ADVERTISEMENT

Kolom

20 Tahun Telah Setia Bersama dengan Ultra Milk

Agustian Ganda Putra - detikNews
Senin, 07 Mar 2022 23:15 WIB
Shutterstock
Ilustrasi/Foto: Shutterstock/
Jakarta -

'Bang...cepat dikit lah! Ntar terlambat sekolah! Ambil nanti susu kita di kulkas yah dan bagi sama adekmu!', demikianlah nostalgia yang sungguh membekas di ingatan saya.

Hampir setiap pagi pekikan nasihat tersebut saya dengar saat berusia 7-13 tahun, tepatnya tahun 2001-2007 yang silam. Ibu selalu memanggil saya dan adik saya untuk segera bergegas mandi, berpakaian seragam, dan sarapan sebelum berangkat.

Saat itu, saya sedang duduk di bangku kelas 1-6 SD di salah satu sekolah swasta yang ada di daerah Pekanbaru. Sementara adik saya masih kecil dan dididik di Taman Kanak-kanak (TK). Akan tetapi, ibu sudah mengajari saya untuk rajin minum susu sebelum berangkat sekolah, di samping sarapan.

Tujuannya, kata ibu, adalah agar tubuh segar dan sehat, tulang kuat, cepat tinggi, dan terlebih otak kami bisa mengikuti dan menangkap pelajaran yang diberikan oleh guru. Hanya saja, waktu itu susu yang saya minum itu ada yang tidak punya rasa (putih). Maka, terkadang satu gelas susu untuk setiap pagi tidak habis seluruhnya. Kadang yang habis hanya setengah gelas, kadang hanya tiga per empat gelas.

Maka, kami minta kepada ibu agar membelikan susu yang punya rasa; atau strawberry atau cokelat. Maklum saja, anak-anak pada usia demikian suka yang manis-manis. Agar susu yang diminum sesuai dengan selera, saya sering dibawa ibu berbelanja ke pasar. Ibu bilang ke penjual susu, 'Pak, ada Ultra Milk?'. 'Ada, Bu! Mau pilih rasa apa?', tanya si penjual. Lalu, sebagai ibu akan meminta saya yang menjawab. 'Rasa cokelat!'. Kemudian, susu dengan rasa cokelat sampai ke tangan saya dan tugas saya membawanya pulang.

Nah, kalau sudah rasa cokelat, susu itu tidak akan bertahan lama. Paling-paling, satu kotak susu Ultra Milk isi 1 liter bisa bertahan 2-3 hari. Berbeda dengan Ultra Milk yang tidak memiliki manis-manisnya, bisa bertahan sampai satu minggu di kulkas.

'Ultra Milk...Ultra Milk...', demikian saya mencoba mengingat nama susu yang saya konsumsi tiap hari. Di sekolah, jika jeda, saya kerap membanggakannya kepada teman teman. Demikianlah, seyogyanya fase yang dialami seorang anak SD: membuat iri teman.

Setelah Pisah dari Keluarga

Setamat SD, saya memilih untuk mengecap pendidikan lanjutan pertama di kampung halaman, yakni di Kecamatan Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Di kampung, saya tinggal di rumah keluarga selama 3 tahun.

Selama sekolah di kampung, saya tetap ingat dan setia mengonsumsi Ultra Milk. Saya membelinya dari warung atau ruko (rumah toko) yang ada di dekat rumah. Biasanya, saya beli Ultra Milk ukuran 200 ml dengan varian rasa yang berbeda, biasa, strawberry, dan cokelat. Saat SMP, saya sudah bisa berdamai dengan rasa yang dulunya tidak enak. Sebab, bukan rasanya yang terutama tapi kandungan nutrisi yang membuat tubuh sehat.

Itu pilihan saya! Meski ada merek susu yang lain, saya tetap pilih Ultra Milk. Ibu yang mengajari saya. Saya ingat, di suatu waktu saat kelas VI SD, saya bertanya kepada ibu, 'Bu, kenapa kami harus minum Ultra Milk, sih? Ultra Milk terus, Ultra Milk terus, gak ada yah susu merek Ultra Men, biar kami bisa punya kekuatan hebat?'.

Saya tahu bahwa ibu sedikit bingung mau menjawab apa dan bagaimana. Lalu, dengan cukup bijaksana, ia menunjukkan sisi kotak susu dan mengajak saya untuk mengeja kandungan yang ada di dalam susu itu. Entah apa saja yang dikatakan oleh ibu, yang saya ingat adalah karbohidrat (untuk tenaga), protein (otot kuat), vitamin (biar sehat), kalsium, magnesium, dan fosfor (untuk tulang dan gigi).

Saya tidak bisa menduga bahwa ibu sungguh kreatif pada 13 tahun lalu mengajari dan sekaligus mendoktrin saya untuk percaya dan selalu mengonsumsi Ultra Milk. Bahkan, supaya kami semakin yakin dengan Ultra Milk, ibu kalau mau membuat kue, selalu pakai Ultra Milk dan mengajari kami makan sereal dicampur dengan Ultra Milk. Menariklah cara ibu mengedukasi kami, terlebih senang mengonsumsi makanan atau minuman yang membantu tubuh semakin sehat dan kuat.

Edukasi itulah yang telah terekam lama di pikiran saya. Maka, bisa dikatakan, kesetiaan saya untuk mengonsumsi Ultra Milk adalah berkat didikan ibu yang ingin kami sehat. Memang tepat kata pepatah, 'Kecil teranjak-anjak, besar terbawa-bawa'.

