan, dari mana para crazy rich itu mendapatkan uangnya sampai dengan ratusan miliar dengan usia yang sangat muda?

Fenomena crazy rich tidak terlepas dari adanya imajinasi akan kesuksesan. Kesuksesan menurut ukuran mayoritas kita disandingkan dengan tingginya pangkat jabatan, kendaraan, banyaknya uang dan properti yang mewah. Kesuksesan dalam pandangan mayoritas inilah yang menjadi titik masuk hadirnya imajinasi kesuksesan yang dapat dikatakan menyesatkan. Di samping itu, gegap gempita informasi dan selebrasi di media sosial memperlihatkan betapa mudahnya orang mendapatkan dan menghabiskan uang dengan jumlah yang sangat fantastis. Bahkan ada posting-an di media sosial yang menyebutkan bahwa ada seorang crazy rich ketika sulit tidur, maka dia membeli mobil mewah seharga miliaran rupiah. Imajinasi ini kemudian menuntun masyarakat untuk mencari tahu bagaimana yang bersangkutan mendapatkan banyak uang.

Inilah ceruk masuknya para pengambil kesempatan untuk memancing masyarakat agar mengikuti apa yang disampaikannya dengan menggaransi sejumlah keuntungan tertentu yang fantastis. Tontonan yang disuguhkan orang dalam tayangan media sosial ini menarik orang untuk dapat menghasilkan atau mendapatkan sesuatu secara instan dan mudah. Generasi muda dibuai dengan kata-kata imajinatif untuk cukup dengan rebahan, promosi sedikit lalu uang pun mengalir deras. Konsumsi tontonan ini ditangkap oleh masyarakat kita yang belum melek literasi informasi dengan menelannya secara bulat, khususnya para generasi muda.

Masyarakat Tontonan

Kehadiran kasus crazy rich ini mengingatkan kita pada hadirnya masyarakat tanpa daya krittis terhadap apa yang dilihatnya. Guy Debord (1967) mengatakan bahwa masyarakat tontonan merupakan masyarakat yang hampir di segala aspek kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan dan menjadikannya sebagai rujukan nilai dan tujuan hidup. Dalam masyarakat tontonan, yang menjadi contoh adalah apa yang ditontonnya. Hal ini berlaku pada perilaku yang ditampilkan oleh para crazy rich itu.

Dengan tanpa daya nalar yang cukup, penonton digiring untuk melihat bentuk-bentuk pencapaian kesuksesan berupa banyaknya uang yang dimiliki, properti dan mobil mewah yang tidak mungkin dimiliki seseorang pada usia muda. Hal ini bersanding dengan budaya instan yang memiliki kecenderungan untuk meraih sesuatu dengan cara sesingkat mungkin. Ada beberapa tayangan di media yang memunculkan hadirnya rasa keingintahuan dan rasa untuk mencapai sesuatu yang ditontonnya itu secara instan dan mudah. Padahal dalam realitasnya, hal tersebut merupakan flexing (pamer).

Prof. Rhenald Kasali pernah menjelaskan bahwa zaman sekarang ini orang yang tidak benar-benar kaya akan memamerkan dirinya di depan banyak orang untuk dapat meraih pengakuan, penghormatan, dan status sosial. Tujuan-tujuan tersebut dianggap mewakili suasana untuk memenuhi kebutuhannya akan rekognisi dalam masyarakat. Sebaliknya, mereka yang kaya beneran tidak akan pamer dan cenderung berbisik (whispering). Mereka yang kaya beneran itu akan tampil sederhana, tidak mengubah gaya hidup dan bahkan sangat jauh dari perilaku pamer. Jika mereka membeli kendaraan, bukan mobil sport yang fantastis dengan harga puluhan miliar, tetapi mereka akan banyak menimbang dari segi kenyamanannya, karena memang tujuannya untuk dipakai bukan untuk dipamerkan.

Kekayaan dan Kesuksesan


Dulu orangtua kita melihat kesuksesan dengan cara yang sederhana. Jika anaknya masih dilihat kurus seperti orang yang kurang makan, maka dianggap belum sukses. Sedangkan jika kemudian badannya gemuk berisi, maka dikatakan sudah hidup enak dan sukses. Sekarang ini, kesuksesan telah bergeser bandulnya pada keberadaan kekayaan yang dimiliki, baik berupa uang, properti maupun perhiasan mewah. Orang yang hanya gemuk badannya, namun saldo tabungannya tipis bukan lagi dianggap sebagai orang sukses. Sehingga orang yang kurus, tetapi dengan banyaknya uang, kendaraan dan properti yang wah sekarang dianggap sebagai sukses.

Dari pandangan tersebut banyak orang kemudian berusaha untuk "memampukan diri" supaya terlihat kaya, misalnya dengan membeli kendaraan dengan kredit padahal gaji pas-pasan demi memenuhi gengsinya. Makan makanan di restoran mahal, kemudian di-posting di media sosialnya, jalan-jalan ke luar negeri dan sebagainya. Meskipun definisi kesuksesan akan sangat relatif bagi banyak orang, namun suara mayoritas orang akan melihat bahwa sukses adalah banyak uang.

Deng Xiaoping, tokoh peletak keterbukaan ekonomi Tiongkok pernah mengatakan bahwa kaya itu mulia. Dengan ungkapan ini banyak orang Tiongkok kemudian menginginkan menjadi kaya. Ungkapan itu disampaikan Deng empat dekade silam. Kini, Tiongkok maju pesat, bahkan menjadi mesin kedua pertumbuhan ekonomi dunia setelah Amerika Serikat. Konteks ungkapan Deng merupakan motivasi bagi para penduduk Tiongkok untuk meraih kesuksesan melalui kekayaan.

Jika jalan yang di tempuh untuk mendapatkan kekayaan itu merupakan jalan wajar dan tidak melanggar hukum dapat dimaklumi, tetapi banyak justru yang menempuh jalan singkat bahkan melanggar hukum seperti kasus crazy rich itu. Tentu saja kita prihatin dengan definisi kekayaan yang dianggap hanya sebatas penguasaan atas uang dan barang. Hal ini menggiring masyarakat kita pada budaya konsumsi informasi yang tidak sehat.

Sesungguhnya kekayaan bukan hanya terletak pada banyaknya uang, tetapi pada adanya jiwa yang besar, pencapaian, dan kebermanfaatan bagi banyak orang dan lain sebagainya. Jika pendefinisian terhadap apa yang dikatakan kesuksesan itu bergeser, maka orang tidak akan lagi melihat bahwa orang sukses adalah yang memiliki banyak uang.

Masing-masing orang meraih kesuksesannya dengan pencapaiannya sendiri. Ada yang menciptakan kesuksesan hidupnya dengan mengabdikan dirinya untuk orang lain. Ada yang merasakan kesuksesannya dengan berhasil lulus ke jenjang pendidikan tinggi, ada yang dengan mendapatkan pekerjaan idaman dan seterusnya. Sehingga praktik memonopoli kesuksesan dengan melihat jumlah saldo bukan kebenaran yang harus diyakini seratus persen.

Betapa banyak orang kaya miliarder yang justru hidupnya tidak tenang, tidak nyaman, dan selalu dilanda kekhawatiran. Mungkin istilah "rumput tetangga lebih hijau" dalam konteks kearifan lokal kita mampu menggambarkan bagaimana definisi kesuksesan menurut kita sendiri. Kesuksesan itu memiliki ukuran bagi setiap orang dan itu berbeda-beda. Inilah jalan yang harus disampaikan pada masyarakat agar mampu memiliki daya nalar kritis bagi tampilan pamer kekayaan dengan cara instan yang akhirnya berujung pada penyesalan.

Arief Hidayat mahasiswa Pascasarjana Kajian Budaya dan Media Sekolah Pasca Sarjana UGM Yogyakarta

(mmu/mmu)