ADVERTISEMENT

Kolom

Fenomena "Crazy Rich" dan Pencucian Uang

Efendik Kurniawan - detikNews
Selasa, 29 Mar 2022 10:35 WIB
Fenomena Crazy Rich & Money Laundering
Efendik Kurniawan (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -
Hari-hari belakangan ini, publik disuguhkan dengan berita-berita terkait beberapa anak muda yang dikategorikan sebagai crazy rich. Berita yang ditunjukkan bukan dalam artian bagaimana proses orang itu menjadi crazy rich dengan artian yang wajar di mata masyarakat, tetapi sebaliknya yaitu dua orang --Indra Kenz (IK) dan Doni Salmanan (DS)-- telah ditetapkan sebagai tersangka atas perolehan hartanya yang diduga berasal dari tindak pidana dan terjadi money laundering.

Publik sontak heboh dan mencemooh keduanya, yang (mungkin) dahulunya diidolakan, dibangga-banggakan, dan bahkan menjadi motivator dalam hidupnya supaya bisa (sama) menjadi crazy rich, tetapi dalam faktanya yang ditemukan penyidik Bareskrim terdapat dugaan terjadi double criminality, yakni tindak pidana asal berupa penipuan dan/atau penyebaran berita bohong dan tindak pidana lanjutan berupa tindak pidana pencucian uang (money laundering).

Sebelum pada pembahasan dari aspek dugaan tindak pidana yang dilakukan IK dan DS itu, publik setidaknya harus paham dulu terkait istilah crazy rich yang sedang booming di masyarakat.

Crazy Rich

Dari segi terminologi crazy rich mempunyai makna superkaya. Dalam perkembangannya di masyarakat, istilah itu disematkan kepada beberapa orang yang memiliki bisnis, rumah mewah, mobil sport berharga miliaran, dan menggunakan pakaian-pakaian branded. Pendek kata, orang di tingkatan 'konglomerat'.

Menjadi aneh bagi masyarakat dan menarik perhatian adalah ada beberapa anak yang relatif masih sangat muda bisa langsung melesat menjadi seorang crazy rich. Pertanyaan yang pertama kali diajukan adalah dari mana perolehan 'harta mereka' itu?

Awalnya publik percaya saja dengan bisnis yang mereka jalankan. Misalnya, IK dengan aplikasi Binomonya (trading binary option). Publik percaya karena (mungkin) ada beberapa rekannya yang bisa investasi sukses di dunia trading. Investasi yang menjanjikan dengan keuntungan besar dan dengan cara cepat. Begitu mungkin yang ada di benak mereka (para korban). Hal itu ditambah dengan bukti-bukti pamer yang dilakukan oleh IK di media sosial (Instagram dan Youtube) yang membuat kepercayaan mereka bertambah, serta IK juga disebut oleh netizen sebagai crazy rich.

Sedangkan yang dilakukan oleh DS yaitu mengoperasikan aplikasi Quotex yang merupakan aplikasi broker trading dengan penawaran aset biner digital. Apa yang dilakukan DS dan IK dapat dikatakan hampir mirip juga, sebuah bisnis yang berkecimpung di dunia trading.

Iming-iming yang dilakukan oleh DS dan IK yaitu sama. Hampir semua adalah 'kekayaan instan' yang didapat di usia muda. Hal ini juga yang menjadi impian anak muda di negara ini. Tanpa kerja susah-payah, bisa mudah mendapatkan uang dan ketenaran, serta bisa pamer sana-sini. Keadaan masyarakat, budaya, dan lingkungan yang seperti ini yang mudah sekali dimanfaatkan oleh pelaku-pelaku kejahatan dalam bidang bisnis dengan iming-iming investasi mudah dan hasilnya besar.

Money Laundering

Atas dugaan terjadinya tindak pidana yang dilakukan oleh IK dan DS yaitu berupa dugaan tindak pidana penipuan (secara umum) atau menggunakan sarana elektronik (UU ITE), penyidik bergerilya untuk melakukan penyitaan terhadap aset-aset yang dimiliki oleh IK dan DS atas dugaan terjadinya money laundering. Perlu menjadi perhatian penyidik Bareskrim bahwa di dalam kejahatan money laundering itu terdapat dua tindak pidana, yakni tindak pidana asal (predicate offence) dan tindak pidana lanjutan (follow up crime).

Konsep dari money laundering ini juga harus dipahami oleh penyidik supaya tidak salah dalam penegakan hukum pidananya, khususnya yang saat ini dilakukan yaitu berupa "penyitaan". Maksud dari tindak pidana asal tersebut, yaitu tindak pidana asal yang menghasilkan uang dan kemudian dilakukan proses pencucian uang.

Selanjutnya, untuk dapat dikategorikan sebagai money laundering, terdapat tiga tahapan proses perbuatan yaitu placement (penempatan), layering (transfer), dan integration (penggunaan harta kekayaan). Dikatakan sebagai 'tahapan' karena ketiga tahap perbuatan itu harus dilalui semua agar dapat disebut sebagai money laundering dengan terjadi "delik selesai".

Tahap 'penempatan' dalam money laundering adalah upaya menempatkan dana yang dihasilkan dari suatu tindak pidana asal ke dalam sistem keuangan, yang bentuk perbuatannya bisa berupa: menempatkan dana pada Bank, menyetor uang pada Pengguna Jasa Keuangan, menyelundupkan uang tunai dan/atau membeli barang-barang berharga.

Selanjutnya, tahap 'transfer' yaitu perbuatan memisahkan hasil tindak pidana asal dari sumbernya, yakni tindak pidananya melalui beberapa tahap transaksi keuangan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul dana. Dalam tahapan ini terdapat proses pemindahan dana dari beberapa rekening atau lokasi tertentu sebagai hasil placement ke tempat lain melalui serangkaian transaksi yang kompleks dan didesain untuk menyamarkan dan menghilangkan jejak sumber dana. Bentuk perbuatannya bisa berupa transfer dana dari satu bank ke bank lain dan/atau antarwilayah ataupun negara. Serta, transfer yang dilakukan kepada orang lain guna menyamarkan bahwa uang tersebut ada padanya.

Tahapan yang terakhir yaitu 'menggunakan harta kekayaan'. Maksud dari upaya menggunakan harta kekayaan yang telah tampak sah, baik untuk dinikmati langsung, diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk kekayaan material maupun keuangan, dipergunakan untuk membiayai kegiatan bisnis yang sah, ataupun untuk membiayai kembali kegiatan tindak pidana. Dalam melakukan money laundering, pelaku tidak terlalu mempertimbangkan hasil yang akan diperoleh dan besar biaya yang harus dikeluarkan karena tujuan utama adalah untuk menyamarkan atau menghilangkan asal usul uang sehingga hasil akhirnya dapat dinikmati atau digunakan secara aman.

Berdasarkan konsep di atas, penyidik harus hati-hati dan cermat dalam melakukan penyitaan terhadap barang-barang kepemilikan milik IK dan DS. Serta, dalam meminta ke beberapa pihak guna diminta menyerahkan uang dan/atau barang yang pernah dibeli atau diberi dari IK dan DS. Mengingat, terdapat perbedaan yang mendasar antara perbuatan money laundering dengan hubungan hukum pembeli beriktikad baik. Jangan sampai ada pembeli (iktikad baik) yang berhubungan dengan IK dan DS akan dirugikan.

Efendik Kurniawan, S.H., M.H asisten dosen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Surabaya, anggota Mahupiki Jawa Timur
Simak juga 'Fenomena Flexing pada Crazy Rich di Mata Psikolog':

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT