Kolom

Meneropong Ketunarunguan di Indonesia

Eka Kurnia Hikmat - detikNews
Rabu, 08 Des 2021 12:19 WIB
ilustrasi telinga
Ilustrasi: thinkstock
Jakarta -

Aksi Menteri Sosial Tri Rismaharini yang meminta seorang tunarungu untuk berbicara menerbitkan kontroversi dan kritik. Bu Risma melakukannya ketika menghadiri rangkaian peringatan "Hari Disabilitas Internasional", 1 Desember lalu. Kontan saat itu juga Stefan dari Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) merespons Bu Risma. Stefan meminta Bu Risma agar tidak meminta seorang tunarungu berbicara.

Soal ini adalah hal yang sensitif, berkaitan dengan perbedaan kemampuan dan pilihan individu. Peristiwa ini seyogianya menjadi sarana edukasi terkait ketunarunguan. Seperti apa masalah ketunarunguan di negeri kita? Da,n apa dukungan yang diperlukan penyandang tunarungu?

Praktik di Negara Maju

Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Early Hearing Detection and Intervention (EHDI) atau Deteksi dan Intervensi Pendengaran Dini diimplementasikan. EHDI dipraktikkan dengan menskrining kemampuan mendengar semua bayi yang baru lahir sebelum mereka keluar dari rumah sakit tempat mereka dilahirkan. Ini dilakukan paling lambat ketika bayi-bayi tersebut berusia satu bulan. EHDI merupakan program pemerintah sehingga bisa didapatkan orangtua secara gratis.

Bagi bayi yang tidak lulus skrining pendengaran, dilakukan pemeriksaan diagnostik secara lengkap dan menyeluruh selambatnya saat bayi-bayi tersebut berusia tiga bulan. Diagnosis itu antara lain untuk mengetahui tingkat gangguan pendengarannya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan derajat gangguan dengar ke dalam empat kategori. Tingkat gangguan dengar 26-40 dB masuk ke dalam kategori ringan (mild), 41-60 dB kategori sedang (moderate), 61-80 dB kategori berat (severe), dan 81 dB ke atas kategori berat sekali (profound). Evaluasi diagnostik lengkap ini pun program pemerintah, sehingga tidak perlu bayar alias gratis.

Hasil evaluasi diagnostik lengkap yang berisi tingkat, jenis, penyebab, dan hal-hal lain terkait gangguan dengar seorang bayi yang telah melalui serangkaian tes ini lalu diinformasikan kepada orangtuanya. Setelah itu mereka diberi informasi mengenai apa saja pendekatan komunikasi yang tersedia untuk bayi mereka.

Ada pendekatan komunikasi yang lebih banyak menggunakan modalitas visual seperti misalnya bahasa isyarat dan membaca bibir. Ada juga pendekatan komunikasi yang bersifat auditory-verbal, yaitu mendengar dan berbicara. Orangtua diberi kesempatan untuk bertemu para ahli yang mewakili berbagai macam pendekatan komunikasi yang tersedia. Dengan cara itu orangtua mendapat informasi yang memadai. Alhasil dapat memilih pendekatan komunikasi yang paling sesuai untuk kondisi dan kebutuhan keluarga mereka.

Bagi orangtua yang memilih pendekatan komunikasi visual seperti bahasa isyarat dan membaca bibir, mereka diberi akses secara gratis untuk mendapatkan pelatihan terkait sehingga kemudian dapat mengajarkannya kepada anak mereka. Kelak pada waktunya mereka juga akan mengajarkan keterampilan baca tulis sehingga anak mereka nanti juga dapat berkomunikasi melalui tulisan.

Di dunia, jumlah orang yang bisa berbahasa isyarat maupun membaca bibir masih terbatas. Tapi banyak yang bisa membaca dan menulis sehingga dengan keterampilan berkomunikasi melalui tulisan, anak-anak ini akan dapat berkomunikasi dengan siapapun dengan lebih mudah.

Karena itu sikap inklusif kepada penyandang tunarungu menjadi niscaya. Di antaranya dapat ditunjukkan dengan memberikan mereka kesempatan untuk mengekspresikan diri, menyampaikan pendapat dan berkomunikasi melalui tulisan.

Keluarga yang memilih pendekatan komunikasi mendengar dan berbicara untuk anak mereka yang tunarungu, anaknya diberi teknologi pendengaran secara gratis oleh pemerintah sesuai dengan tingkat gangguan dengarnya. Anak dengan tingkat gangguan dengar ringan hingga sedang diberikan alat bantu dengar yang dipasangkan di luar telinganya.

Sementara anak dengan tingkat gangguan dengar berat hingga berat sekali diberikan implan rumah siput yang terdiri dari dua bagian. Pertama, bagian luar yang dipasang di luar telinga. Kedua, bagian dalam yang dipasang di telinga bagian dalam melalui proses operasi. Biaya pemasangan dan pen-setting-an alat bantu dengar maupun implan rumah siput pun ditanggung pemerintah.

Berbagai penelitian yang dirangkum dalam Mission Probable White Paper (Hearing First, 2019) menyebutkan, kesuksesan mendengar, berbicara, dan berbahasa secara lisan yang paling optimal dapat diraih jika bayi tunarungu dengan gangguan dengar ringan hingga sedang dipakaikan alat bantu dengar sejak usia 3-6 bulan.

Adapun bayi tunarungu dengan gangguan dengar berat hingga berat sekali jika dipakaikan implan rumah siput sejak usia 6-9 bulan. Setiap 6 bulan penundaan pemasangan dari waktu optimal tersebut menunjukkan perbedaan hasil pencapaian mendengar, berbicara dan berbahasa lisan yang sangat signifikan.

Perlu diingat teknologi pendengaran berupa alat bantu dengar dan implan rumah siput hanya membantu penyandang tunarungu untuk mendengar ketika dalam situasi sunyi (tidak bising dan bergema). Kemudian jarak dengan orang yang berbicara cukup dekat. Dan jika teknologi pendengaran tersebut sudah mulai dipakai sejak usia dini atau tidak lama setelah mulai mengalami gangguan jika gangguan dengarnya bukan didapatkan sejak lahir.

Pada situasi-situasi bising, bergema dan jarak antara penyandang tunarungu dan orang yang berbicara cukup jauh, penyandang tunarungu juga perlu menggunakan alat penunjang pendengaran berupa mikrofon jarak jauh seperti Personal FM System. Di negara-negara maju, alat ini pun disediakan pemerintah secara gratis. Jadi teknologi pendengaran plus mikrofon jarak jauh.

Setelah menggunakan teknologi pendengaran sesuai kebutuhan mereka, anak-anak tunarungu ini mengikuti Auditory-Verbal Therapy bersama orangtua mereka dengan dipandu oleh Listening and Spoken Language Specialist Certified Auditory-Verbal Therapist (LSLS Cert. AVT) atau Spesialis Pendengaran dan Bahasa Lisan Terapis Auditory-Verbal Bersertifikat.

Dalam sesi Auditory-Verbal Therapy, orangtua mempelajari teknik dan strategi untuk menstimulasi kemampuan mendengar, berbicara dan berbahasa lisan anak mereka. Perlu diketahui, menggunakan teknologi pendengaran tidak seperti menggunakan kacamata yang tinggal dipakai saja. Sebaliknya membutuhkan latihan yang benar dan terus menerus dan diintegrasikan dalam kegiatan sehari-hari.

Tidak jarang terjadi anak tunarungu menggunakan teknologi pendengaran sesuai kebutuhan sejak usia dini, namun karena tidak distimulasi dengan benar oleh orangtuanya, kemampuan mendengar, berbicara, dan berbahasa lisannya tidak berkembang. Auditory-Verbal Therapy yang dilakukan selama sejam per minggu hingga kemampuan mendengar, berbicara dan berbahasa lisan anak telah sesuai dengan usia mereka pun biayanya ditanggung oleh pemerintah. Hasilnya melegakan karena mayoritas anak tunarungu yang menggunakan teknologi pendengaran yang lulus program Auditory-Verbal Therapy dapat bersekolah di sekolah umum.

Semua penyandang tunarungu, terlepas dari pendekatan komunikasi apapun yang mereka pilih dan gunakan, membutuhkan bantuan visual untuk dapat mengakses informasi secara lengkap dan menyeluruh. Pemerintah di negara-negara maju memiliki kebijakan-kebijakan yang mendukung hal ini. Misalnya dengan mewajibkan tempat-tempat, kegiatan maupun media massa untuk menyertakan informasi yang bersifat auditori dengan media yang bersifat visual.

Stasiun televisi, misalnya, diwajibkan menyediakan closed-captioning (teks dari apapun yang sedang diucapkan dan dibunyikan pada sebuah program televisi). Ini pun pemakaiannya bersifat opsional sehingga pemirsa televisi yang membutuhkan terfasiltasi. Dan, yang tidak membutuhkan dapat men-setting-nya agar tidak terlihat di layar televisi mereka. Contoh lainnya penyediaan juru bahasa isyarat, note taker (pencatat), PowerPoint, papan-papan pengumuman dan penunjuk lokasi yang bersifat visual di sekolah dan kampus.

Intervensi dini bagi bayi tunarungu, apapun pendekatan komunikasi yang dipilih keluarganya, di negara maju dimandatkan agar dimulai selambatnya saat mereka berusia enam bulan. Dengan program deteksi dan intervensi dini gangguan pendengaran seperti ini, peluang penyandang tunarungu untuk dapat meraih kemampuan bahasa sesuai usia mereka, meraih pendidikan setinggi-tingginya dan memiliki profesi yang sesuai minat dan bakat mereka menjadi jauh lebih besar.

Strategi pemerintah di negara maju seperti ini membuat penyandang tunarungu bisa lebih mandiri. Dengan cara itu, saat dewasa mereka dapat menjadi warga negara yang produktif dan tidak menjadi beban pemerintah. Investasi pemerintah yang diberikan di masa-masa awal kehidupan bayi tunarungu tidak seberapa jika dibandingkan biaya yang perlu pemerintah keluarkan jika bayi-bayi ini tidak dideteksi dan diintervensi dini lalu saat dewasa menjadi pengangguran dan menjadi beban tanggungan pemerintah.

Belum Diterapkan

Kebijakan pemerintah di negara maju terkait deteksi dan intervensi dini pendengaran seperti yang telah dibahas di atas belum diterapkan di negara kita. Program Universal Newborn Hearing Screening (Skrining Pendengaran Bayi Baru Lahir Universal) belum diimplementasikan. Masuk akal jika rata-rata diagnosis ketunarunguan anak didapatkan orangtua secara terlambat. Karena terdiagnosis lambat, intervensi pun diberikan secara terlambat dan seringkali baru pada usia-usia ketika perkembangan otak anak sudah tidak lagi berada pada masa emasnya. Karena terlambat diagnosis dan intervensi, hasil yang dicapai tidak maksimal.

Masalah lain, dan cukup membebani, orangtua mesti menanggung biaya skrining yang nilainya beberapa ratus ribu rupiah. Evaluasi diagnostik lengkap gangguan pendengaran sebenarnya telah ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Tapi belum banyak orangtua anak tunarungu yang mengetahui bagaimana cara mendapatkannya. Selain itu hanya sedikit rumah sakit di Indonesia yang memiliki fasilitas skrining pendengaran dan pemeriksaan diagnostik gangguan pendengaran yang lengkap.

Sejauh ini publik, terutama orangtua anak tunarungu belum mendapat cukup edukasi tentang apa yang harus mereka lakukan untuk anak mereka jika anak mereka terdiagnosis memiliki gangguan pendengaran. Orangtua tidak mengetahui bahwa anaknya perlu diajarkan bahasa segera agar semua aspek perkembangan lainnya juga dapat berkembang dengan maksimal. Mereka tidak mengetahui pilihan-pilihan pendekatan komunikasi yang tersedia untuk anak mereka. Alhasil mereka tidak dapat memilih pendekatan komunikasi yang paling sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sang anak dan keluarga.