Tetap Rutin dan Setia

Kebiasaan untuk sehat saya biasakan hingga saya telah berusia 27 tahun. Latihan yang diberikan oleh ibu sungguh menjadi kenangan yang tidak lagi nostalgia belaka, tetapi hidup dan menggema di sanubari. Saya tetap rutin dan setia untuk pilih Ultra Milk. Bisa saya analogikan persahabatan kami ibarat persahabatan dua orang manusia yang tetap bertahan, tidak tergerus zaman, tidak putus karena godaan variasi/reklame/iklan, dan tidak selingkuh.

Di tengah rutinitas kerja yang cukup padat, saya selalu ingat menjaga kesehatan. Sebab, bagi saya kesehatan itu amat mahal dan penting. Jika sakit, saya akan tergeletak tak berdaya. Untuk itu, saya tidak lupa untuk mengonsumsi vitamin, buah-buahan, sayur-mayur, madu asli, dan tentunya Ultra Milk. Selalu tersedia di kulkas, sehingga kapan saja mau diminum, stock ada. Tidak seperti ketika SD dan SMP, saya diberikan jatah terbatas untuk minum susu.

Memang, saat ini saya tidak berkeluarga karena pilihan hidup menjadi imam/pastor Katolik. Namun, di rumah bersama dengan para pastor lain, saya selalu siapkan persediaan susu Ultra Milk dalam varian dua rasa, yakni biasa dan cokelat.

Pernah ada saudara yang memilih merek susu lain. Tapi, saya tidak mau, karena lidah, perut, dan tubuh saya sudah terbiasa dengan Ultra Milk. Saya tetap minum Ultra Milk. Saudara tersebut penasaran dan mencoba beberapa kali. Akhirnya, ia pun ketagihan dan sekarang di kulkas rumah kami hanya ada Ultra Milk, yang lainnya tidak.

Mengapa Harus Ultra Milk?

Alasan pertama dan sangat spontan adalah karena ibu. Ia yang mengedukasi dan membiasakan kami minum susu itu sejak saya SD. Kedua, soal rasa yang sudah melekat di lidah dan tubuh.

Ketiga, karena memang Ultra Milk berbahan dasar susu sapi segar dan steril yang memiliki kualitas tinggi. Kandungan asupan nutrisi dalam Ultra Milk sungguh kompleks. Ada protein, vitamin, kalsium, zink, magnesium, fosfor, selenium, karbohidrat, lemak, dan energi dengan takaran yang berbeda-beda. Maka, susu ini mampu mendukung tubuh tetap sehat, bugar, berkembang, dan tentunya menjaga imunitas tubuh.

Keempat, susu Ultra Milk diolah menggunakan teknologi UHT (Ultra High Temperature). Kemasannya juga aseptik. Maka, kualitas susu tetap terjaga selama tertutup walau susu tidak disimpan dalam pendingin. Kelima, kemasan susunya menarik dan dapat di-reuse untuk keperluan yang lain. Sampah di rumah berkurang. Kemasan Ultra Milk juga telah bersertifikat FSC, tanda bahwa ramah lingkungan.

Keenam, saya senang dengan filosofi indah dari Ultra Milk, yaitu 'kesungguhan hati mempersembahkan nutrisi dari alam'. Ultra Milk mencoba menyajikan nutrisi yang sungguh dibutuhkan tubuh dan sumbernya dari alam, sifatnya murni (pure passion). Ketujuh, harga susu Ultra Milk ekonomis dan terjangkau. Selain itu, saya tidak menyesal mengeluarkan uang saku untuk membeli dan mengonsumsi Ultra Milk karena toh saya membeli nutrisi yang amat berguna bagi tubuh.

Pilihan Sehat di Tengah Pandemi

Di tengah situasi pandemi COVID-19, saya pikir pilihan untuk sehat adalah konsumsi makanan yang bergizi, berserat, dan sehat; cukup berolahraga; disiplin dan taat dalam protokol kesehatan; ikut vaksinasi I, II, dan III/booster; dan tentunya setia pada Ultra Milk.

Semenjak pandemi, saya menjadi cukup kreatif untuk mencoba kreasi di rumah: mulai dari membuat kue untuk menghemat pembelian snack, membuat ice cream, dan snack ringan lain. Tentu, di dalam kreasi itu saya memakai susu UHT Ultra Milk. Selain itu, agar imunitas semakin kuat, setiap pagi saya minum segelas Ultra Milk dicampur dengan madu alami. Karena, madu membantu Ultra Milk bekerja dari dalam.

Saya juga amat rutin minum Ultra Milk susu putih setelah vaksinasi I (Mei 2021), II (April 2021), dan III (Februari 2022) yang lalu. Terutama, setelah vaksinasi III, saya demam dan tubuh saya meriang serta bahu bekas suntikan terasa nyeri dan ngilu. Untunglah saudara serumah amat bijak. Selain memberi asupan vitamin dan makanan, mereka memberi saya susu Ultra Milk dicampur madu dan telur ayam kampung. Saya merasa kesehatan saya membaik dan bisa kembali bekerja dengan normal.

Demikianlah kisah kesetiaan saya dengan Ultra Milk. Sejak usia 7 tahun hingga 27 tahun (20 tahun), saya dan susu Ultra Milk sudah berteman. Lima tahun lagi, kami akan merayakan pesta perak persaudaraan. He he he. Saat ini, saya juga sudah cukup rutin mengonsumsi 'saudara' dari Ultra Milk, yakni Ultra Sari Kacang Ijo, yang juga merupakan minuman kesehatan yang diolah dengan UHT.

Itulah sekelumit kisah tentang pilihan sehat saya. Terima kasih Ultra Milk dan sampai jumpa besok, besok, dan besoknya lagi.

Agustian Ganda Putra Sihombing, Pemenang Lomba Karya Tulis Ultra Milk,

(ads/ads)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT