ADVERTISEMENT

Kolom

"Crazy Rich" dan Investor Gila

Ali Riza Fahlevi - detikNews
Rabu, 06 Apr 2022 13:02 WIB
Hands of an unrecognisable woman with mobile phone on a desk, next to a keyboard, with a stock market chart on the screen
Foto ilustrasi: Getty Images/FreshSplash
Jakarta -

Tulisan ini akan melengkapi tulisan dari senior saya, Dr. Astrie Krisnawati dari Telkom University berjudul Crazy Rich, Money Game, dan Edukasi Investasi (detikcom, 16/3) Saya akan mengulik maraknya investasi sesat yang melibatkan para crazy rich dari sisi investor.

Yang pertama dan perlu untuk dipahami, karakteristik psikologis seorang investor itu terbagi menjadi dua, yaitu investor rasional dan investor irasional. Kedua jenis investor tersebut mudah ditemukan dalam pasar modal. Investor rasional merupakan investor yang cenderung bersikap spekulatif dan kerap menggunakan analisis teknikal dalam pengambilan keputusannya. Investor jenis ini akan fokus terhadap keuntungan jangka pendek. Investor semacam ini juga dikenal sebagi risk-takers investors.

Sedangkan investor rasional adalah jenis investor yang concern terhadap nilai fundamental perusahaan sebagai pertimbangan utama bagi investor dalam melakukan sebuah keputusan investasi. Investor jenis ini akan cenderung fokus terhadap keuntungan jangka panjang, dan jenis investor ini terbilang sebagai risk-averse investors. Kedua jenis investor tersebut tidak dapat dibedakan berdasarkan tingkat kewarasannya.

Investor Gila

Apabila kita bawa bagaimana konsep investor tersebut dalam kasus yang terjadi atas investasi ilegal yang melibatkan para crazy rich, maka saya meyakini bahwa sebagainya besar pemain dalam investasi tersebut adalah investor irasional. Tentunya, investor irasional yang saya maksud di sini berbeda dengan investor irasional yang marak ditemukan pada pasar modal yang ada di Indonesia. Ya, "investor gila".

Mengapa saya katakan investor gila, karena dalam dunia investasi terdapat sebuah prinsip dasar yaitu high risk, high return. Yang mana, tingginya pengembalian atas investasi yang dilakukan akan sejalan dengan tingginya tingkat risiko yang dimiliki atas aset investasi. Sehingga, risiko akan selalu melekat terhadap apa pun jenis investasi yang dilakukan.

Dari prinsip dasar investasi tersebut, akan muncul satu pertanyaan penting, apakah risiko dalam sebuah keputusan investasi dapat dihilangkan? Jawabannya bisa. Ya, risiko dapat dihilangkan dengan tidak terlibat dalam keputusan investasi. Karena risiko akan melekat dalam keputusan investasi yang dilakukan, mustahil untuk menghilangkan risiko yang ada dalam sebuah aset investasi. Yang ada, risiko dapat diminimalkan dengan cara melakukan diversifikasi atas aset investasi, dan juga memahami dengan baik keputusan investasi yang akan dilakukan. Dalam pasar modal, hal ini dapat dilakukan melalui CAPM (Capital Asset Pricing Model).

Perlu untuk dipahami, dalam hubungan antara investasi dan keuntungan yang akan diterima oleh investor, investasi hanya bersifat additional income, dan akan sulit untuk menjadikan investasi sebagai pengganti dari income yang sesungguhnya. Artinya, apabila investasi dilakukan oleh individu yang bergaji Rp 3 juta, dan setiap bulan individu tersebut menyisihkan 20% atas gajinya untuk keperluan investasi, maka untuk dapat menjadikan keuntungan investasi sebagai sebuah income setidaknya individu tersebut memerlukan waktu 25 bulan, dengan memilih minimal satu aset investasi dengan tingkat return minimal 20%.

Dari contoh tersebut juga menunjukkan bahwa banyaknya korban atas investasi bodong yang melibatkan para crazy rich sejatinya diakibatkan atas kesengajaan dan "kegilaan" para investor yang berkhayal untuk mendapatkan keuntungan melebihi batas normal atas aset investasi dalam waktu yang relatif singkat. Meskipun demikian, "kegilaan" yang dimiliki oleh investor sebenarnya bukanlah hal yang baru. Karena dalam konteks perilaku ekonomi (behavioral economics), manusia lebih digambarkan sebagai pihak yang cenderung mencari kepuasan daripada pihak yang memiliki kemampuan dalam mengambil sebuah keputusan yang optimal.

Dan, manusia, termasuk di dalamnya investor, tidaklah dibentuk untuk mengambil sebuah keputusan yang rasional, melainkan mengambil sebuah keputusan yang tidak konsisten dan irasional. Dalam konteks investasi, setidaknya terdapat tiga faktor yang mempengaruhi keputusan investasi yang dilakukan oleh seorang investor, yaitu kelas sosial (social class), keinginan (wants), dan preferensi dari seorang investor (preferences).