Teknologi pendengaran berupa alat bantu dengar untuk gangguan dengar ringan hingga sedang harganya berkisar dari jutaan hingga puluhan juta rupiah per buah. BPJS Kesehatan baru meng-cover sebesar satu juta rupiah. Sisanya harus dibayar orangtua. Akibatnya banyak orangtua anak tunarungu yang tidak sanggup membeli alat bantu dengar untuk anak-anak mereka.

Teknologi pendengaran berupa implan rumah siput untuk tingkat gangguan dengar berat hingga berat sekali harganya lebih mahal lagi, yaitu dimulai dari ratusan juta rupiah. Dan, karena pemerintah belum menanggungnya, hanya orangtua anak tunarungu yang secara ekonomi cukup berada atau yang mendapat bantuan dari donatur yang dapat membelinya.

Karena harga implan rumah siput masih mahal, tidak sedikit penyandang tunarungu yang memiliki tingkat gangguan dengar berat hingga berat sekali--yang sebenarnya memerlukan implan rumah siput--hanya mampu menggunakan alat bantu dengar. Konsekuensinya mereka tidak dapat mengakses semua spektrum ucapan yang diperlukan untuk dapat mendengar, berbicara dan berbahasa secara lisan.

Catatan lainnya, operasi implan rumah siput telah ditanggung BPJS Kesehatan. Tapi dengan satu keterbatasan: rumah sakit yang dapat melakukan operasi ini masih sangat terbatas. Di negara kita orangtua masih perlu merogoh kantong sendiri untuk mendapatkan alat penunjang pendengaran berupa mikrofon jarak jauh seperti Personal FM System.

Habilitasi pendengaran berupa Auditory-Verbal Therapy bagi keluarga anak tunarungu yang memilih pendekatan komunikasi mendengar dan berbicara masih tidak banyak diketahui publik. Mereka yang mengetahuinya juga tidak serta merta dapat dengan gampang mengaksesnya karena kurangnya tenaga ahli dalam bidang ini. Sebab Certified Auditory-Verbal Therapist di Indonesia masih sangat langka. Dan, praktisi yang disupervisi oleh pemilik sertifikat itu jumlahnya masih sangat terbatas, sementara kebutuhan akan Auditory-Verbal Therapy sangat tinggi.

Itulah mengapa tidak sedikit anak yang sudah menggunakan teknologi pendengaran yang sesuai dengan kebutuhan sejak dini, namun perkembangan mendengar, berbicara, dan berbahasa lisannya tidak optimal karena tidak mendapat panduan dari tenaga ahli.

Masalah lainnya, tempat-tempat, kegiatan, dan media massa yang diperuntukkan kepada publik di Indonesia banyak yang belum ramah tunarungu. Informasi-informasi yang bersifat auditori banyak yang belum disertai dengan media yang bersifat visual sehingga banyak informasi yang tidak dapat diakses oleh penyandang tunarungu.

Merekrut Ahli

Pejabat publik dan pemangku kebijakan yang karena kegiatan dan kebijakannya bakal mempengaruhi penyandang tunarungu sebaiknya merekrut ahli yang mewakili masing-masing pendekatan komunikasi dari berbagai komunitas tunarungu. Dengarkan do and don'ts (apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan) dari mereka. Ajak mereka untuk menginformasikan pekerjaan rumah-pekerjaan rumah dari komunitas masing-masing.

Lalu dengan melibatkan mereka, buat rencana bertahap untuk menggarap PR-PR tersebut. Prioritaskan untuk menangani hal yang paling penting, mendesak dan memungkinkan untuk dilakukan sebelum menangani PR-PR lainnya. Kita bermimpi apa yang dilakukan negara maju, menyangkut diagnosis dan intervensi dini kepada anak-anak tunarungu diadaptasi di negeri kita. Kalau tidak seluruhnya, paling tidak sebagian, untuk mengurangi beban masalah di masa depan yang timbul karena negara kurang hadir dan kurang punya solusi efektif atas masalah ketunarunguan sejak dini.

Eka Kurnia Hikmat, BPsy, MSpecEd, LSLS Cert. AVT Direktur Eksekutif Rumah Siput Indonesia Hearing (Re)habilitation and Training Center, Listening and Spoken Language Specialist Certified Auditory-Verbal Therapist pertama di Indonesia

(mmu/mmu)