Kolom

Menyegarkan Kembali Gerakan Mahasiswa

Yuli Isnadi - detikNews
Selasa, 12 Apr 2022 14:32 WIB
Pantauan detikcom di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (11/4/2022), massa aksi mulai merapat ke pintu utama Gedung DPR RI. Perwakilan dari mereka memanjat pagar hitam yang di DPR.
Foto ilustrasi: Pradita Utama
Jakarta -

Dalam sebuah grup Whatsapp, saya mendapat pesan menarik. Seorang teman bilang, "Semua barang yang memakai barang impor akan naik karena bea masuk akan naik," ucapnya. Teman saya tersebut kaum profesional yang bekerja di bidang ekspor dan impor. Letak menariknya bukan pada informasi yang diberikannya itu. Tetapi pada pesan turutan yang diunggahnya. "Tempe naik, skincare naik, shopping-shopping naik... ayolah pie iki carane berjuang udah empet banget."

Ia berasal dari keluarga kaya, uang bukanlah soal. Tapi hati nuraninya tergerak melihat masalah-masalah yang dihadapi rakyat saat ini. Hebatnya lagi, ia adalah gamer dan K-poper yang sejak lama apolitis. Seorang kaya, jauh dari dunia politik, apolitis, tapi nyatanya tergerak untuk berbuat sesuatu untuk mengoreksi kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai kurang pantas.

Hal itu mengingatkan saya pada sebuah momen di Taiwan, tempat saya studi. Ketika demonstrasi reformasidikorupsi pecah di pengujung 2019, tiba-tiba saja teman-teman mahasiswa lainya mengajak berdiskusi tentang kondisi politik di Tanah Air. Yang luar biasanya lagi, sebagian besar dari mereka tidak memiliki minat pada organisasi gerakan mahasiswa dan sebelumnya apolitis. Tapi nyatanya hati nurani mereka tergerak untuk ikut mengoreksi sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai kurang layak.

Dua pengalaman itu memberi sebuah pesan penting. Partisipan gerakan oposisi terhadap penguasa dewasa ini bukan hanya berasal dari mereka yang tergabung di sebuah organisasi gerakan, meyakini ideologi progresif, atau mempunyai karakter pembangkang. Semua orang pada akhirnya punya ketertarikan untuk ikut serta dalam gerakan oposisi menurut caranya masing-masing.

Kesimpulan tersebut bisa menjadi alarm bagi gerakan mahasiswa. Di tengah kebuntuan gerakan-gerakan oposisi lainnya, masyarakat menambatkan harapannya kepada gerakan mahasiswa. Namun beberapa tahun terakhir gerakan mahasiswa tampak tak bertenaga. Kemampuannya menciptakan tekanan politik yang besar semakin menurun. Padahal potensi partisipan gerakan perlawanan cukup besar. Sehingga sudah saatnya para aktivis mahasiswa mencermati kembali temuan-temuan para pakar politik terkait gerakan sosial dewasa ini sebagai upaya penyegaran.

Gejala Baru

Lebih dari satu dekade, para ilmuwan gerakan sosial telah mengenali adanya gejala baru dalam aksi koreksi terhadap penguasa. Gejala baru ini dinamai aksi konektif (connective action), sebuah istilah baru dibanding aksi kolektif (collective action).

Aksi kolektif merujuk pada situasi di mana massa dimobilisasi oleh organisasi dengan syarat adanya kesamaan pemahaman terhadap persoalan yang dihadapi, keanggotaan organisasi, kepatuhan terhadap agenda dan strategi aksi. Sedangkan aksi konektif merujuk pada situasi di mana pemobilisasian massa dilakukan berdasarkan kekuatan jaringan antarindividu melalui media sosial.

Bila pada aksi kolektif pendefinisian terhadap persoalan, perancangan agenda dan strategi aksi dilakukan secara terpusat oleh organisasi gerakan, maka pada aksi konektif hal itu dilakukan oleh masing-masing individu. Setiap orang berhak mendefinisikan persoalan, merancang strategi dan agenda aksi sesuai dengan keinginannya.

Dulu sebelum perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mendisrupsi cara manusia bertukar pesan, aksi kolektif merupakan model perlawanan yang paling efektif dalam menentang kesewenangan penguasa. Dalam aksi kolektif, peranan organisasi amat penting. Karena organisasilah yang mampu mengatasi persoalan penumpang gelap (free riders), yakni mereka kaum pragmatis.

Para penumpang gelap ini bermula dari asumsi bahwa sebagian besar individu adalah rasional. Karena kontribusi seorang individu dalam sebuah aksi yang melibatkan massa dalam jumlah besar tidak akan teridentifikasi, individu yang rasional memutuskan untuk tidak terlibat dalam gerakan. Hitung-hitungannya sederhana. Kalau gerakan perlawanan menang, ia akan ikut menikmati hasilnya meski tidak ikut berkeringat turun ke jalan. Bila gerakan perlawanan itu gagal, ia tak rugi karena tidak ikut memberikan tenaga, waktu, pikiran, dan uang.