Social class kerap dipengaruhi oleh lingkungan di mana investor atau individu itu tinggal dan juga gaya hidup. Misalkan keinginan untuk membeli rumah megah dan kendaraan mewah. Sedangkan wants biasanya mengacu pada kepentingan jangka pendek yang hendak dicapai oleh investor. Misalnya, keputusan investasi dilakukan karena keinginan dari investor untuk menikah dalam waktu dekat, pergi haji, dan sebagainya.

Adapun preferences biasanya akan mengacu pada investasi yang dianggap sesuai dengan karakteristik yang dimiliki oleh individu atau investor. Misalnya seorang muslim yang taat akan cenderung untuk melakukan investasi pada aset-aset syariah. Terlepas faktor apa yang menjadi pertimbangan atas investasi yang dilakukan, setidaknya investasi haruslah menjadikan kehidupan yang lebih baik yang akan diterima oleh seorang investor.

Cognitive Bias

Sayangnya, dalam kasus investasi ilegal yang melibatkan binary option dengan faktor sosial yang menjadi alasan utama investor untuk melakukan investasi pada platform tersebut tidak diikuti dengan sikap rasional yang dimiliki oleh investor. Akibatnya, jutaan hingga miliaran rupiah hilang bak ditelan bumi. Dalam konteks perilaku keuangan (behavioral finance), perilaku irasional atas investasi yang dilakukan diakibatkan adanya cognitive bias yang melekat dalam diri investor tersebut.

Setidaknya, terdapat empat jenis cognitive bias yang kerap melekat dalam tubuh investor, yaitu over-confidence, herding, anchoring, dan disposition effect. Over-confidence merupakan jenis cognitive bias yang kerap melingkupi investor. Sikap over-confidence menjadikan investor meyakini bahwa keahlian dan kemampuan dirinya dalam mengolah informasi jauh lebih baik dibandingkan dengan orang lain.

Herding merupakan cognitive bias yang menjadikan keputusan investasi yang dilakukan oleh seorang investor dipengaruhi oleh keputusan investasi yang dilakukan oleh investor ataupun orang lain. Misalnya, Si-A membeli 1 lot saham PT B. Pembelian saham tersebut dikarenakan banyaknya masyarakat yang membeli saham tersebut. Herding ini juga kerap menunjukkan buruknya pengetahuan akan investasi yang dimiliki oleh individu.

Sedangkan anchoring merupakan cognitive bias dalam keputusan investasi yang terjadi dengan menganggap "informasi pertama" yang diterima oleh individu akan mendukung keputusan investasi yang dilakukan. Sebagai contoh, saham PT A yang semula Rp 500 per lembar, kini menjadi Rp 100 per lembar. Dengan penurunan harga saham perusahaan tersebut, investor akan menganggap bahwa pembelian saham PT A senilai Rp 100 per lembar merupakan keputusan investasi yang tepat, karena investor memiliki keyakinan bahwa harga saham akan naik pada periode yang akan datang. Cognitive bias ini timbul karena individu tersebut tidak mampu untuk mengolah informasi yang sebenarnya terjadi atas apa yang menjadikan harga saham PT B turun secara drastis.

Terakhir adalah disposition effect. Ini merupakan cognitive bias yang mengakibatkan kecenderungan investor untuk menjual suatu aset investasi ketika harga naik, dan menahan aset investasi ketika harga turun. Akibatnya, investor akan kehilangan peluang untuk terhindar dari (mendapatkan) kerugian (keuntungan) atas penurunan (kenaikan) nilai aset tersebut.

Tulisan ini mencoba untuk memberikan gambaran yang objektif dalam melihat maraknya investasi ilegal yang terjadi di Indonesia dengan tidak membabi buta menyalahkan penyedia platform investasi ilegal serta para crazy rich.

Flexing yang dilakukan oleh para crazy rich sebagai strategi untuk menarik para investor untuk menanamkan modalnya pada platform investasi sesat tersebut memang tidak dapat dibenarkan. Namun "kedewasaan" pihak yang melakukan investasi melalui platform investasi ilegal serta keputusan investasi yang dilakukan secara sadar oleh investor juga menjadi bukti bahwa kerugian yang diterima oleh investor tidak hanya disebabkan oleh ulah para crazy rich, melainkan juga oleh ulah para investor itu sendiri.

Selain itu, saya meyakini bahwa segala tindak kejahatan yang ada di negeri ini, termasuk maraknya platform investasi ilegal yang melibatkan para "orang kaya gila", juga dikarenakan adanya ruang ataupun celah terbuka yang menjadikan platform investasi ilegal tumbuh subur di Indonesia. Andai pemerintah sigap sejak awal dalam tidak memberikan ruang bagi tumbuhnya platform investasi ilegal tersebut, maka tidak akan ada ribuan investor yang akan dirugikan atas kejadian tersebut.

Ali Riza Fahlevi dosen dan peneliti pada Kelompok Keahlian Finance & Accounting Studies Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University, professional business consultant, dan sedang menempuh pendidikan doktoral dalam bidang akuntansi di Universitas Indonesia

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT