Kolom

Pariwisata dan Ancaman Kesehatan Global

Harpiana Rahman - detikNews
Rabu, 19 Jan 2022 13:30 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Alih-alih liburan, nyatanya dilansir dari laporan Kemenkes, perjalanan luar negeri berkontribusi terhadap penemuan dan peningkatan kasus COVID-19 varian Omicron. Meski travel warning dikeluarkan, kebutuhan wisata nyatanya sulit dibendung. Wisatawan dari kalangan ekonomi menengah ke atas seperti youtuber ternama, selebgram, keluarga selebriti yang mampu memenuhi syarat administrasi, pembiayaan dan karantina, tetap berani melakukan perjalanan wisata luar negeri.

Lalu, bagaimana memenuhi kebutuhan pariwisata di tengah krisis kesehatan global? Konsep kesehatan pariwisata yang diterjemahkan melalui perbaikan infrastruktur destinasi wisata, kebijakan karantina, sertifikat CHSE, nyatanya belum cukup kuat untuk menghadapi ancaman kesehatan global. Dalam hal ini, penting sekali membangun persepsi wisatawan dan pelaku usaha wisata seperti agen travel dan pramuwisata, terkait risiko penyakit yang akan dijumpai saat berwisata.

Persepsi terhadap risiko penyakit yang tepat tidak hanya mempengaruhi keputusan wisatawan dalam memilih destinasi, namun juga mampu mengontrol perilaku berisiko wisatawan. Hal ini diperlukan, mengingat COVID-19 bukanlah satu-satunya penyakit yang menjadi ancaman kesehatan global.

Dua Sisi Mata Uang

Aktivitas wisata dan penyebaran penyakit seperti dua sisi mata uang. Perubahan iklim serta peningkatan mobilitas manusia dari satu daerah ke daerah lainnya dengan perilaku berisiko yang tidak terkendali membawa dampak kesehatan masyarakat. Bukan hal mustahil, liburan atau destinasi wisata menjadi sumber penularan penyakit.

Dalam sektor ekonomi, pariwisata dipandang sebagai sektor terdampak atas pandemi yang harus segera dipulihkan. Namun dalam kesehatan masyarakat, pariwisata justru adalah faktor risiko sumber penularan penyakit yang secara epidemiologi mempengaruhi laju penyebaran penyakit. Sehingga harus dikendalikan melalui pembangunan kesehatan pariwisata yang berperspektif pencegahan penyakit.

Bukan kali pertama, kemunculan wabah bersimbiosis dengan aktivitas wisata. Wabah MERS-Cov di Korea Selatan pernah mengakibatkan penurunan devisa pariwisata. Wabah SARS yang merebak di beberapa negara menghantam sektor pariwisata di Vietnam, China, Hong Kong, dan Singapura. Studi Problematika Penyakit Pribumi bagi Para Wisatwan Asing di Manado dalam Jurnal Instisari Sains Medis bahkan menemukan telah terjadi penularan beberapa penyakit infeksi seperti diare dan ISPA dari masyarakat lokal ke wisatawan di Manado yang menyebabkan turunnya kunjungan wisatawan asing pada 2010 hingga 2011.

Memasuki tahun 2022, meski situasi pandemi dinilai kian membaik, pelonggaran aktivitas wisata lintas negara diikuti dengan meningkatnya temuan kasus baru COVID-19 varian Omicron di berbagai negara. Kementerian Kesehatan juga melaporkan beberapa temuan kasus baru COVID-19 varian Omicron di Indonesia. Penemuan kasus bersamaan dengan laporan Kemenparekraf yang menyebutkan sebanyak 3000 orang per hari tinggalkan Indonesia untuk traveling.

Travel disease atau penyakit yang muncul akibat aktivitas bepergian adalah masalah laten dalam pariwisata. Tingginya interaksi dan cepatnya mobilitas dalam aktivitas wisata memungkinkan aktivitas wisata menjadi sumber penularan travel disease. Risiko terinfeksi tergantung pada tujuan destinasi, standar kebersihan, dan yang paling utama adalah perilaku wisatawan. Indonesia sebagai negara dengan tujuan destinasi favorit juga memiliki risiko penyakit yang harus diperhitungkan.

Beberapa daerah destinasi favorit wisatawan lokal dan wisatawan luar negeri adalah daerah dengan status endemis penyakit menular tertentu. Bali adalah daerah wisata dengan status endemis rabies. Disusul tiga daerah di wilayah Indonesia bagian timur. Papua, Nusa Tengara Timur, dan Papua Barat adalah daerah tujuan wisata popular yang masih berstatus endemis malaria. Perjalanan wisata ke daerah endemis tentu berisiko memunculkan wabah jika tidak disertai dengan kewaspadaan pelaku wisata. Sehingga penting sekali meningkatkan literasi wisatawan yang masuk ataupun keluar Indonesia terkait travel disease.

Tak Cukup Hanya Sertifikat

Pariwisata bak buah simalakama. Sisi lain menjadi penyumbang devisa negara, di sisi lain mengancam kesehatan masyarakat. Namun membangun pariwisata dengan tetap membawa misi kesehatan masyarakat bukan hal mustahil. Narasi kesehatan pariwisata dimunculkan sebagai konsep pariwisata yang mensyaratkan adanya kegiatan kesehatan masyarakat dalam tata kelola pariwisata.

Kegiatan kesehatan masyarakat dalam pariwisata bertujuan untuk melindungi wisatawan dan pelaku usaha wisata dari penularan travel disease. Salah satu bentuk perlindungan kesehatan masyarakat kepada wisatawan dan pelaku usaha wisata adalah pelaksanaan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability) di industri pariwisata. CHSE adalah upaya memberikan jaminan kesehatan, kebersihan, keselamatan kepada wisatawan saat melakukan aktivitas wisata.

Capaian program ini adalah pemberian sertifikat kepada lokasi wisata yang menandakan lokasi wisata telah memenuhi unsur dalam CHSE. Namun program ini dinilai hanya menitikberatkan partisipasi pada pengelola tempat wisata. Sementara keberhasilan kesehatan pariwisata juga sangat bergantung pada perilaku wisatawan.

Wisatawan membutuhkan informasi kesehatan yang tidak hanya menjaga diri sendiri tapi juga menjaga orang lain dari penularan penyakit. Penelitian kesehatan masyarakat di Bali pada 2019 mengungkapkan bahwa pemberian informasi kesehatan kepada wisatawan terkait pencegahan rabies, diare di Bali meningkatkan kewaspadaan wisatawan dalam menjalankan aktivitas liburan dengan menghindari perilaku beresiko tertular penyakit. Semakin sering individu terpapar informasi, semakin tinggi kewaspadaan individu untuk menjaga kesehatan

Dalam kesehatan pariwisata, tenaga kesehatan masyarakat berperan dalam manajemen promosi kesehatan. Peran pertama kesehatan masyarakat dalam upaya memastikan pelaku usaha wisata mengetahui risiko perjalanan dan mampu menyampaikan risiko bepergian kepada wisatawan.

Kedua, melakukan health impact assessment agar gejala sakit yang timbul saat dan setelah berwisata terlacak, melakukan hazard identification, serta menerapkan risk assessment and determining control (HIRADC) pada lokasi wisata dan hal-hal yang berhubungan dengan aktivitas wisata. Pelacakan ini bertujuan sebagai bagian dalam kegiatan surveilans untuk menciptakan wisata yang sehat.

Ketiga, peningkatan pemahaman terhadap semua jenis vaksinasi dan lokasi wisata yang endemi. Sudah saatnya kegiatan kesehatan masyarakat mulai dari promosi kesehatan, perlindungan spesifik seperti vaksin, diagnosis dini, hingga rehabilitatif masuk dalam tata kelola aktivitas wisata. Mustahil mencita-cita kesehatan pariwisata tanpa ada peran kolaboratif antara tenaga pariwisata dan tenaga kesehatan masyarakat.

Gagasan kesehatan masyarakat dalam tata kelola pariwisata mungkin saja terlihat muluk, namun hanya dengan gagasan tersebutlah kita bisa berpelancong dengan aman, nyaman, dan sehat.

Harpiana Rahman dosen Kesehatan Masyarakat bidang Promosi Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia

(mmu/mmu)