Peranan sebuah organisasi menjadi penting dalam mengatasi persoalan penumpang gelap ini. Organisasi bertugas untuk mengikat setiap individu dengan persoalan yang sedang dihadapi agar turut serta melakukan perlawanan. Organisasi juga berfungsi menjelaskan tuntutan gerakan kepada media massa agar semakin banyak yang memahami esensi gerakan tersebut. Dan, organisasi bertugas pula membangun koalisi antarorganisasi agar jumlah partisipan meningkat.

Semakin giat organisasi bekerja, semakin tinggi tingkat keterikatan individu dengan persoalan publik, semakin tinggi frekuensi media massa memberitakan agenda gerakan, dan semakin besar anggota organisasi lainnya ikut membantu. Ini semua diyakini mampu mengurangi jumlah penumpang gelap. Tapi itu dulu. Sejak beberapa dekade yang lalu, realitas sosial sudah banyak berubah.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah berhasil menciptakan berbagai platform media sosial. Platform-platform itu membuat setiap individu dapat bertukar pesan secara langsung tanpa diperantarai organisasi. Individu-individu juga dapat berkirim tanggapan dalam hitungan detik dengan biaya murah. Ketergantungan individu terhadap peranan organisasi menjadi menyusut di dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa riset kemudian menyimpulkan bahwa menyusutnya ketergantungan individu terhadap organisasi di dalam kehidupan sehari-hari telah mengubah lanskap politik. Orang-orang cenderung ingin berpartisipasi dalam sebuah gerakan sosial secara personal.

Seorang individu ikut terlibat dalam sebuah gerakan bukan karena anggota organisasi tertentu, bukan pula karena meyakini ideologi tertentu. Bahkan lebih dari itu, setiap orang memiliki definisinya sendiri terhadap persoalan yang sedang dihadapi, dan bisa saja berbeda dibanding yang diyakini organisasi. Mereka berkeinginan ikut terlibat gerakan perlawanan untuk mewakili dirinya sendiri.

Komunikasi Individu

Para pakar politik melihat realitas tersebut sebagai sebuah tantangan sekaligus peluang. Sebuah gerakan oposisi yang tidak mampu menghadapi tantangan perubahan perilaku komunikasi individu yang bersifat personal tersebut akan mendapati hasil hampa. Gerakannya tidak mampu menghasilkan tekanan politik. Tapi sebaliknya, jika sebuah organisasi mampu memberi ruang kepada tiap individu untuk terlibat mewakili dirinya (bukan organisasi), maka mendefenisikan gerakan perlawanan secara otonom, terlibat menurut cara dan waktu yang dipilihnya sendiri, akan tercipta kekuatan politik yang amat besar.

Bennet dan Segerberg telah melakukan serangkaian studi (2011, 2012). Mereka menyimpulkan bahwa semakin besar kesempatan yang diberikan organisasi terhadap individu untuk terlibat, semakin besar tekanan politik yang dihasilkan. Menariknya, jumlah penumpang gelap juga semakin berkurang. Formula inilah yang dapat menjelaskan gerakan politik yang terjadi di banyak tempat, mulai dari Arab Spring hingga aksi protes berbagai organisasi pada momen G2O Summit London pada 2009.

Artinya, organisasi gerakan mahasiswa yang mengemban harapan besar rakyat harus bertransformasi. Pertama, jika dulu organisasi mahasiswa mendefinisikan gerakan perlawanannya secara tersentral, kini hal itu tak boleh lagi terjadi demi mendapatkan dukungan lebih luas. Organisasi mahasiswa bisa saja menuding adanya persoalan formulasi kebijakan pada rencana IKN pada aksinya. Tapi hendaknya memberi kesempatan bagi individu-individu di luar sana yang bukan anggota organisasi gerakan mahasiswa untuk meyakini persoalan IKN itu adalah terkait agenda kapitalisme, atau keyakinan lainnya.

Kedua, kalau dulu organisasi mahasiswa memiliki beban untuk menjelaskan penyebab dan tuntutan aksi kepada media massa. Sekarang hal itu bisa dilakukan oleh orang per orang. Setiap individu memiliki kesempatan untuk menjelaskan kepada media massa mengenai penyebab dan tuntutan aksi yang mereka lakukan.

Ketiga, bila dulu organisasi mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk membangun koalisi, saat ini tanggung jawab tersebut bisa dilakukan oleh individu-individu melalui media sosial mereka. Bahwa koalisi antarorganisasi itu penting, memang tak terbantahkan dan tetap harus dirawat. Tapi yang lebih penting dari itu semua adalah memberi ruang kepada masing-masing individu untuk mengembangkan gerakan aksi berbasis platform media sosialnya, baik pertemanan maupun follower.

Alih-alih fokus dalam mendefinisikan isu, menyusun strategi komunikasi dengan media massa dan membangun jaringan, yang dibutuhkan gerakan mahasiswa saat ini justru memperbesar peluang individu-individu dalam mencerna dan mendefinisikan sendiri persoalan yang tengah dihadapi bersama. Memberi mereka kesempatan untuk membicarakan pemikiran mereka kepada media dan mendorong mereka untuk membangun jaringan gerakan perlawanan secara bersama-sama. Dengan begitu jumlah penumpang gelap akan semakin menyusut, kekuatan politik yang dihasilkan semakin besar, dan gerakan korektif semakin kuat.

Yuli Isnadi dosen Fisipol UGM, pemerhati isu internet politics

(mmu/mmu)